3 Kartu Merah di Laga Pembuka Piala Dunia

Meksiko vs Afrika Selatan: 3 Pemain Diusir
HARIAN.NEWS, JAKARTA – Laga pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan di Estadio Azteca tidak hanya berakhir 2-0 untuk kemenangan tuan rumah. Lebih dari itu, pertandingan ini mencatatkan sejarah baru dalam turnamen empat tahunan tersebut.
Wasit asal Brasil, Wilton Pereira Sampaio, mengeluarkan tiga kartu merah sepanjang 90+ menit.
Jumlah ini menjadi yang terbanyak dalam satu laga pembuka sepanjang sejarah Piala Dunia.
Tiga pemain harus meninggalkan lapangan lebih cepat:
1. Sphephelo Sithole (Afrika Selatan) – menit 50, karena DOGSO (Denial of an Obvious Goal-Scoring Opportunity) atau menggagalkan peluang mencetak gol yang jelas.
2. Themba Zwane (Afrika Selatan) – menit 84, setelah tinjauan VAR terbukti memukul wajah lawan.
3. Cesar Montes (Meksiko) – menit 90+2, juga karena DOGSO.
Dua kartu merah untuk Afrika Selatan dalam satu pertandingan menjadikan mereka tim pertama yang mengalaminya sejak Portugal vs Belanda di Piala Dunia 2006 (babak 16 besar).
Potensi Lampaui Rekor Piala Dunia 2006?
Satu laga pembuka sudah menghasilkan 3 kartu merah. Sebagai perbandingan, total kartu merah di Piala Dunia 2018 dan 2022 masing-masing hanya 4 kartu. Artinya, hanya dalam satu pertandingan, Piala Dunia 2026 sudah mengoleksi 75% dari total dua edisi terakhir.
Berikut tren kartu merah enam edisi terakhir:
– 2002: 16 kartu merah
– 2006: 28 kartu merah (rekor)
– 2010: 17
– 2014: 10
– 2018: 4
– 2022: 4
Dengan format baru 48 tim dan jumlah pertandingan lebih banyak, Piala Dunia 2026 berpeluang melampaui rekor 28 kartu merah edisi 2006.
Aturan Baru FIFA & Peran VAR
FIFA menerapkan regulasi disiplin lebih ketat, termasuk sanksi tegas terhadap diskriminasi dan protes berlebihan. Teknologi VAR kembali menjadi sorotan – dua dari tiga kartu merah lahir setelah wasit meninjau monitor.
Wilton Pereira Sampaio dinilai berani dan tegas. Meski laga panas, keputusannya didukung bukti video.
Jika tren ini berlanjut, Piala Dunia 2026 akan dikenang sebagai edisi paling keras dalam sejarah modern. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG