BTN Jembatan Asa Perempuan Pekerja Miliki Rumah Impian
“Saya sudah sering mengajukan KPR dan selalu gagal, hingga akhirnya Bank BTN yang mewujudkan impian saya untuk memiliki rumah.”
HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Gelap malam mulai menyapa saat saya tiba di Perumahan Tambora Land 3, Tamanyeleng Barombong, Kabupaten Gowa, Minggu (22/02/2026). Suasananya tenang. Komplesnya asri dan tertata rapi. Deretan rumah terlihat kokoh dan seragam disepanjang jalan yang bersih.
Lampu teras menyala temaram, memantulkan cahaya kekuningan di atas paving. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah sehabis hujan. Malam itu, riuh warga dan anak-anak terdengar saling bersahutan, hingga akhirnya saya berhenti persis di depan rumah Nur Suhra Wardiyah, perempuan pekerja media di Makassar.
Oshin (begitu ia biasa disapa) sedang duduk di meja makan saat saya tiba. Ia melempar senyum hangat, menumbuhkan kesan menyambut dan ramah. Malam itu, Oshin mengenakan mukena hijau bercorak bunga.
“Bagus rumahku toh?” ujarnya, memecah sunyi dengan logat khas Makassar. Oshin memperkenalkan rumah tipe 36 yang berhasil ia miliki usai menjalani proses yang cepat dan mudah. “Rumah ini hasil kerja keras dan keberanian. Hasilnya sangat memuaskan,” ucapnya sambil tertawa.
Bagi Oshin, rumah bukan hanya bangunan sederhana di sebuah kompleks perumahan. “Rumah itu tempat kembali.” Tempat beristirahat setelah lelah bekerja, tempat menyusun rencana, sekaligus ruang aman untuk menenangkan diri.
“Memiliki rumah sendiri, adalah tanda melangkah ke fase baru. Lebih dewasa secara finansial maupun emosional.”
Lebih dalam, Oshin bercerita perjuangannya meraih mimpi memiliki rumah. Namun perjalanan menuju titik itu tidak sepenuhnya mulus. Saat memulai proses pembiayaan, ia sempat dihantui keraguan. Sebab, pengalaman mengajukan kredit sebelumnya membuatnya khawatir akan kembali menghadapi prosedur panjang, berbelit dan berujung tanpa kepastian .
Hingga akhirnya ia meyakinkan diri dan mencari informasi yang tepat dan dibantu pihak pengembang untuk mengajukan pembiayaan melalui Bank Tabungan Negara (BTN). Sejak awal, ia mengaku prosesnya terasa lebih jelas dan terarah. Persyaratan yang diminta juga tidak rumit, data yang dibutuhkan pun standar.
“Kami betul-betul dimintai data yang tidak ribet,” kenangnya. Memang sempat ada kendala kecil pada administrasi, tetapi menurutnya itu bukan pada sistem bank, melainkan pada penyesuaian dokumen pribadinya. Setelah itu, proses berjalan relatif cepat.
Tak sampai sebulan, kabar persetujuan datang. Bagi Oshin, momen itu seperti membuka pintu harapan baru bagi hidupnya. Ia masih mengingat rasa haru ketika mengetahui pengajuannya disetujui.
“Saya sudah sering mengajukan KPR dan selalu gagal, hingga akhirnya Bank BTN yang mewujudkan impian saya untuk memiliki rumah sendiri.”
Oshin juga menceritakan proses mudah yang ia jalani setelah pengajuannya disetujui.“Di BTN, sejak awal pembukaan rekening, saya langsung dibuatkan dua rekening: satu untuk pembayaran komersial atau konvensional, dan satu lagi untuk program BTN Haji,” bebernya.
Akun mobile banking pun otomatis diaktifkan kata Oshin. Semua dirancang praktis, tanpa harus kembali ke kantor cabang hanya untuk mengurus hal-hal teknis.
Kini, setiap bulan Oshin cukup mentransfer dana sesuai jumlah angsuran melalui mobile banking. Sistem akan menarik otomatis pembayaran tersebut. Tidak ada antrean panjang, tidak ada proses yang memakan waktu. Oshin juga bisa mengatur keuangan bulanannya dengan praktis.
“Kemudahan inilah yang menurutku menjadi wujud inovasi dan layanan yang menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pekerja seperti saya.”
Berkat kemudahan yang diberikan BTN kepada nasabahnya, Oshin merasa sangat terbantu. Ia juga bisa membuat banyak hal dengan punya rumah sendiri. Misalnya jualan online, hingga berkumpul bersama keluarganya tanpa harus terhalang jarak kantor tempatnya bekerja.
Tak sampai di situ, Oshin juga mengungkapkan kemudahan lain yang dimiliki BTN. “Yang saya suka adalah transparansi saat penandatanganan kontrak dan penawaran asuransi,” bebernya.
Pihak BTN lanjutnya, menjelaskan secara terbuka soal asuransi. Pilihan juga dikembalikan sepenuhnya kepada nasabah. Tidak ada paksaan, tidak ada keputusan sepihak. “Service-nya mengembalikan semuanya ke kami sebagai customer,” tuturnya.
Kisah Oshin adalah potret bagaimana inovasi produk dan layanan BTN menjadi wujud pelayanan terhadap negeri. Bukan sekadar soal kredit pemilikan rumah, tetapi menghadirkan akses yang mudah, transparan, dan terintegrasi bagi masyarakat, termasuk perempuan pekerja.
BTN Mewujudkan Mimpi Tiap Nasabah

Rumah subsidi di Kabupaten Gowa. (Foto: Gita/HN)
Di tengah geliat pembangunan perumahan yang semakin meningkat, Bank Tabungan Negara (BTN) terus memperkuat perannya sebagai mitra utama masyarakat dalam memiliki rumah. Berbagai inovasi layanan yang dihadirkan BTN untuk memastikan proses pembiayaan semakin mudah dan efisien.
Branch Manager BTN KC Makassar, Alem Wijaya, menegaskan fokus utama BTN tetap pada sektor perumahan. “Kami tetap menjadi market leader bagi masyarakat dalam pembiayaan perumahan,” ujarnya. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan layanan mortgage yang didukung transformasi digital.
Data penyaluran KPR menunjukkan kontribusi signifikan BTN di wilayah Sulawesi Selatan. Di tingkat provinsi, tercatat 11.019 unit rumah komersial dan 110.350 unit rumah subsidi terjual. Di Makassar, sebanyak 4.257 unit komersial dan 1.411 unit subsidi berhasil disalurkan, sementara di Kabupaten Gowa tercatat 2.801 unit komersial dan 26.321 unit subsidi.
Angka tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan hunian, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui skema subsidi. BTN berupaya memastikan proses pengajuan KPR berlangsung lebih cepat dan transparan agar akses kepemilikan rumah semakin luas.
Melalui penguatan pembiayaan perumahan dan inovasi layanan, BTN hadir bukan sekadar sebagai lembaga keuangan, melainkan sebagai jembatan yang membantu mewujudkan mimpi masyarakat untuk memiliki hunian sendiri.
Permudah Akses KPR, BTN Kenalkan Inovasi Digital Bale by BTN dan Bale Properti
Aplikasi Bale by BTN yang dapat digunakan nasabah untuk mengajukan KPR Subsidi maupun Komersil. (Foto: Gita/HN)
Untuk lebih mempermudah akses KPR masyarakat, Bank Tabungan Negara (BTN) kini bertransformasi ke layanan digital yang lebih efektif dan efesien. Langkah ini dilakukan agar cara-cara konventional yang terasa berat ditinggalkan dan mulai mengakses layanan yang lebih mudah.
“Ini juga bagian dari strategi memperkuat layanan pembiayaan perumahan di Sulsel,” ucap Alem Wijaya. Ia menjelaskan, visi BTN saat ini tidak hanya berorientasi pada angka kredit pemilikan rumah (KPR), tetapi juga pada kemudahan akses layanan perbankan yang lebih cepat, transparan, dan terintegrasi.
“Layanan yang dulu identik dengan tumpukan berkas dan antrean panjang kini kami arahkan menjadi lebih efisien melalui digitalisasi,” ujar Alem. Transformasi tersebut diwujudkan melalui pengembangan berbagai platform digital yang mendukung kebutuhan nasabah maupun mitra pengembang.
Salah satu inovasi utama adalah Bale by BTN, platform yang menjadi pengganti mobile banking sebelumnya. Melalui Bale by BTN, nasabah perorangan dapat mengakses layanan perbankan secara praktis, mulai dari transaksi harian hingga pembayaran kewajiban kredit, dengan sistem yang lebih terintegrasi dan aman.
Di sisi lain, BTN menghadirkan Bale Properti untuk mendukung mitra developer. Platform ini memungkinkan pengembang mengunggah katalog perumahan secara digital sekaligus mengajukan berkas KPR secara daring. Seluruh dokumen dapat dipindai dan diunggah melalui sistem, sehingga memangkas waktu proses dibandingkan metode konvensional berbasis dokumen fisik.
Melalui Bale Properti, mitra developer juga dapat melakukan pelacakan berkas secara real time selama 24 jam. Transparansi dan kemudahan monitoring ini menjadi nilai tambah dalam memperkuat ekosistem perumahan nasional.
Selain itu, BTN menyediakan Bale Corpora bagi nasabah lembaga dan perusahaan untuk mempermudah transaksi perbankan korporasi secara digital. Transformasi ini memastikan layanan BTN menjangkau berbagai segmen, tidak hanya individu dan developer.
Dalam penyaluran KPR, BTN tetap melayani segmen rumah subsidi bagi masyarakat berpenghasilan rendah serta rumah komersial untuk segmen umum.
Alem menambahkan, inovasi tersebut juga selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang dijalankan perseroan. “Perpaduan antara fokus mortgage (pembiayaan rumah KPR) dan penguatan digital menjadi fondasi strategi kami ke depan,” katanya.
Di Makassar, transformasi digital ini telah mempercepat proses pengajuan KPR dan meningkatkan transparansi layanan. BTN menegaskan bahwa inovasi yang dilakukan bukan sekadar modernisasi sistem, melainkan wujud pelayanan terhadap negeri dalam membantu masyarakat mewujudkan impian memiliki rumah.
BTN Dorong Akses KPR Lebih Cepat, Aman dan Terjangkau
Pengamat Ekonomi Unismuh Makassar, Sutardjo Tui. (Foto: Dok. HN)
Inovasi produk dan layanan yang dilakukan Bank Tabungan Negara (BTN) dinilai sejalan dengan kebutuhan nasional dalam memperkuat sektor perumahan sebagai pilar pembangunan ekonomi.
Pengamat ekonomi Universitas Muhammadiyah Makassar, Sutardjo Tui, mengatakan sektor perumahan merupakan salah satu sektor paling aman bagi perbankan dalam penyaluran kredit.
Menurut Sutardjo, dibandingkan sektor lain, risiko kredit di sektor perumahan relatif kecil. Hal itu karena terdapat sedikitnya empat jenis jaminan yang dikuasai bank, yakni sertifikat tanah atau bangunan, gaji karyawan sebagai sumber pembayaran, asuransi jiwa peminjam, serta asuransi kebakaran rumah.
“Karena itu, perbankan seperti BTN sangat mendukung sektor perumahan, baik kredit untuk pengguna (user) maupun kredit konstruksi bagi developer,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dukungan perbankan terhadap sektor perumahan juga semakin diperkuat melalui digitalisasi layanan. Edukasi kepada masyarakat seperti yang dilakukan BTN kini dilakukan melalui inklusi dan literasi keuangan berbasis sistem digital, sehingga mendorong pemahaman sekaligus percepatan layanan perbankan yang saling menguntungkan
Lebih lanjut, Sutardjo menilai sektor perumahan memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor lain, seperti perdagangan, industri bahan bangunan, perpajakan, hingga penyerapan tenaga kerja.
“Pembangunan perumahan juga berkontribusi dalam pengurangan pengangguran dan kemiskinan,” bebernya.
Secara empirik, kata dia, kebutuhan pembiayaan di berbagai sektor masih sangat bergantung pada perbankan, termasuk dalam pembiayaan perumahan bagi user maupun developer.
Karena itu, peran perbankan menjadi krusial dalam mendukung target pembangunan perumahan nasional serta menekan angka backlog.
“Tanpa dukungan pembiayaan dari perbankan, percepatan pembangunan perumahan dan pengurangan backlog akan sulit tercapai,” tegasnya.
Penulis: Gita Oktaviola
Baca berita lainnya Harian.news di Google News