Logo Harian.news

Kilas balik Komunitas Dokar di Kecamatan Boja

Dulu Diidamkan, Sekarang Diduakan

Editor : Redaksi Kamis, 12 Oktober 2023 16:38
Dok. Tiara/Citizen Reporter
Dok. Tiara/Citizen Reporter

Penulis : Tiara Fitrianingrum
(Mahasiswa Universitas Negeri Semarang)

HARIAN.NEWS, KENDAL – Di era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi banyak sekali perubahan yang dirasakan dalam setiap lini kehidupan.

Perubahan ini membawa kita kedalam lingkar garis perkembangan yang semakin modern. Hal ini tentu semakin memudahkan kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Baca Juga : Perkuat Ideologi dan Keorganisasian Mahasiswa, Unismuh Makassar Gelar Baitul Arqam

Namun, dengan adannya perkembangan ilmu pengetahuan dan juga teknologi terkadang juga kurang menguntungkan bagi sebagian kelompok masyarakat yang masih menggeluti produk masa lampau. Salah satunya yang dialami oleh para kusir dokar di Kecamatan Boja.

Mereka harus tetap bertahan ditengah gempuran alat transportasi modern yang kian hari semakin canggih. Alasan mereka masih menggeluti profesi ini salah satunya karena merupakan profesi turun temurun dari keluarganya.

Sehingga sudah seperti tanggung jawab tersendiri bagi mereka untuk melestarikan moda transportasi tradisional ini. Jika ditinjau dari segi sejarah, memang moda transportasi dengan memanfaatkan tenaga kuda ini cukup eksis dan menjadi primadona dikalangan masyarakat sebelum posisinya didesak oleh alat transportasi yang lebih modern.

Baca Juga : Keren! 88 Mahasiswa PPG Unibos dapat Gelar Guru Profesional dan Bersertifikasi 

a. Bagaimana urgensi Komunitas Dokar di Kecamatan Boja pada masa lampau?

Pada masa sebelum tahun 1970 an, sebenarnya komunitas dokar sudah mulai dikenal oleh masyarakat kecamatan Boja, lebih tepatnya dalam ruang lingkup desa bebengan sebagai sarana transportasi pengangkut barang maupun sebagai moda transportasi pengakses desa satu ke desa yang lain.

Hal ini tidak terlepas dari peran bangsa eropa dalam pengenalan moda transportasi dengan pemanfaatan tenaga hewan sebagai penggerak utamanya. Pada masa sebelum tahun 1970 an komunitas dokar masih dianggap sebagai sarana transportasi yang belum diperhatikan keberadaannya.

Baca Juga : UKT Mahal, Pendidikan Semakin Sulit

Hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang berada di desa bebengan masih terlampau sedikit dan masih memiliki kecenderungan untuk menanggung semuanya sendiri, dalam artian lebih memilih berjalan kaki atau mengangkut barang secara sedikit demi sedikit.

Hal ini dilakukan karena pada masa itu pendapatan perkapita masyarakat desa bebengan yang masih relative rendah. Sehingga bagi mereka sangat disayangkan jika uang tersebut digunakan untuk menyewa dokar lebih baik digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari.

Kondisi ini berbeda jika kita gambarkan pada awal tahun 1975 an. Dimana pada tahun tersebut telah terjadi peningkatan angka mobilitas penduduk. Hal ini disebabkan oleh masuknya para pendatang baru yang bekerja di perkebunan karet atau hanya sekadar mengaduh nasib di Boja. Sehingga jumlah pengguna moda transportasi dan penyedia jasa transportasi meningkat pada masa itu

Baca Juga : Kalla Toyota Buka Lowongan Kerja untuk Mahasiswa dan Fresh Graduate, Berikut Persyaratannya

b. Apa factor yang melatarbelakangi eksistensi Dokar pada tahun 1970 sampai 1990?

Pada tahun 1975, seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di Boja. Profesi Dokar banyak diminati oleh masyarakat Boja.

“Dulu enak jadi kusir dokar. Tiap hari minimal dapat 20 penumpang. Tapi jaraknya beda-beda.” Ujar Bapak Kholib selaku kusir dokar tertua dan masih menggeluti profesi ini sampai sekarang.

Hal ini juga dikarenakan tuntutan masyarakat yang semakin meningkat dan fungsi dari transportasi dokar yang tidak hanya mengangkut barang – barang saja melainkan juga sebagai transportasi umum bagi masyarakat sekitar.

“Waktu jaman ada Belanda nya dulu itu jam operasionalnya mulai dari pukul 10.00 sampai 15.00. tapi pas jayanya itu udah beda. Saya dulu bisa mulai pukul 05.00 sampai tengah malam.” Ujarnya.

Pernyataan ini didukung dengan tuntutan masyarakat yang semakin meningkat. Misalnya pada pengangkutan barang – barang pedagang yang ingin berdagang dipasar Boja yang dilakukan pada waktu pagi buta agar seawal mungkin mereka siap melayani pembeli.

Satu kusir dokar dapat menerima tumpangan sebanyak 20 tumpangan dengan berbagai varian jarak yang ditempuh. Tarif yang dipasang pada masa itu sekitar 10 rupiah. Tarif tersebut masih dikatakan lumayan pada masa itu, sebab harga kebutuhan pokokpun masih relative murah.

Tidak ada pembatasan rute jarak yang ditetapkan pada masa itu, bahkan pernah ada yang mengantarkan penumpang sampai ke Desa Kaliwesi yang merupakan Desa diluar Kecamatan Boja. Dengan pendapatan yang cukup menjanjikan pada masa itu, menjadikan profesi kusir dokar banyak digandrungi oleh masyarakat yang bertempat tinggal di Desa Bebengan, Kecamatan Boja. Sehingga dengan bertambahnya jumlah para kusir kuda ini menjadikan mereka terkelompok menjadi satu komunitas dokar di Kecamatan Boja.

“Saya bisa nyekolahin anak saya sampai SMEA ya berkat jadi kusir kuda ini, mbak. Apalagi dulu jarang ada yang mampu nyekolahin anaknya sampai SMEA. Tapi alhamdulillah saya mampu, mbak,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan beliau dalam menyekolahkan anaknya sampai bangku SMEA merupakan bukti nyata bahwa profesi dokar cukup menjanjikan pada kisaeran tahun 1970an sampai 1990 an atau sebelum mulai merebaknya jenis moda transportasi modern yang saat ini cukup berhasi menggantikan posisi alat transportasi tradisional.

c. Apa factor kemunduran Komunitas Dokar pada awal abad ke 20?

Peralihan jenis transportasi ini juga memberikan dampak yang kurang mengenakkan bagi komunitas dokar di Kecamatan Boja. Pasalnya masyarakat kini sudah mulai beralih dengan menggunkan kendaraan pribadi dan tentunya merupakan enis transportasi bermesin Keberadaan Dokar di Kecamatan Boja juga semakin terdesak oleh angkutan modern seperti Bojek (Boja Ojek), Grab, dan angkutan umum lainnya. Hal ini dikarenakan anggapan masyarakat yang memandang transportasi dokar sudak tidak efektif lagi, khususnya dalam segi ketepatan waktu.

Bau polusi yang dihasilkan dari kotoran kuda juga menganggu masyarakat juga pemandangan lingkungan, serta bau polusi kandang kuda sangat menyengat sehingga akan mengganggu linkungan. Hal ini diperparah oleh kondisi lahan kandang yang sempit karena desakan oleh pengembangan perumahan warga sekitar.

“Sekarang udah sepi mbak. Banyak yang punya motor jadi mereka sudah jarang pake dokar kalau mau pergi kemana-mana. Omsetnya sekarang juga sudah turun,” ujarnya.

Namun, terlepas dari maraknya jenis transportasi komersial, para kusir kida yang tergabung dalam komunitas dokar diKecamatan Boja masih eksis hingga sekarang. Tak jarang banyak sekali masyarakat yang memanfaatkan keberadaan dokar tersebut untuk dijadikan sebagai transportasi jalan-jalan mengelilingi indahnya Kecamatan Boja. Biasanya mereka menunggu penumpang di depan kantor eks kawedanan Boja.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@harian.news atau Whatsapp 081243114943

Follow Social Media Kami

KomentarAnda