BPJS dan Jerit Senyap yang Luput

BPJS dan Jerit Senyap yang Luput

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Membayar iuran BPJS bagi masyarakat bukan berarti menjamin kesehatan dengan optimal. Meskipun terkesan gratis perawatan rumah sakit, namun setiap membayar iuran ada beban biaya yang besar dibalik itu.

Pendapatan harian yang tergerus, transportasi bolak balik, pengasuhan anak yang terbengkalai, makanan tambahan dan biaya sosial yang luput dari pencatatan akuntansi negara.

Dampak psikologis menjalani hidup dengan tekanan finansial tentu menimbulkan kecemasan bagi individu yang mengalami.

Terdengar seperti ada kekhawatiran tentang sistem BPJS yang dirasa tidak adil atau manfaatnya tidak merata. BPJS Kesehatan adalah program jaminan kesehatan yang dikelola oleh pemerintah untuk memberikan perlindungan kesehatan kepada masyarakat.

Namun, seperti sistem lainnya, pasti ada tantangan dan perbaikan yang perlu dilakukan.
Banyak peserta BPJS merasa bahwa sistem ini masih jauh dari kata sempurna. Di satu sisi, BPJS adalah wujud nyata solidaritas sosial: yang mampu membantu yang lemah, yang sehat membantu yang sakit.

Namun di sisi lain, implementasi di lapangan sering kali tidak seindah konsepnya. Antrian panjang di rumah sakit, ketersediaan obat yang terbatas, hingga perbedaan perlakuan antara pasien umum dan pasien BPJS masih menjadi luka yang belum sembuh.

Ketimpangan pelayanan ini menimbulkan rasa ketidakadilan sosial, seolah-olah mereka yang taat membayar iuran tetap harus berjuang dua kali, pertama melawan sakit, kedua melawan sistem.

Ditengah segala keterbatasan itu, muncul pertanyaan mendasar, “apakah negara benar-benar hadir dalam menjamin kesehatan warganya atau sekadar hadir bentuk potongan iuran bulanan.

Transparansi dana, efisiensi layanan serta pengawasan terhadap rumah sakit dan fasilitas kesehatan menjadi hal yang mendesak untuk dibenahi. Tidak cukup dengan memperluas kepesertaan tetapi juga memastikan kualitas yang setara bagi semua warga.

BPJS hadir dengan semangat gotong royong. Namun akan kehilangan roh jika sebagian pihak merasa jadi korban sistem yang seharusnya melindungi.

Dibalik kartu BPJS yang diselipkan di dompet rakyat ada harapan besar, agar mereka tidak menukar kesehatannya dengan kelelahan dan antrean yang tak berujung. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)