Masjid Arab, Menelusuri Jejak Sejarah Islam di Kota Makassar Sejak 1907
HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Di tengah hiruk-pikuk Kota Makassar yang terus berkembang, berdiri sebuah masjid berusia lebih dari satu abad yang menyimpan jejak sejarah panjang peradaban Islam di kota ini.
Bagi wisatawan yang melakukan perjalanan ke Kota Makassar, Masjid Arab adalah salah satu destinasi yang tidak boleh dilewatkan. Jejak sejarah yang kental, tradisi yang masih terjaga, serta atmosfer spiritual yang khas menjadikan tempat ini sebagai tempat istimewa untuk menapaki kembali perjalanan Islam di kota ini.
Begitu memasuki area masjid, pengunjung disambut oleh suasana yang teduh dengan dominasi warna hijau, lahan parkir yang luas, serta dua pohon kurma yang rindang. Sekawanan merpati terbang mengitari masjid, menciptakan nuansa yang khas dan asri.
Di dalam masjid, dinding berwarna krem dengan kaligrafi hijau memberi kesan menenangkan. Pintu kayu berwarna cokelat menambah aksen klasik, sementara kaligrafi berwarna senada memperkuat nuansa sejarah masjid ini.
Masjid ini sejak tahun 1907, menjadi saksi bisu perjalanan komunitas Muslim dari Arab, India, dan Pakistan yang pernah mendiami kawasan sekitarnya.
“Masjid ini dibangun oleh komunitas Arab, India, dan Pakistan yang dulu banyak bermukim di sekitar sini,” ujar pengurus masjid, Ali Abdullah.
“Namun, seiring waktu, banyak dari mereka yang pindah ke kota lain atau ke luar negeri, dan sekarang lingkungan sekitar lebih banyak dihuni oleh warga keturunan Tionghoa,” ujarnya.
Ali, sapannya, menambahkan bahwa pada masa lalu, kawasan ini didominasi oleh pemukiman warga keturunan Arab, India, dan Pakistan. Namun, mereka perlahan mulai berpindah, termasuk beberapa tokoh ternama seperti Quraish Shihab dan Umar Shihab yang dahulu memiliki rumah di sekitar Jalan Sulawesi dan Jalan Nusantara sebelum akhirnya pindah ke Jakarta, Surabaya, bahkan hingga ke Malaysia.
Pergeseran demografi semakin nyata setelah proyek pelebaran Pelabuhan Makassar, yang mengharuskan banyak warga pindah dan menjual rumah mereka. Kini, kawasan sekitar masjid lebih banyak dihuni oleh komunitas Tionghoa. Namun, Masjid Arab tetap berdiri kokoh sebagai peninggalan sejarah yang berharga.
Tradisi yang Terjaga
Salah satu tradisi yang masih dipertahankan di Masjid Arab adalah tidak adanya jemaah perempuan dalam salat lima waktu maupun Salat Idulfitri.
Tradisi ini merujuk pada hadits Nabi Muhammad SAW yang menyebutkan bahwa wanita lebih utama melaksanakan salat di rumah.
“Dari dulu memang tidak ada jamaah perempuan di sini,” kata Ali yang juga menjabat sebagai Bendahara Masjid.
“Bukan karena kami melarang, tetapi ini sudah menjadi tradisi yang diwariskan sejak awal berdirinya masjid. Kami tetap menyediakan mukena untuk musafir, tapi untuk jamaah tetap, semuanya laki-laki.” ujar Ali Abdullah.
Keunikan ini sering kali mengejutkan para pengunjung yang datang dalam rangka safari masjid. Beberapa jamaah perempuan yang tidak mengetahui tradisi ini memilih meninggalkan masjid setelah menyadari bahwa mereka tidak bisa ikut berjamaah. Seiring waktu, kebiasaan ini telah menjadi tradisi yang dijaga turun-temurun.
Simbol-simbol di Halaman Masjid

Merpati jadi peliharaan di Masjid Arab, yang diyakini mengikuti masjid Nabawi yang sering dikerumini oleh Merpati. Foto: Hn/Sinta
Di halaman masjid, terdapat dua pohon kurma yang ditanam sekitar sepuluh tahun lalu. Sebelumnya, pohon kurma yang lebih besar sempat tumbuh di lokasi yang sama, tetapi akhirnya mati.
Meski berbunga, pohon kurma di masjid ini tidak pernah berbuah. Keberadaannya lebih sebagai simbol yang mengingatkan jamaah pada suasana di Timur Tengah.
“Pohon kurma ini hanya sebagai simbol, bukan untuk menghasilkan buah,” jelas Ali.
“Dulu ada pohon yang lebih besar, tapi mati, jadi kami tanam lagi. Banyak jamaah yang senang karena merasa seperti di Mekkah.”
Selain itu, terdapat kawanan merpati yang menghiasi area masjid. Awalnya hanya sedikit, tetapi jumlahnya meningkat setelah pengurus masjid menyediakan pakan dan menerima sedekah dari jamaah untuk membeli makanan burung.
“Kami melihat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi banyak merpati, jadi kami coba pelihara di sini,” ujarnya.
Tak hanya itu, suasana Masjid Arab juga menghadirkan nostalgia bagi mereka yang pernah menunaikan ibadah haji atau umrah.
“Banyak jamaah yang baru pulang haji bilang suasananya jadi terasa seperti di Mekkah.”
Jejak Sejarah yang Tak Terlupakan
Suasana di Masjid Arab. Foto: HN/Sinta
Dahulu, Masjid Arab memiliki dua lantai, dengan lantai atas berfungsi sebagai tempat transit bagi calon jamaah haji.
Sebelum pesawat menjadi moda transportasi utama, jamaah haji dari berbagai daerah seperti Ambon, Palu, dan Manado singgah di Makassar dan menginap di masjid ini sebelum melanjutkan perjalanan ke Mekkah menggunakan kapal laut.
“Jamaah haji dulu tidak langsung naik pesawat seperti sekarang,” jelas Ali.
“Mereka transit di sini sebelum naik kapal ke Mekkah. Lantai atas masjid ini dulu digunakan untuk menampung mereka.” terang Ali.
Kini, meskipun zaman telah berubah dan lingkungan sekitar telah banyak berganti, Masjid Arab tetap menjadi bagian penting dari sejarah Islam di Makassar. Keberadaannya bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai warisan budaya dan pusat spiritual yang terus hidup di tengah modernisasi kota.
PENULIS: NURSINTA
Baca berita lainnya Harian.news di Google News