Manfaat MBG Mulai Terasa, Tantangan Tak Bisa Diabaikan

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus memantik perdebatan publik. Apresiasi dan kritik datang bersamaan, menandakan satu hal penting, MBG adalah kebijakan besar yang dampaknya mulai terasa, namun pelaksanaannya masih membutuhkan perbaikan serius.
Dari sisi tujuan, MBG memiliki landasan yang kuat. Pemberian makanan bergizi kepada anak sekolah berpotensi meningkatkan konsentrasi belajar, kesehatan jangka panjang, serta menekan angka stunting.
Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, program ini bukan sekadar bantuan sosial, melainkan investasi jangka panjang.
Dampak ekonomi MBG juga mulai terlihat. Program ini menyerap hingga sekitar satu juta tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung. Rantai manfaatnya menjangkau dapur produksi, distribusi, hingga sektor hulu seperti pertanian, peternakan, dan perikanan.
Keterlibatan UMKM pangan serta penggunaan bahan baku lokal turut menggerakkan ekonomi daerah dan menciptakan efek berganda. Bagi banyak ibu rumah tangga dan pekerja informal, MBG bahkan menjadi sumber penghasilan baru yang relatif stabil.
Namun, manfaat tersebut tidak menutup mata dari berbagai persoalan. Kesiapan infrastruktur dan logistik masih menjadi tantangan, terutama dalam menjangkau wilayah terpencil. Kualitas dan ketepatan distribusi makanan belum sepenuhnya merata. Di sisi lain, besarnya anggaran program menuntut transparansi dan pengawasan yang ketat agar tidak membuka ruang pemborosan maupun ketidaktepatan sasaran.
Kritik juga muncul terkait keberlanjutan dampak ketenagakerjaan. Penyerapan tenaga kerja yang besar perlu diiringi peningkatan keterampilan agar tidak berhenti sebagai pekerjaan sementara, melainkan menjadi penguat ekonomi lokal dalam jangka panjang.
Dalam situasi ini, MBG seharusnya tidak dinilai secara hitam-putih. Program ini belum layak disebut gagal, tetapi juga belum pantas diklaim sukses sepenuhnya. Manfaat awal yang mulai dirasakan menunjukkan potensi besar, asalkan pemerintah konsisten melakukan evaluasi terbuka, memperbaiki tata kelola, dan melibatkan publik dalam pengawasan.
MBG pada akhirnya mencerminkan realitas kebijakan publik berskala besar, selalu berjalan di antara harapan dan kritik. Selama kritik diperlakukan sebagai alarm perbaikan, bukan ancaman politik, maka MBG berpeluang berkembang menjadi kebijakan berkelanjutan yang menjawab persoalan gizi sekaligus ekonomi secara lebih merata. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)