Derita Para Puan dan Serumpun Ketidakadilan dalam Lembah Tahanan Sabah

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Depot Tahanan Imigrasi (DTI) di Sabah, Malaysia, menjadi tempat yang penuh penderitaan bagi para tahanan imigran yang terjebak dalam kondisi yang sangat memperihatinkan.
Menurut Maria, perwakilan dari Koalisi Buruh Migran Berdaulat (KBMB), DTI di Menggatal dan Tawau mencerminkan kekurangan fasilitas yang sangat mencolok, mulai dari ruang yang penuh sesak, kebersihan yang buruk, hingga minimnya layanan dasar yang memadai.
Salah satu contoh nyata adalah Blok B di DTI Menggatal yang, pada Mei 2024, terisi dengan 196 tahanan, padahal ruang tersebut hanya dirancang untuk menampung lebih sedikit orang.
“Tahanan harus tidur berdempetan, saling menjaga agar tidak menginjak satu sama lain saat bergerak,” kata Maria saat menghadiri jumpa pers via zoom, Rabu (18/12/2024).
Keadaan serupa juga ditemukan di Blok 5 Perempuan DTI Tawau pada September 2024, di mana hampir 190 tahanan harus tidur dengan sangat sempit, bahkan ada yang terpaksa tidur di sekitar toilet karena keterbatasan ruang.
Masalah lain yang sangat mendasar adalah kekurangan air bersih. DTI Tawau dan Menggatal mengalami kesulitan dalam menyediakan air, yang hanya mengalir satu hingga dua kali seminggu.
Dalam kondisi ini, tahanan tidak hanya harus bertahan dengan pasokan air yang minim, namun kualitas air yang tersedia pun terkontaminasi bau dan kotoran.
Beberapa tahanan bahkan harus menampung air hujan untuk bertahan hidup. Persoalan sanitasi pun tak kalah serius.
“Toilet yang tersumbat dan kotor membuat banyak tahanan terpaksa menahan kencing atau buang air besar,” ujar Maria.
Di DTI Tawau, air mengalir setiap tiga hari sekali, dan sering kali antrian panjang membuat sebagian tahanan tidak kebagian air sama sekali.
Bahkan bagi perempuan yang sedang menstruasi, kondisi semakin memprihatinkan karena terbatasnya pembalut.
Di DTI Tawau dan DTI Menggatal, perempuan hanya diberikan dua buah pembalut per hari, sementara di DTI Papar, pembalut tidak tersedia sama sekali, dan seorang tahanan terpaksa menggunakan popok bayi sebagai penggantinya.
Selain itu, makanan yang disediakan sangat buruk, dengan kualitas yang tidak layak konsumsi.
“Makanan sering kali tidak matang, berulat, dan kadang berbau busuk. Tahanan harus makan dalam keadaan terpaksa, dengan hanya mendapatkan sedikit air,” kata Maria.
Pasokan air minum yang terbatas hanya satu gelas kecil per waktu makan, yang tentu saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidrasi mereka.
Kondisi fisik yang sangat terbatas ini semakin diperburuk dengan sanitasi yang buruk dan kurangnya fasilitas tidur yang layak. Tahanan tidur di lantai bersemen keras dengan tikar tipis yang sudah rusak, tanpa bantal atau selimut.
“Nyamuk dan lalat bertebaran di sekitar mereka, menyebabkan gatal-gatal yang mengganggu tidur mereka,” lanjut Maria. Ditambah dengan minimnya penerangan alami, kondisi ruang tidur terasa semakin panas dan lembab.
Masalah kesehatan juga menjadi isu yang sangat krusial. “Pemeriksaan kesehatan tidak dilakukan secara rutin, dan sering kali tahanan harus menunggu lama untuk mendapatkan perawatan medis,” jelas Maria.
Bahkan, beberapa tahanan yang melaporkan kondisi kesehatan mereka tidak segera mendapatkan penanganan, dan dalam beberapa kasus, mereka hanya diberi obat tanpa diagnosis yang jelas.
Selain tekanan fisik dan kesehatan, tekanan psikologis yang dialami para tahanan juga tidak kalah berat. Mereka terjebak dalam kondisi yang semakin memperburuk rasa putus asa dan keterasingan.
Tahanan merasa tidak memiliki harapan untuk keadilan atau perubahan dalam waktu dekat, meskipun mereka terus berjuang untuk bertahan hidup.
Maria menegaskan, kondisi ini memerlukan perhatian serius dari pihak berwenang, baik dari pemerintah Malaysia maupun organisasi internasional.
“Perbaikan dalam hal sanitasi, makanan, akses medis, dan ruang yang lebih manusiawi harus segera dilakukan untuk memastikan para tahanan diperlakukan dengan lebih bermartabat,” katanya, mengakhiri pembicaraan dengan harapan agar dunia internasional tidak lagi mengabaikan penderitaan yang terus berlangsung di DTI Sabah.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News