BKKBN Sulsel Ungkap Kasus Stunting di Jeneponto Masih Paling Tinggi, Barru Justru Menurun Drastis

MAKASSAR,HARIAN.NEWS – Pemerintah Kabupaten Jeneponto kini harus putar otak dalam menangani kasus Stunting (Tumbuh Kembang) bagi generasi penerusnya yang sejak beberapa tahun ini masih belum menunjukkan angka penurunan penderita balita kurang sehat di wilayah berjuluk Butta Turatea itu.
Berita miris ini dikabarkan langsung oleh Kepala Perwakilan BKKBN Sulsel, Shodiqin dikantornya saat menggelar jumpa pers bersama para wartawan.Rabu, (2/8/2023) kemarin.
Shodiqin bilang penyebab angka penurunan kasus Stunting di Provinsi Sulsel masih sedikit itu salah satu faktornya adalah masih ada beberapa Kabupaten/Kota masih belum bisa menekan kasus yang kini menjadi fokus utama Presiden Jokowi tersebut.
Stunting diduga terus terjadi di Kabupaten Jeneponto. Sebab, kini angka penderitanya belum menunjukkan perubahan yang signifikan dalam menekan angka penderita balita kurang sehat di sana mencapai 39,8 persen sejak tahun 2021.
“Yaitu daerah paling tertinggi di Sulawesi Selatan masih di (pegang) Kabupaten Jeneponton,” ucap Shodiqin kemarin.
Disinyalir, penurunan angka kasus Stunting di Sulsel yang hanya sedikit itu berkisar 2 persen dari angka penderita per tahun 2022 yakni 27,2 persen dan turun hanya sekitar 2 persen lebih saja tersebut disumbang oleh Kabupaten Jeneponto.
“Dan ternyata dari 27,2 persen Stunting teritinggi itu masih ada (daerah) yang menyentuh angka 39,8 persen,” sambungnya.
Berbanding terbalik dengan kasus Stunting di Kabupaten Barru. Yang sejak diluncurkannya program unggulan BKKBN Sulsel hasilnya cukup memuaskan.
Pada tahun 2021 Kabupaten Barru menunjukkan angka sekitar 26,4 persen kasus Stunting. Di tahun 2023 angka itu turun drastis menjadi 14,1 persen dan itu menjadikan Kabupaten Barru berada di posisi paling bontot (bawah) dalam menangani kasus penderita balita yang kekurangan gizi tersebut.
“Yang terendah itu ada di Kabupaten Barru,” pungkasnya.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : Yusuf