Ketahanan Pangan Bukan Slogan Politik

Ketahanan Pangan Bukan Slogan Politik

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Ketika konflik di kawasan Timur Tengah memanas, dunia diingatkan pada satu fakta, pangan tidak pernah benar-benar terpisah dari geopolitik. Gangguan jalur perdagangan, lonjakan harga energi, hingga spekulasi pasar komoditas membuat harga gandum, pupuk, dan logistik kembali bergejolak.

Bagi negara seperti Indonesia, situasi ini seharusnya menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan tidak boleh berhenti pada slogan politik.

Ia harus diwujudkan dalam kebijakan nyata, dari produksi yang kuat di tingkat petani, sistem distribusi yang efisien, hingga keberanian mengurangi ketergantungan impor pada komoditas strategis.

Ketahanan pangan sejatinya adalah soal kedaulatan. Negara yang tidak mampu memastikan ketersediaan pangan bagi rakyatnya akan selalu rentan terhadap guncangan eksternal, baik karena perang, krisis energi, maupun perubahan iklim.

Karena itu, setiap konflik internasional, termasuk yang terjadi di Timur Tengah, seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah dan masyarakat, bahwa pangan bukan sekadar isu pertanian, melainkan fondasi stabilitas ekonomi, sosial, dan bahkan politik sebuah bangsa.

Namun, upaya membangun ketahanan pangan juga memerlukan satu hal yang kerap terlupakan, “kepercayaan publik”.

Pemerintah tentu tidak luput dari kekurangan, mulai dari kebijakan yang belum sepenuhnya efektif hingga distribusi yang masih timpang. Meski demikian, langkah-langkah perbaikan yang terus dilakukan perlu dilihat sebagai proses panjang, bukan sekadar janji.

Masyarakat berhak bersikap kritis, tetapi pada saat yang sama penting memberi ruang bagi kebijakan yang sedang dibangun untuk membuahkan hasil. Ketahanan pangan bukan hanya tugas negara, melainkan kerja bersama antara pemerintah, petani, pelaku usaha, dan masyarakat luas.

Tanpa kepercayaan dan partisipasi publik, bahkan kebijakan terbaik pun akan sulit mencapai tujuannya.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian di Kabinet Merah Putih juga telah menunjukkan sejumlah capaian yang patut dicatat.

Produksi beras nasional dilaporkan mencapai sekitar 34 juta ton dengan stok pangan nasional yang meningkat hingga sekitar 35 juta ton (BPS), bahkan untuk pertama kalinya Indonesia mampu menjaga produksi tanpa impor beras dalam periode tertentu.

Tantangan global memang nyata, tetapi kepanikan tidak pernah menjadi jawaban. Yang lebih dibutuhkan adalah kemampuan melihat persoalan secara jernih dan utuh, bukan sekadar terpancing oleh narasi yang dramatis.

Karena itu, alih-alih terjebak dalam kegaduhan persepsi, jauh lebih bijak bagi kita untuk tetap tenang, rasional, dan percaya bahwa setiap tantangan dapat dihadapi dengan persiapan serta kerja bersama. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)