Lingkar Gotong Royong: Support System Manusia di Tengah Zaman yang Terfragmentasi

Oleh: Aris Tama
Ketua Umum Aliansi Rakyat Mahasiswa Anak Daerah (ARMADA)
HARIAN.NEWS – Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, padat, dan kompetitif, manusia justru kian sering merasa sendirian. Ironisnya, di saat keterhubungan digital meningkat drastis, keterhubungan batin antarmanusia justru melemah.
Banyak orang dikelilingi oleh sesama, tetapi kehilangan support system yang benar-benar menopang hidupnya. Di titik inilah gotong royong menemukan relevansi barunya.
Dari Nilai Lama ke Kebutuhan Baru
Gotong royong selama ini kerap dipahami sebatas warisan budaya: kerja bakti, saling membantu saat hajatan, atau solidaritas ketika bencana datang. Padahal, di balik praktik-praktik itu, gotong royong sejatinya adalah sistem pendukung kehidupan manusia yang telah lama dimiliki bangsa ini.
Manusia tidak diciptakan untuk memikul hidup sendirian. Beban emosional, tekanan ekonomi, krisis makna, hingga kelelahan mental merupakan beban yang terlalu berat jika ditanggung secara individual. Gotong royong hadir sebagai mekanisme alami untuk mendistribusikan beban hidup agar tetap manusiawi.
Lingkar Gotong Royong: Relasi yang Menopang Kehidupan
Lingkar Gotong Royong adalah cara baru memandang gotong royong. Ia bukan sekadar aktivitas insidental, melainkan jejaring relasi sadar yang saling menopang.
Disebut “lingkar” karena relasi ini bersifat setara, timbal balik, dan berkelanjutan—tidak ada yang selalu di atas, dan tidak ada pula yang terus-menerus di bawah.
Setiap manusia hidup dalam beberapa lingkar sekaligus. Ada lingkar inti, tempat seseorang bisa rapuh tanpa takut dihakimi.
Ada lingkar komunitas, tempat ia berkontribusi dan bertumbuh bersama. Ada pula lingkar sosial yang lebih luas, yang menjaga kehidupan bersama tetap berjalan.
Ketika lingkar-lingkar ini sehat, manusia memiliki tempat untuk kembali, berbagi, dan menguatkan diri.
Gotong Royong sebagai Penopang Kesehatan Mental
Banyak persoalan kesehatan mental hari ini tidak semata-mata bersumber dari kelemahan individu, melainkan dari rapuhnya relasi sosial. Kesepian kronis, kelelahan emosional, dan rasa tidak berarti sering muncul karena manusia kehilangan ruang aman untuk didengar dan diterima.
Lingkar Gotong Royong menyediakan ruang tersebut. Kehadiran manusia lain yang tulus dan sadar sering kali lebih menyembuhkan daripada nasihat panjang atau solusi instan. Didengar tanpa dihakimi adalah bentuk pertolongan paling mendasar yang sering kita abaikan.
Ketahanan Sosial di Tengah Krisis
Pengalaman bangsa ini menunjukkan satu hal penting: ketika krisis datang, gotong royonglah yang pertama kali bergerak. Sebelum bantuan formal tiba, masyarakat sudah saling menolong dengan apa yang mereka miliki.
Fakta ini menegaskan bahwa gotong royong bukan romantisme masa lalu, melainkan fondasi ketahanan sosial. Lingkar Gotong Royong yang hidup membuat masyarakat lebih adaptif, tangguh, dan cepat pulih di tengah guncangan ekonomi, sosial, maupun bencana.
Lebih dari Bertahan: Menemukan Makna Hidup
Gotong royong bukan hanya soal bertahan hidup, tetapi juga tentang menemukan makna. Ketika seseorang merasa berguna bagi orang lain, hidupnya memperoleh arti. Kontribusi, sekecil apa pun, menumbuhkan rasa memiliki dan harga diri.
Dalam lingkar gotong royong, manusia tidak hanya ditolong, tetapi juga diberi ruang untuk menolong. Di sanalah martabat manusia dijaga—sebagai subjek yang berdaya, bukan objek belas kasihan.
Saatnya Menghidupkan Kembali Gotong Royong secara Sadar
Gotong royong tidak akan hidup hanya dengan slogan. Ia membutuhkan kesadaran: kesediaan untuk hadir, mendengar, dan menjaga relasi. Di keluarga, di komunitas, di tempat kerja, bahkan dalam kebijakan publik, paradigma gotong royong perlu dihidupkan kembali sebagai support system manusia.
Di tengah zaman yang terfragmentasi, Lingkar Gotong Royong adalah ajakan untuk kembali menjadi manusia seutuhnya manusia yang hidup bersama, saling menopang, dan saling menghidupkan. Karena sejatinya, tidak ada manusia yang benar-benar kuat sendirian.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News