Kekeringan Berkepanjangan, Petani Jeneponto Butuh Intervensi Pemerintah

HARIAN.NEWS, JENEPONTO – Gagal panen padi melanda wilayah Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, akibat kekeringan pada lahan pertanian tadah hujan. Kondisi ini menyebabkan ratusan hektare tanaman padi mengering sebelum memasuki masa panen.
Akibatnya, para petani diperkirakan mengalami kerugian besar yang nilainya mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Minimnya curah hujan serta ketiadaan sumber air alternatif menjadi faktor utama tanaman tidak mampu bertahan.
Salah seorang petani mengungkapkan bahwa kondisi tersebut sebenarnya masih bisa diantisipasi apabila ada perhatian dan langkah cepat dari pemerintah.
“Kalau pemerintah mau, sebenarnya gagal panen seperti ini masih bisa diatasi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Komisariat Himpunan Pelajar Mahasiswa Turatea (HPMT) Institut Turatea Indonesia (INTI), Fadly Kuasa, turut meninjau langsung lokasi terdampak pada Selasa, 7 April 2026.
Fadly menyampaikan keprihatinannya setelah melihat kondisi lahan pertanian dan para petani di lapangan.
“Ini sangat memprihatinkan. Kerja keras petani selama berbulan-bulan hilang begitu saja. Kami berharap Kementerian Pertanian dan Pemerintah Daerah Jeneponto segera menghadirkan solusi konkret,” tegasnya kepada Harian.news, Rabu (8/4/2026).
Ia menambahkan, masih terdapat sebagian tanaman padi yang berpotensi diselamatkan apabila pasokan air segera tersedia. Karena itu, diperlukan langkah cepat dalam jangka pendek sekaligus solusi jangka panjang.
“Untuk saat ini, masih ada tanaman yang bisa diselamatkan jika ada air. Ke depan, kami mendorong penyediaan irigasi yang memadai serta program asuransi pertanian agar petani tidak sepenuhnya menanggung kerugian,” lanjutnya.
Lebih jauh, Fadly menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan bagian dari program prioritas nasional dalam Asta Cita Presiden. Di sisi lain, mayoritas masyarakat Jeneponto menggantungkan hidup pada sektor pertanian.
“Oleh karena itu, kami berharap kebutuhan petani dapat diprioritaskan, baik dari segi infrastruktur air, perlindungan melalui asuransi pertanian, maupun kebijakan yang berpihak langsung kepada petani,” tambahnya.
HPMT Komisariat INTI pun mendesak Kementerian Pertanian untuk menghadirkan kebijakan perlindungan bagi petani, khususnya melalui program asuransi pertanian.
Pemerintah daerah Jeneponto juga diharapkan segera mengambil langkah cepat dan terukur guna mengatasi krisis air yang terjadi.
Kondisi ini menjadi peringatan serius akan pentingnya perhatian terhadap sektor pertanian, khususnya di daerah yang bergantung pada curah hujan, agar keberlangsungan produksi dan kesejahteraan petani tetap terjaga.
(ASW)
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : ASWIN