Khayali Pemimpin

OPINI
Oleh : Ridha Rasyid
(Pemerhati Kepemerintahan)
HARIAN.NEWS – Ini bukan cerita kosong atau hanya membual saja. Tetapi sebuah kenyataan yang terjadi. Syahdan, ia pandai berorasi dan sangat berapi api. Tiap kali ia berbicara pasti ada yang bombastis.
Nyaris tiada hari tanpa gagasan baru. Tanpa dicerna dengan baik atau dianalisis secara matang, begitu terlintas dalam pikirannya ia langsung menyampaikan ke publik.
Tak peduli siapa yang dia hadapi, yang terpenting ia harus menyampaikan apa yang sedang dia pikirkan. Hingga ada teman yang nyeletuk kalau pemimpin seperti ini senang berfantasi.
Sedikit glamour dalam menuangkan idenya. Tak peduli apakah nantinya bisa dilaksanakan atau tidak. Itu persoalan nanti. Yang jelas bahwa apapun yang ia sedang renungkan harus tersampaikan, meskipun audiens mendengarkannya hanya diam dan sedikit termangu.
Entah dia mengerti secuil atau bingung Tak tahu arah apa yang dia dengarkan. Pernah suatu kali, sang pemimpin berbicara pada apel pagi. Salah satu “kesenangannya” memimpin upacara. Menguraikan suatu program.
Sebabnya, itu kesempatan baginya untuk “berbagi” gagasan baru. Sama sekali baru. Original dari apa yang sedang terbersit dalam otaknya. Anehnya, begitu ia merasa puas dengan pidato yang membuat para hadirin kagum.
Lagi lagi uraian panjang lebar itu tidak disertai tahapan mewujudkannya. Setelah apel itu dikumpulkanlah para kepala satuan kerja perangkat daerah untuk mendengarkan lebih lanjut paparannya.
Disertai sedikit “ancaman” agar kepala perangkat daerah itu segera melaksanakannya. Tanpa pedoman, tanpa juklak. Laksanakan saja. Akhirnya, selang beberapa bulan, ide yang tadinya sangat bersemangat akhirnya “sepi” sendiri.
Ketika suatu waktu ia ditanya wartawan mengenai keberlanjutan program itu, maka dengan lagi lagi, berapi api ia jelaskan kendalanya. Berusaha mencari pembenaran mengapa hal itu tidak termanifestasi. Dia tidak merasa bersalah seakan akan.
Ia juga tidak merasa bahwa gagasan baik itu, menurutnya, justru tidak di mengerti jajaran di bawahnya bagaimana dan seharusnya cara apa ia dapat melaksanakannya.
Tetap percaya diri. Dan terus menggulirkan ide atau gagasan. Atau istilah yang sering dipakainya smart city dengan embel embel digitalisasi teknologi yang mendorong tumbuhnya inovasi. Pada bagian ini, begitu indah dan baik maksudnya. Kombinasi keanehan bahasa yang dimasukkan dalam program serta kegiatan dan selalu menghiasi kebijakannya.
Yang terpenting mengundang decak kagum dan orang akan mengatakan ia pemimpin yang smart. Memang, tidak ada sesuatu yang luar biasa dari apa yang kita saksikan saat ini, berangkat dari sebuah mimpi atau ilusi.
Mungkin hanya bisa dituangkan dalam bentuk animasi hingga ia menjadi hidup atau menjadikan sesuatu itu ada pada faktanya. Namun menghadapi pemimpin yang hanya gemar mengkhayal atau berilusi membutuhkan kesabaran menghadapinya.
Tidak bisa hanya bersandar pada kemanutan untuk mengikutinya, memerlukan waktu yang cukup untuk memahami itu diperlukan. Karena dengan memahami alur pelaksanaannya tentu akan memudahkan mengurai dalam pelaksanaannya. Proses menuju pendeklarasian ide hingga menjadi nyata merupakan keseluruhan kegiatan yang tersistem dengan didukung data yang kredibel.
Terlebih, terkait dengan penerapan high technologi. Baginya, bukan hanya sekedar cara melaksanakannya, juga terutama orang tahu akan apa yang akan dia lakukan. Bagaimana kelak kesudahannya, itu urutan kesekian dari prinsip yang dianutnya. Bukankah pemimpin itu adalah marketing. Pemasar akan potensi apa yang dimiliki di wilayahnya yang layak jual.
Cara menjual merupakan tata krama terpenting dalam sebuah promosi. Apakah hasilnya tidak sama dengan apa yang dijelaskannya, sekali lagi, itu urusan nanti. Walaupun sesungguhnya tenaga penasaran yang perlu dijaga adalah trust. Kepercayaan terhadap diri seorang pemimpin merupakan modal utama dalam merealisasikan kebijakan program dan kegiatannya, sehingga bila kepercayaan itu telah hilang, disebabkan oleh banyaknya pembohongan publik yang dilakukannya, maka rakyat tidak akan memberi mandat untuk melanjutkan kepemimpinannya, apatahlagi memberi amanah pada wilayah yang lebih luas. Rakyat tidak selamanya bisa dikibuli dan dibodohi, walaupun ada pihak yang mengatakan: tapi rakyat bisa “dibeli” itu bukan gambaran umum keseluruhan rakyat. Idealisasi karakter pemimpin yang dibutuhkan, nyaris tidak ada.
Teramat sulit mencarinya. Meskipun sejatinya ia ada, namun berbagai alasan orang semacam itu tidak ingin berada dalam “panggung” legitimasi kebohongan dalam rentang waktu tertentu. Atau dalam periode kekuasaannya ia harus berbohong.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News