1-10 Muharram: Saatnya Memulai Hijrah dari Hal yang Paling Dekat

1-10 Muharram: Saatnya Memulai Hijrah dari Hal yang Paling Dekat

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – 1 Muharram selalu hadir dengan cara yang tenang. Tidak semeriah pergantian tahun Masehi yang dipenuhi hitung mundur dan pesta. Namun mungkin justru di situlah maknanya.

Tahun Baru Islam terasa seperti jeda singkat yang mengajak kita menoleh ke belakang dan bertanya, ke mana arah hidup telah membawa kita selama setahun terakhir.

Ketika mendengar kata hijrah, banyak orang membayangkan perubahan besar: berpindah lingkungan, mengubah penampilan, atau meninggalkan sesuatu secara drastis.

Padahal dalam kehidupan sehari-hari, hijrah sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana dan nyaris tak terlihat.

Memperbaiki salat yang kerap tertunda, lebih berhati-hati dalam berbicara, mengatur waktu dengan lebih baik, atau kembali menyambung silaturahmi yang sempat renggang.

Langkah-langkah kecil semacam ini mungkin tampak biasa, tetapi sering menjadi awal dari perubahan yang lebih bermakna.

Muharram termasuk bulan yang dimuliakan dalam Islam. Di bulan ini, umat Islam diingatkan bahwa setiap ikhtiar kebaikan memiliki nilai yang besar di sisi Allah.

Puasa Asyura pada 10 Muharram, misalnya, menjadi salah satu amalan yang dianjurkan dan memiliki keutamaan yang luar biasa. Pesan yang dapat ditangkap adalah bahwa Allah membuka banyak ruang bagi hamba-Nya untuk kembali dan memperbaiki diri, tanpa harus menunggu menjadi sempurna terlebih dahulu.

Dalam kenyataan sehari-hari, perubahan sering tertunda karena kita menunggu waktu yang tepat atau motivasi yang cukup. Padahal tidak jarang semangat justru tumbuh setelah langkah pertama diambil.

Mungkin karena itu, datangnya 1 Muharram terasa relevan sebagai pengingat bahwa kesempatan untuk memperbaiki diri selalu tersedia selama kehidupan masih berjalan.

Tahun Baru Islam dapat dimaknai lebih dari sekadar ucapan selamat yang lewat di media sosial. Ia bisa menjadi momentum untuk merenungkan satu hal yang ingin diperbaiki, sekecil apa pun itu.

Sebab perubahan tidak selalu diukur dari seberapa jauh seseorang melangkah, melainkan dari kesadaran untuk memilih arah yang lebih baik dan kesediaan untuk memulainya. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : IGA KUMARIMURTI DWIA ( PEMRED HARIAN.NEWS)