Kunjungan Delegasi Maniwa Jadi Pemantik Transformasi Makassar sebagai Kota Hijau Masa Depan

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Tantangan pengelolaan lingkungan dan pemanasan global menuntut kota-kota besar di dunia untuk segera berbenah. Kota Makassar, sebagai salah satu metropolitan terbesar di Indonesia Timur, kini berada di persimpangan jalan penting untuk bertransformasi menjadi kota yang tangguh dan berkelanjutan.
Langkah strategis menuju visi tersebut mendapat momentum besar hari ini. Tim delegasi dari Kota Maniwa, Jepang yang dikenal luas sebagai salah satu pelopor konsep Eco-Model City Global melakukan kunjungan resmi ke Kebun Asimilasi Lapas Kelas 1 Makassar.
Kunjungan inovatif ini diinisiasi oleh Yayasan Butta Porea Indonesia, organisasi lokal di balik gerakan lingkungan “Tanami Tanata'” (Tanami Tanah Kita) yang fokus pada pengembangan konsep kebun terintegrasi di perkotaan.
Pertemuan dua wilayah yang berbeda secara geografis namun memiliki frekuensi visi yang sama ini membuka ruang diskusi besar: Bagaimana cetak biru ekonomi sirkular Maniwa dapat diadaptasi untuk mempercepat Makassar menuju Eco-Model City Global ?
Sinergi Lintas Sektor dalam Kunjungan Bersejarah
Kunjungan penting ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan kunci yang mempertegas komitmen kolaborasi internasional demi lingkungan. Turut hadir mendampingi Tim Delegasi Kota Maniwa antara lain Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar, Helmy Budiman, yang meninjau langsung potensi adopsi sistem ekologi sirkular untuk skala kebijakan kota.
Dari unsur akademisi dan pakar, hadir Prof. Agnes dari Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk memberikan tinjauan ilmiah terkait implementasi vegetasi dan tanah, serta Mashud Azikin, Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar yang mengawal keselarasan program dengan cetak biru tata lingkungan kota. Di lokasi, rombongan disambut langsung oleh Andi Pangerang Nur Akbar, Ketua Yayasan Butta Porea Indonesia, yang memaparkan lanskap taktis gerakan Tanami Tanata’ di lapangan.
Maniwa: Inspirasi dari Ibu Kota Biomassa Dunia
Maniwa, sebuah kota yang dikelilingi pegunungan di Prefektur Okayama, telah diakui dunia berkat keberhasilannya menciptakan sistem ekonomi sirkular yang mandiri berbasis pelestarian lingkungan (Satoyama). Menghadapi penurunan industri kayu tradisional, Maniwa memutar otak dengan mengintegrasikan seluruh limbah industri penggergajian dan sisa penjarangan hutan menjadi bahan bakar Pembangkit Listrik Biomassa 10 Megawatt.
Pembangkit tersebut kini mampu menyuplai energi bersih bagi 22.000 rumah tangga. Tidak berhenti di situ, sisa abu pembakarannya diolah kembali menjadi pupuk organik, menciptakan ekosistem sirkular tanpa limbah (zero-waste). Keberhasilan ini ditopang oleh keterlibatan aktif masyarakat melalui insentif mata uang lokal, membuktikan bahwa penyelamatan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi.
Kebun Asimilasi Lapas Makassar: Episentrum Baru Kebun Terintegrasi
Kehadiran delegasi Maniwa di Kebun Asimilasi Lapas Kelas 1 Makassar bukan tanpa alasan. Tempat ini merupakan proyek percontohan konsep pertanian perkotaan terintegrasi (integrated urban farming) yang dikembangkan oleh Yayasan Butta Porea Indonesia melalui gerakan Tanami Tanata’.
Di kebun ini, ekosistem mini berbasis sirkular coba diterapkan:
Integrasi Sektoral: Menggabungkan pertanian, peternakan, dan pengelolaan limbah organik dalam satu kawasan terpadu.
Asimilasi dan Edukasi: Selain sebagai paru-paru hijau kota, tempat ini berfungsi sebagai ruang pembinaan kemandirian bagi warga binaan, mempersiapkan mereka dengan keterampilan hijau (green skills) saat kembali ke masyarakat.
Model Sosial-Ekologi: Mengubah lahan tidur perkotaan menjadi lahan produktif yang mampu menyuplai pangan sekaligus mereduksi sisa sampah organik perkotaan.
Gerakan Tanami Tanata’ menangkap esensi penting dari filosofi Satoyama milik Maniwa, yaitu memulihkan hubungan harmonis antara manusia dan alam di tingkat tapak (komunitas paling bawah).
Menghubungkan Maniwa dan Makassar: Menuju Hub Hijau Global
Menghubungkan kesuksesan makro Maniwa dengan inisiatif mikro di Makassar melahirkan sebuah peta jalan baru bagi pengembangan Eco-Model City di Indonesia. Ada tiga benang merah utama yang dapat diadaptasi oleh Kota Makassar:
1. Replikasi Logistik Sirkular (Dari Sampah Menjadi Berkah)
Jika Maniwa memanfaatkan limbah kayu, maka tantangan sekaligus potensi terbesar Makassar adalah sampah domestik dan pasar. Konsep kebun terintegrasi seperti yang diinisiasi Yayasan Butta Porea Indonesia di Lapas Makassar dapat menjadi jangkar lokal pengolahan sampah organik berskala lingkungan. Sampah organik kota yang dipilah dapat dikonversi menjadi kompos kualitas tinggi untuk mendukung ketahanan pangan lokal, mengurangi beban di TPA Tamangapa secara signifikan.
2. Harmoni Tradisi dan Modernitas
Maniwa sukses mengawinkan teknologi tinggi (seperti arsitektur kayu Cross-Laminated Timber Kengo Kuma di GREENable HIRUZEN) dengan budaya tirai Noren zaman Edo. Makassar memiliki modal sosial budaya yang tak kalah kuat. Konsep arsitektur hijau masa depan di Makassar dapat mengadopsi filosofi rumah panggung Bugis-Makassar yang adaptif terhadap iklim, dipadukan dengan ruang terbuka hijau (RTH) produktif berbasis komunitas.
3. Pemberdayaan Berbasis Komunitas (Ekonomi Hijau)
Sistem uang lokal Maniwa mengajarkan bahwa partisipasi publik akan langgeng jika insentif ekonomi terbentuk. Gerakan Tanami Tanata’ dapat didorong lebih jauh oleh pemerintah kota dengan mengintegrasikannya ke dalam kebijakan makro lewat perluasan program urban farming terintegrasi, menciptakan ekosistem ekonomi hijau di mana warga mendapat nilai ekonomi langsung dari hasil kebun mandiri serta pengelolaan bank sampah lokal.
Kesimpulan: Sebuah Lompatan Besar
Kunjungan delegasi Kota Maniwa ke Kebun Asimilasi Lapas Kelas 1 Makassar hari ini menjadi simbol penting transfer pengetahuan global ke aksi lokal. Yayasan Butta Porea Indonesia bersama Dinas Lingkungan Hidup dan para akademisi telah menyalakan pemantik di sudut kota melalui model kebun yang terintegrasi ini.
Kini, dengan belajar dari keteguhan Maniwa, Kota Makassar memiliki peluang besar untuk melompat maju. Dengan komitmen politik yang kuat, kolaborasi multi-pihak, dan dukungan gerakan akar rumput, impian melihat Makassar berdiri sejajar di panggung dunia sebagai Eco-Model City Global bukan lagi sekadar angan, melainkan masa depan yang sedang kita bangun bersama.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News