Isra Mikraj dan Persatuan yang Kita Lupa, Diuji oleh Ego

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Setiap peringatan Isra Mikraj, kita diingatkan pada sebuah perjalanan suci yang bukan hanya melampaui jarak, tetapi juga menembus kesadaran.
Perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha, sebuah titik balik yang membawa perubahan besar.
Ditandai oleh fase penindasan dan kesulitan ke fase pengharapan dan kekuatan bagi umat pada masa itu.
Namun hari ini, kita hidup di zaman ketika suara paling keras sering dianggap paling benar. Perbedaan mudah berubah menjadi permusuhan, dan persatuan terasa rapuh oleh ego kelompok. Kita lupa bahwa bangsa ini tidak dibangun oleh satu suara, satu keyakinan politik, atau satu kepentingan. Indonesia lahir dari “kita”, dari keberagaman yang dirajut oleh kesadaran untuk berjalan bersama.
Isra Mikraj mengajarkan satu pelajaran penting, kedekatan kepada Tuhan harus berbanding lurus dengan kepedulian terhadap sesama. Salat yang diwajibkan dalam peristiwa agung itu bukan sekadar ritual, melainkan latihan disiplin, kesetaraan, dan persatuan. Dalam saf salat, tidak ada “aku” yang lebih tinggi dari “kamu”.
Semua berdiri sejajar, tunduk pada tujuan yang sama. Ironisnya, dalam kehidupan berbangsa, kita justru mudah terjebak pada narasi “kamu versus aku”. Perbedaan pendapat dipelintir menjadi permusuhan, sementara isu identitas terus dibenturkan. Di balik hiruk-pikuk pertikaian itu, sering kali ada propaganda yang sengaja meniupkan api.
Bangsa yang terpecah adalah bangsa yang mudah dilemahkan. Ketika kita sibuk saling mencurigai dan saling menyalahkan, pihak lain leluasa menguasai sumber daya, ekonomi, bahkan arah kebijakan, tanpa perlu mengangkat senjata.Propaganda hari ini tidak selalu datang dengan wajah kasar.
Ia hadir dalam informasi yang dipelintir, narasi kebencian yang dibungkus atas nama kebenaran, dan ajakan berpihak yang membuat kita lupa berpikir. Kita diajak membela “kebenaran versi kelompok”, tapi lupa menjaga kemaslahatan bersama. Kita sibuk memenangkan perdebatan, namun abai pada luka persatuan.
Padahal, persatuan bukan berarti meniadakan perbedaan. Persatuan adalah kesediaan untuk tetap berdiri bersama meski tidak selalu sependapat.
Sebagaimana pesan Isra Mikraj, perjalanan spiritual sejati bukanlah menjauh dari realitas sosial, melainkan kembali dengan tanggung jawab yang lebih besar. Kritis boleh, berbeda wajar, tetapi membenci tanpa hikmah hanya akan melemahkan kita sendiri.
Ketika konflik internal dibiarkan, yang hilang bukan hanya harmoni, tetapi juga masa depan. Sumber daya alam yang seharusnya menjadi berkah bagi generasi mendatang justru lepas dari genggaman karena kita terpecah.
Yang rugi bukan “kamu” atau “aku” semata, melainkan kita semua. Anak cucu kita kelak tidak hanya mewarisi kekayaan yang menipis, tetapi juga luka akibat kegagalan menjaga persaudaraan.
Peringatan Isra Mikraj seharusnya menjadi momentum hijrah, untuk menggeser cara pandang, dari “kebenaranku” menuju “kemanfaatan kita”, dari ego kelompok menuju kepentingan bangsa. Menjaga persatuan bukan sekadar seruan moral, melainkan ikhtiar strategis dan amanah keimanan.
Persatuan akan lebih mudah dirawat ketika para pemimpin, tokoh masyarakat, dan figur publik meneladani sikap Nabi, adil, menenangkan, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alat kepentingan sempit. Keteladanan selalu lebih kuat daripada sekadar slogan.
Pada akhirnya, Isra Mikraj mengingatkan kita bahwa ketinggian derajat tidak lahir dari saling menjatuhkan, tetapi dari kesediaan untuk berjalan bersama. Keberagaman akan tetap indah jika kita terus ingat satu hal mendasar, persatuan bukan berarti menjadi sama, melainkan memilih untuk menjaga satu sama lain. Karena yang kita pertaruhkan bukan hanya harmoni hari ini, tetapi masa depan kita semua. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)