Hari Pelaut Sedunia 25 Juni, Mengenal Pahlawan di Balik Barang

Hari Pelaut Sedunia 25 Juni,  Mengenal Pahlawan di Balik Barang

HARIAN.NEWS, JAKARTA — Pernahkah terbersit di benak sahabat HARIAN.NEWS, bagaimana smartphone yang digenggam atau kopi yang menemani pagi ini bisa sampai ke tangan kita? Jawabannya ada di lautan. Tanggal 25 Juni diperingati sebagai Hari Pelaut Sedunia 2026, momen untuk mengurai jasa besar para pahlawan tak terlihat yang menjaga roda perekonomian dunia tetap berputar.

Bukan sekadar ritual seremonial, peringatan ini merupakan pengakuan global atas dedikasi jutaan anak buah kapal (ABK) yang rela menghabiskan berbulan-bulan di tengah isolasi samudra.

Melansir data International Chamber of Shipping (ICS), fakta mengejutkan menunjukkan bahwa sekitar 90 persen volume perdagangan dunia diangkut melalui jalur laut. Mulai dari bahan bakar, obat-obatan, pakaian, hingga suku cadang teknologi, semuanya bergantung pada kapal-kapal raksasa yang dikendalikan oleh pelaut. Tanpa mereka, rantai pasok global akan langsung lumpuh total.

Latar Belakang Sejarah 25 Juni

Mengapa harus tanggal 25 Juni? Ketentuan ini bukan lahir dari ruang hampa.

Berdasarkan catatan resmi International Maritime Organization (IMO), badan khusus PBB yang mengurusi keselamatan pelayaran, Hari Pelaut Sedunia dicetuskan dalam sebuah konferensi diplomatik bersejarah di Manila, Filipina, pada Juni 2010.

Konferensi akbar tersebut digelar untuk mengadopsi revisi besar-besaran atas Konvensi STCW (Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers). Melalui Resolusi 19 yang diteken para delegasi, disepakati bahwa kontribusi pelaut terhadap perdagangan internasional wajib diapresiasi secara masif.

Alhasil, 25 Juni ditetapkan sebagai hari peringatan dan digelar untuk pertama kalinya secara global pada tahun 2011.

Pengorbanan di Balik Deru Mesin Kapal

Di balik megahnya pelayaran global, pelaut menyimpan cerita pilu. Mereka harus berhadapan dengan tantangan cuaca ekstrem, risiko pembajakan di perairan rawan, hingga tekanan psikologis akibat jauh dari keluarga.

Ketika dunia tertidur nyenyak, di gelapnya malam lautan, para pelaut terus bermalam tanpa henti di anjungan kapal. Mereka adalah tulang punggung perdagangan internasional yang kerap luput dari sorotan.

Peringatan Hari Pelaut Seduni atau Day of The Sea Farer kali ini harus menjadi momentum bagi masyarakat sipil untuk sekadar mengucapkan terima kasih. Karena pada akhirnya, kenyamanan hidup yang kita nikmati darat, dimulai dari pengorbanan mereka di tengah badai. ***

(berbagai sumber)

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : ANDI AWAL TJOHENG