Ma’baca Doang, Tradisi Lebaran Bugis-Makassar yang Masih Terjaga

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Masyarakat Sulawesi Selatan (Sulsel) memiliki banyak tradisi dalam menyambut Ramadan hingga hari raya Idulfitri seperti saat ini.
Salah satu tradisi yang belum ditinggalkan hingga saat ini,adalah tradisi Idulfitri sebagi rasa syukur dan sebagai bentuk mengingat leluhur yang lebih dulu telah meninggal, yaitu Ma’baca doang.
Ma’baca Doang memiliki arti memanjatkan doa dalam bahasa Bugis-Makassar. Pembacaan doa biasanya dilakukan oleh imam, ustaz, pemuka agama, atau warga yang fasih membaca doa dalam Alquran serta yang dipercaya mampu melakukan hal tersebut.
Sejarah dan Budayawan Hasan Husain mangatakan, Ma’baca Doang atau Suru Maca yang berarti membaca juga merupakan ritual menjelang Bulan Ramadan sehari sebelum lebaran dan ada yang melakukannya setelah menjalankan salat Idulfitri.
“Sudah lama dilakukan masyarakat Bugis-Makassar dan harus dirawat,” kata Hasan nama karibnya, Rabu (10/4/2024).
Katanya, Ma’baca Doang sudah dilakukan oleh nenek moyang suku Bugis-Makassar sejak lama sebelum Islam masuk ke tanah Sulsel khusunya Kerajaan Gowa.
Setelah masuk ajaran Islam hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip dakwah untuk menyebarkan agama.
“Sejak Islam masuk di Gowa sudah sesuai prinsip dakwa dan sebelumnya Islam sebagai tradisi mengingat leluhur,” katanya.
“Tidak ada masalah sebab tradisi itu mendukung dakwah, silaturahmi dan sedekah makanan, yang penting niatnya karena Allah SWT,” lanjutnya.
Tak hanya itu, Ma’baca Doang juga bisa sebagai tolak bala atau penolakan dari bencana serta membebaskan diri dari pengaruh jahat seperti kepercayaan masyarakat Indonesia pada umumnya.
“Dan tentu juga sebagai tolak bala,” singkat Hasan.
Hal tersebut dapat dilihat dari menu utama yang disajikan untuk Ma’baca Doang, yaitu beras ketan putih yang menyimbolkan pemersatu.
“Makanannya diwarnai songkolo sebagai kaddo minnya, sebagai simbol pemersatu, makanan lain sesuai kemampuan pelaku (yang melaksanakan),” ujarnya.
Menurut Hasan, Ma’baca Doang adalah salah satu bentuk mempererat silaturahmi kekeluargaan, dan bertetangga.
Juga menciptakan rasa saling berbagi di antara setiap manusia yang melakukan tradisi tersebut.
“Kalau ma’baca biasa yang punya acara memanggil keluarga dan tetangga nah ini akan tercipta silaturahmi dan berbagi yang baik,” katanya.
Ia yakin bahwa tradis Ma’baca Doang akan terus dilanjutkan setiap generasi ke generasi tidak terkecuali Gen Z, sebab sampai saat ini masih banyak yang melakukan hal tersebut.
“InsyaAllah akan terawat karena pelakunya turun-temurun dan tetap dalam bingkai dakwah,” harapnya.
(NURSINTA)
Baca berita lainnya Harian.news di Google News