IAS Terima Diskresi Golkar, Pengamat: Ini Momentum Kembalikan Marwah Partai

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Pengamat politik yang juga Dosen Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama, Dr Attock Suharto, menilai Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan menjadi momentum strategis dalam menentukan arah dan masa depan partai berlambang pohon beringin tersebut.
Menurut Attock, dinamika internal Golkar Sulsel tidak seharusnya hanya dilihat sebagai kompetisi antarfigur, tetapi sebagai proses memilih kepemimpinan yang mampu membawa partai menghadapi tantangan politik ke depan.
“Politik adalah proses panjang yang membutuhkan daya tahan. Bukan hanya soal siapa yang tampil paling kuat di awal, tetapi siapa yang mampu menjaga kepercayaan dan dukungan hingga akhir,” ujar Attock dalam siaran pers diterima harian.news, Kamis (25/6).
Ia mengatakan, sebagai partai besar, Golkar membutuhkan keseimbangan antara pengalaman para senior dan energi kader muda. Keduanya, kata dia, harus menjadi kekuatan yang saling melengkapi.
“Beringin yang rimbun membutuhkan akar yang kuat dan daun yang banyak. Akar adalah para senior dengan pengalaman dan jaringan, sementara daun adalah generasi muda dengan energi serta gagasan baru. Keduanya harus tumbuh bersama, bukan saling menjatuhkan,” jelasnya.
Attock menambahkan, masyarakat Sulawesi Selatan juga tengah memperhatikan dinamika politik yang terjadi di tubuh Golkar. Karena itu, ia berharap proses Musda tidak terjebak pada persaingan yang hanya menampilkan pertarungan kepentingan, tetapi tetap mengedepankan gagasan dan arah pembangunan.
“Publik tidak membutuhkan politik yang hanya ramai di permukaan, tetapi minim substansi. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang mampu menghadirkan perubahan dan membawa harapan baru,” katanya.
Dalam konteks figur yang berkembang menjelang Musda Golkar Sulsel, Attock turut menyoroti sosok Ilham Arief Sirajuddin (IAS). Ia menilai pengalaman IAS sebagai Wali Kota Makassar selama dua periode menjadi salah satu modal penting dalam kontestasi kepemimpinan Golkar Sulsel.
Menurut Attock, pengalaman IAS dalam memimpin pemerintahan daerah, membangun komunikasi dengan masyarakat, serta menghadapi berbagai dinamika politik menjadi aset yang tidak bisa diabaikan.
“IAS memiliki pengalaman kepemimpinan yang cukup panjang. Ia pernah mengelola birokrasi, menjalankan pembangunan, dan membangun kedekatan dengan masyarakat. Itu menjadi modal penting dalam perjalanan politiknya,” ungkapnya.
Ia menilai berbagai dinamika yang pernah dilalui IAS justru dapat menjadi proses pendewasaan politik.
“Dalam konteks kepemimpinan, pengalaman bukan beban, tetapi modal untuk tampil dengan kematangan yang lebih besar,” kata Attock.
Attock juga mengutip pandangan intelektual Gowa abad ke-17, Karaeng Pattingalloang, tentang pentingnya memahami diri sebagai bagian dari perjalanan kepemimpinan. Menurutnya, seorang pemimpin yang mampu membaca pengalaman dan kekuatannya akan lebih siap menghadapi perubahan zaman.
Bagi Attock, Musda Golkar Sulsel bukan sekadar menentukan siapa yang akan menduduki kursi ketua, tetapi menjadi penentu apakah Golkar Sulsel mampu kembali tampil sebagai kekuatan politik yang solid, inklusif, dan mampu menaungi berbagai kelompok.
“Musda ini adalah momentum menentukan apakah Golkar Sulsel akan semakin kuat sebagai rumah besar politik, atau justru berjalan tanpa arah yang jelas,” pungkasnya.
(ASW)
Baca berita lainnya Harian.news di Google News