Hadapi Musim Kemarau, PLN Lakukan Modifikasi Cuaca di Sejumlah PLTA

Hadapi Musim Kemarau, PLN Lakukan Modifikasi Cuaca di Sejumlah PLTA

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – PT PLN (Persero) memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk melaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di sejumlah wilayah yang menjadi sumber air pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan air di tengah musim kemarau yang berpotensi menurunkan debit sungai dan berdampak pada operasional pembangkit.

Sejumlah PLTA yang menjadi perhatian antara lain PLTA Bakaru, PLTA Malea, dan PLTA Poso. Pelaksanaan modifikasi cuaca melibatkan PLN, BMKG, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta pemerintah daerah.

Kepala BPBD Sulawesi Tengah Darma Metusela mengatakan pemerintah daerah ikut terlibat dalam proses persiapan hingga pelaksanaan modifikasi cuaca.

“Dari pihak Pemda, kami terus mendampingi dan terlibat langsung sejak tahapan survei, pengkajian lokasi sasaran, hingga pelaksanaan eksekusi di lapangan agar operasi TMC dapat berjalan optimal,” ujar Darma, Rabu (23/09/2026).

Di Sulawesi Tengah, operasi penyemaian awan telah dilakukan di sejumlah titik, di antaranya Meko dan Tokilo pada 20 September 2026. Penyemaian awan dilakukan dengan menyesuaikan kondisi atmosfer dan potensi terbentuknya hujan.

Sementara di Sulawesi Selatan, koordinasi untuk menjaga ketersediaan air juga dilakukan untuk mendukung operasional PLTA Malea yang memiliki kapasitas 90 megawatt (MW).

PLTA Malea bergantung pada debit air Sungai Saddang. Karena itu, pelaksanaan TMC diarahkan ke daerah tangkapan air atau catchment area Sungai Saddang selama periode Agustus hingga September 2026.

Upaya tersebut diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan air sehingga operasional PLTA Malea tetap berjalan selama musim kemarau.

Selain PLTA Malea, PLN juga mematangkan persiapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di daerah aliran sungai (DAS) Mamasa untuk mendukung operasional PLTA Bakaru yang memiliki kapasitas 126 MW.

Berdasarkan kajian kelayakan BMKG, OMC di wilayah tersebut direncanakan menggunakan pesawat nirawak atau drone. Dua lokasi yang disiapkan sebagai titik operasional yakni Bandara Sumarorong dan Puncak Pasir.

General Manager PLN UID Sulselrabar Edyansyah mengatakan koordinasi lintas sektor diperlukan untuk memastikan langkah mitigasi dapat berjalan efektif.

“Teknologi Modifikasi Cuaca ini adalah bentuk ikhtiar nyata dalam mitigasi yang kami lakukan bersama Pemda dan BMKG untuk menjaga dan memulihkan debit air di sejumlah lokasi strategis, seperti PLTA Malea dan PLTA Bakaru,” ujar Edyansyah.

Menurut dia, upaya tersebut diharapkan dapat membantu menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat selama musim kemarau.

PLN menyatakan koordinasi dengan BMKG, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya akan terus diperkuat untuk mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap pembangkit listrik tenaga air.

Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kesinambungan operasional PLTA sekaligus memastikan pasokan listrik bagi masyarakat tetap tersedia secara andal.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News