Mantan Kombatan Terorisme Kini Jadi Pelopor Deradikalisasi di Makassar

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Suryadi Mas’ud, mantan kombatan jaringan terorisme internasional yang pernah terlibat dalam sejumlah aksi teror besar di Indonesia dan Asia Tenggara, kini bertransformasi menjadi pelopor gerakan pencegahan radikalisme di Sulawesi Selatan.
Nama Suryadi pernah tercatat dalam berbagai kasus terorisme nasional maupun internasional. Ia disebut terlibat dalam insiden pengeboman di McDonald’s Makassar tahun 2002, menjadi pemasok bahan peledak untuk peristiwa Bom Bali I, memimpin latihan militer di Janto, Aceh pada 2008, hingga diduga berperan dalam perencanaan aksi bom dan penembakan pada peristiwa berdarah di kawasan Sarinah Thamrin, Jakarta, tahun 2016.
Kisah perjalanan hidupnya terungkap saat ia hadir sebagai narasumber dalam podcast “Kata Abangda” yang dipandu Dedy Alamsyah Mannaroi.
Jejak Internasional hingga Nusakambangan
Suryadi pernah berkiprah hingga Filipina Selatan, khususnya di wilayah Mindanao, sebagai bagian dari jaringan ISIS Asia Tenggara. Di sana, ia berperan sebagai perancang strategi operasi, pelatih militer, serta penguasaan berbagai jenis senjata api dan perakitan bom.
Setelah ditangkap dan menjalani hukuman di Lapas Nusakambangan, ia mengikuti program deradikalisasi dan memperoleh pembebasan bersyarat pada 13 Februari 2023.
Pada pertengahan 2023, di kampung halamannya di Malua, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Suryadi menyampaikan pernyataan terbuka bersumpah setia kepada NKRI, Pancasila, dan UUD 1945.
Sejak itu, ia aktif bekerja sama dengan Dit Intelkam Polda Sulsel dan Densus 88 AT Polri dalam berbagai kegiatan edukasi dan pencegahan radikalisme.
Yayasan Rumah Moderasi Makassar Jadi Wadah Pembinaan
Berdasarkan pengalaman dan gagasan kreatifnya, Suryadi menjadi pelopor terbentuknya Yayasan Rumah Moderasi Makassar (YRMM) pada awal 2025. Yayasan ini berdiri atas dukungan dan kerja sama Direktur Intelkam Polda Sulsel, Kombes Pol Hajat Mabrur Bujangga, S.H., S.I.K., M.M., serta Kasatgaswil Densus 88 AT Polri Wilayah Sulsel.
YRMM kini menjadi pusat interaksi sosial antara eks narapidana terorisme (napiter) dan masyarakat umum. Tercatat sebanyak 80 eks napiter dibina secara berkelanjutan oleh personel Subdit Kamneg Dit Intelkam dan Densus 88 AT Polri.
Program pemberdayaan yang dijalankan meliputi:
– Usaha penjualan kopi dan makanan siap saji
– Produksi kue tradisional
– Layanan pemotongan daging ayam
– Service handphone
– Bengkel dan pencucian motor
Program ini bertujuan membantu eks napiter kembali berintegrasi dengan masyarakat serta memiliki sumber penghasilan yang layak dan mandiri.
Relawan Program Makan Bergizi untuk 3.000 Siswa
Pada pertengahan Maret 2026, Suryadi bersama 11 eks napiter dan 32 anggota keluarga mereka akan terlibat sebagai relawan SPPG Polri. Mereka akan melayani sekitar 3.000 siswa sekolah dasar dan menengah dalam penyediaan makanan bergizi guna mendukung program unggulan Presiden Prabowo Subianto.
“Saya menyesali seluruh tindakan saya di masa lalu dan berkomitmen memberikan kontribusi positif. Yayasan Rumah Moderasi Makassar adalah bukti bahwa manusia bisa berubah dan kembali bermanfaat bagi negara,” ujar Suryadi.
Sebagai bentuk penyesalan, setelah masa pembebasan bersyaratnya berakhir pada 9 Maret 2026, ia berencana melakukan perjalanan keliling Sulawesi Selatan untuk menemui keluarga para mantan murid yang pernah direkrutnya, guna meminta maaf secara langsung.
Model Deradikalisasi Berbasis Pembinaan dan Kemandirian
Direktur Intelkam Polda Sulsel, Kombes Pol Hajat Mabrur Bujangga, menegaskan bahwa Yayasan Rumah Moderasi Makassar menjadi salah satu contoh efektif model deradikalisasi berbasis pembinaan sosial dan pemberdayaan ekonomi.
Program ini diharapkan terus berkelanjutan, tidak hanya sebagai sarana rehabilitasi, tetapi juga sebagai langkah preventif dalam mendeteksi dan mencegah potensi ancaman terorisme serta radikalisme di Sulawesi Selatan.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News