Isu Akuisisi NasDem Menguat, Pertemuan Elit di Hambalang Jadi Sorotan

Isu Akuisisi NasDem Menguat, Pertemuan Elit di Hambalang Jadi Sorotan

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Peta politik nasional kembali memanas. Kali ini, sorotan tertuju pada Partai NasDem yang dikabarkan tengah diterpa isu serius,  potensi akuisisi oleh kekuatan politik besar.

Nama Partai Gerindra hingga lingkar kekuasaan di Istana disebut-sebut berada di balik manuver tersebut. Bahkan, Gibran Rakabuming Raka ikut dikaitkan dalam pusaran spekulasi.

Isu ini mencuat setelah adanya pertemuan tertutup antara Presiden RI sekaligus Ketua Umum Gerindra, Prabowo Subianto, dengan Ketua Umum NasDem, Surya Paloh, di Hambalang pada pertengahan Februari 2026.

Pertemuan yang berlangsung tanpa publikasi tersebut diyakini membahas arah politik kedua partai ke depan. Salah satu topik yang mengemuka adalah rencana kenaikan ambang batas parlemen (parliamentary threshold) menjadi 8 persen, dari sebelumnya 4 persen.

Wacana ini dinilai strategis sekaligus kontroversial. Di satu sisi, kenaikan ambang batas dapat menyederhanakan jumlah partai di parlemen. Namun di sisi lain, kebijakan tersebut berpotensi menekan partai dengan basis suara menengah, termasuk NasDem yang pada Pemilu 2024 meraih sekitar 9,66 persen suara nasional.

Spekulasi pun berkembang, apakah kebijakan ini bagian dari skenario besar untuk merombak peta kekuatan politik nasional?

Tak berhenti di situ, nama Gibran juga turut disorot. Setelah tidak lagi bernaung di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), ia disebut-sebut membutuhkan kendaraan politik baru yang solid untuk menopang langkah politik jangka panjang, termasuk menuju kontestasi 2029 atau 2034.

Selain faktor politik, dinamika ini juga disebut berkaitan dengan kondisi bisnis kelompok usaha milik Surya Paloh. Proyek strategis seperti Menara Indonesia One di kawasan Thamrin yang sempat terhenti, kini dilaporkan kembali bergerak.

Aktivitas tersebut muncul tak lama setelah adanya pencairan kredit dari bank-bank Himbara, yang memicu spekulasi adanya keterkaitan dengan kesepakatan politik tertentu.

Di internal partai, tekanan juga datang dari gelombang perpindahan kader ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sejumlah nama besar disebut telah meninggalkan NasDem, memunculkan kesan adanya retakan di tubuh partai.

Persoalan suksesi kepemimpinan turut memperkeruh situasi. Sejumlah kader senior dikabarkan kurang sejalan dengan arah regenerasi yang cenderung menguatkan figur internal keluarga, sehingga memicu ketegangan di level elite.

Meski berbagai spekulasi terus berkembang, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari NasDem maupun Gerindra terkait isu akuisisi maupun wacana ambang batas parlemen 8 persen.

(HSN)

Baca berita lainnya Harian.news di Google News