Kemenkop Gandeng CDF Kanada Dorong Koperasi Merah Putih Go Global

HARIAN.NEWS, JAKARTA — Pemerintah Indonesia resmi menggandeng lembaga pengembangan koperasi asal Kanada, Co-operative Development Foundation (CDF) Canada. Langkah ini bukan sekadar seremonial, melainkan terobosan strategis untuk membangun ekosistem koperasi nasional yang lebih modern, terintegrasi, dan berdaya saing global.
Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan Executive Director CDF Canada, Benoit Andre, di Jakarta, Jumat (24/4/2026). Kerja sama ini difokuskan pada penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP), sebuah program andalan pemerintah untuk membangkitkan ekonomi dari akar rumput.
Mengapa Kanada?
Jangan salah. Kanada bukan hanya tentang gunung es dan maple syrup. Negara tersebut adalah salah satu raksasa ekonomi koperasi dunia. Menurut World Cooperative Monitor, koperasi-koperasi Kanada konsisten menempati jajaran Top 300 koperasi terbaik dunia dengan tata kelola yang matang.
Ferry Juliantono menjelaskan, CDF Canada dipilih karena rekam jejaknya yang sudah lebih dari 75 tahun membina koperasi di berbagai negara.
“Pengalaman sukses koperasi di Kanada bisa menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia, khususnya untuk operasional Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih. Kita tidak perlu memulai dari nol,” ujar Ferry dalam keterangan persnya, Sabtu (25/4/2026).
Fokus Utama: SDM dan Rantai Pasok
Dari meja perundingan ke lapangan, ada dua poin krusial yang menjadi prioritas dalam kolaborasi ini:
1. Penguatan Sumber Daya Manusia (SDM)
Ini yang paling mendesak. Kerja sama ini akan melahirkan program pelatihan massal. Bukan hanya untuk pengurus koperasi, tapi juga untuk pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang menjadi pemasok utama. Tujuannya: mengubah pengelola koperasi dari sekadar “administrator” menjadi “entrepreneur” yang paham pasar global.
2. Integrasi Produksi Hulu-Hilir
Selama ini, koperasi Indonesia sering hanya jadi tempat simpan pinjam. Dengan adopsi model Kanada, KDKMP akan dibangun menjadi kekuatan produksi terintegrasi. Artinya, dari petani/nelayan (hulu), pengolahan, hingga pemasaran (hilir) dikelola dalam satu ekosistem. Tidak ada lagi rantai distribusi yang panjang dan memakan biaya.
Dukungan Penuh dari Negeri Maple
Benoit Andre, Executive Director CDF Canada, menyatakan bahwa pihaknya tidak datang sebagai “guru”, melainkan sebagai mitra kolaboratif.
“Kami siap mentransfer pengetahuan dan kompetensi yang kami miliki. Ini adalah langkah awal yang sangat bagus untuk kemajuan ekonomi kedua negara. Kami ingin koperasi di Indonesia tidak hanya bertahan, tapi juga tumbuh menjadi pemain utama di Asia Tenggara,” ungkap Benoit.
Apa Dampaknya untuk Rakyat?
Kerja sama ini diharapkan menjadi katalisator (pemacu) perubahan. Jika berjalan mulus, ke depan kita akan melihat:
– Koperasi Desa yang tangguh di tengah krisis ekonomi global.
– Harga komoditas lebih stabil karena petani punya pabrik sendiri (hilirisasi).
– Lapangan kerja lokal meningkat karena pengelolaan rantai produksi tidak disedot oleh tengkulak atau distributor luar daerah.
Menkop Ferry menambahkan, “Ini bukan sekadar kerja sama teknis. Ini adalah upaya memperkuat hubungan bilateral dan mewujudkan koperasi sebagai pilar utama ekonomi desa di seluruh penjuru negeri.”
Dengan berkolaborasi bersama Kanada, mimpi membangun koperasi ala Indonesia yang modern dan berdaya saing global kini memiliki peta jalan yang lebih jelas. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : ANDI AWAL TJOHENG