DPPKB Makassar Jelaskan Kenaikan Angka Stunting dan Langkah Penanggulangannya

DPPKB Makassar Jelaskan Kenaikan Angka Stunting dan Langkah Penanggulangannya

HARIAN.NEWS, MAKASSAR -Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Makassar mengungkapkan alasan di balik kenaikan angka stunting di Kota Makassar, yang kini mencapai 25,6 persen. Angka ini meningkat sekitar 7,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 18,4 persen.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DPPKB Makassar, Syafruddin, S.Sos., M.Adm., Pemb, menjelaskan bahwa perbedaan metode pengukuran menjadi salah satu faktor penyebab peningkatan angka stunting.

“Di Indonesia, ada dua cara pengukuran yang digunakan, dan hal ini yang menyebabkan perbedaan hasil. Tidak hanya di Makassar, tetapi kenaikan ini juga mengejutkan banyak pihak di daerah lain,” ujar Syafruddin saat dikonfirmasi, Senin (14/10).

Syafruddin menjelaskan bahwa perbedaan hasil antara dua metode pengukuran, yaitu E-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI), menjadi sorotan.

Menurutnya, hasil pengukuran SKI 2023 menunjukkan peningkatan angka stunting di Makassar menjadi 25,6% dari sebelumnya 18,4%. Sementara, pengukuran menggunakan EPPGBM justru menunjukkan angka yang lebih rendah.

“Pengukuran EPPGBM yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Makassar melalui metode by name by address menunjukkan penurunan angka stunting,” kata Syafruddin.

Ia menambahkan bahwa perbedaan ini seringkali menimbulkan kebingungan dalam menentukan kondisi stunting yang sebenarnya.

Dalam upaya menangani perbedaan hasil ini, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) telah melaksanakan pengukuran serentak yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan di seluruh Indonesia pada Juni 2024.

Di Makassar, hasil pengukuran tersebut menunjukkan bahwa sekitar 3,29% atau 3.000 anak dari 90.000 anak yang diukur mengalami stunting, angka yang lebih konsisten dengan data EPPGBM.

Untuk mengatasi masalah stunting, Syafruddin mengungkapkan bahwa DPPKB Makassar telah melaksanakan berbagai program intervensi. Di antaranya adalah program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASAT) dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT), yang bekerja sama dengan berbagai mitra.

“Tahun ini, kami sudah mengintervensi sekitar 1.073 anak balita stunting melalui program Dapur Sehat,” tambahnya.

Selain itu, intervensi stunting juga dilakukan melalui 49 Kampung KB, yang berhasil memberikan penanganan langsung kepada sekitar 1.078 balita. Syafruddin berharap langkah-langkah ini dapat memberikan hasil signifikan dalam menurunkan prevalensi stunting di Makassar.

Pemerintah Kota Makassar juga tengah melakukan pengukuran terbaru untuk menentukan prevalensi stunting pada tahun 2024, dengan survei yang mencakup 71 kelurahan. \

Meskipun data rumah tangga sudah dikumpulkan, jumlah pasti balita yang akan menjadi objek survei belum diketahui.

Syafruddin berharap, dengan berbagai intervensi yang telah dilakukan, Makassar dapat mencapai target nasional prevalensi stunting sebesar 14% pada 2024, atau bahkan mencapai angka zero stunting sesuai dengan harapan Wali Kota Makassar.

“Mudah-mudahan dengan intervensi yang terus dilakukan, kondisi stunting di Makassar semakin membaik,” tutup Syafruddin.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News