Membaca Kiprah Akademik Dr. Muhammad Aras Prabowo dalam Mendorong Mutu Pendidikan Tinggi

Oleh : Sintia Nur Afifah
(Mahasiswa Akutansi UNUSIA Jakarta)
HARIAN.NEWS – Dalam lanskap pendidikan tinggi Indonesia yang tengah berupaya keluar dari stagnasi mutu, kehadiran figur akademisi yang konsisten mendorong pembaharuan menjadi kebutuhan mendesak.
Salah satu sosok yang mencuri perhatian beberapa tahun terakhir adalah Dr. Muhammad Aras Prabowo, seorang akademisi yang kiprahnya tidak hanya terlihat di ruang kelas, tetapi juga dalam pembentukan gagasan, kebijakan, dan gerakan peningkatan kualitas perguruan tinggi.
Ia meyakini bahwa kampus bukan hanya ruang transfer pengetahuan, melainkan ruang pembentukan karakter, pusat produksi pengetahuan, dan laboratorium sosial yang menyiapkan generasi pemimpin masa depan. Keyakinan tersebut menjadi fondasi dari berbagai gagasannya yang terus diperjuangkan hingga hari ini.
Dr. Muhammad Aras Prabowo dikenal cukup vokal terhadap isu standarisasi mutu akademik. Baginya, pendidikan tinggi akan sulit maju jika perguruan tinggi hanya fokus pada sisi administratif tanpa memperbaiki kualitas pembelajaran, riset, dan budaya akademik.
Ia beberapa kali menegaskan bahwa lembaga pendidikan tinggi harus berani bertransformasi: memperkuat ekosistem penelitian, melibatkan mahasiswa dalam proyek ilmiah, menghadirkan dosen sebagai mentor bukan sekadar pengajar, dan menyiapkan lulusan dengan kompetensi yang relevan terhadap kebutuhan industri dan masyarakat.
Pemikirannya ini sejalan dengan tantangan global di mana perguruan tinggi bukan hanya berperan mencetak sarjana, tetapi menjadi motor inovasi dan penyelesaian masalah publik.
Komitmen akademiknya juga terlihat dalam keterlibatannya di berbagai forum nasional dan internasional. Dalam berbagai kesempatan, ia mendorong agar kampus tidak takut bersaing dan berkolaborasi. Persaingan sehat, menurutnya, bukan soal mengejar peringkat, melainkan memastikan bahwa semua unsur kampus bekerja untuk menciptakan kualitas.
Sementara kolaborasi antarperguruan tinggi, dunia industri, pemerintah, dan masyarakat adalah syarat mutlak untuk membangun ekosistem pendidikan yang dinamis. Kiprah ini memperlihatkan bahwa ia tidak berhenti pada tataran teori, melainkan bergerak dalam jejaring strategis yang mendorong perubahan nyata.
Pandangan Dr. Muhammad Aras Prabowo mengenai peran dosen juga cukup progresif. Ia menolak pandangan lama yang menempatkan mahasiswa sebagai objek yang hanya menerima materi.
Sebaliknya, ia menempatkan mahasiswa sebagai subjek pembelajaran yang berhak atas ruang berpikir kritis, ruang ekspresi ilmiah, dan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan inovasi. Dosen, menurutnya, harus menjadi fasilitator pertumbuhan intelektual dan moral.
Ketika dosen mampu menghadirkan ruang demokratis dan komunikatif di kelas, maka perguruan tinggi bukan hanya melahirkan lulusan pintar, tetapi juga bermoral dan berintegritas.
Selain fokus pada kompetensi lulusan, Dr. Muhammad Aras Prabowo mendorong reformasi manajemen kampus agar lebih transparan, adaptif, dan partisipatif. Pengambilan keputusan di kampus tidak boleh hanya tertutup oleh elit birokrasi akademik, melainkan harus melibatkan unsur sivitas akademika secara luas.
Semakin besar partisipasi dosen dan mahasiswa dalam pembangunan kampus, maka semakin kuat legitimasi dan kualitas kebijakan yang dihasilkan. Ia menilai bahwa keterbukaan informasi, akuntabilitas, dan evaluasi berkala menjadi elemen yang tidak dapat dinegosiasikan dalam upaya peningkatan mutu.
Wawasan dan kontribusinya pada pengembangan keilmuan juga tampak dari produktivitasnya dalam riset dan publikasi ilmiah. Ia menganggap budaya riset bukan sekadar tuntutan SKS atau kenaikan jabatan fungsional, tetapi kewajiban moral akademisi dalam menyumbangkan pengetahuan kepada masyarakat.
Kualitas riset di Indonesia, menurutnya, akan meningkat jika kampus mampu membangun kultur kolaborasi lintas disiplin dan memastikan riset tak berhenti di jurnal, tetapi menjadi rekomendasi kebijakan atau inovasi sosial yang dapat diimplementasikan.
Di tengah derasnya arus perubahan global, komitmen Dr. Muhammad Aras Prabowo untuk menjaga idealisme akademik tanpa melepaskan kebutuhan dunia kerja menjadikan pemikirannya relevan untuk masa depan pendidikan tinggi. Ia memegang prinsip bahwa perguruan tinggi harus mampu membentuk manusia yang cerdas, etis, dan adaptif.
Lulusan harus siap bersaing tanpa kehilangan karakter kemanusiaannya. Oleh karena itu, ia menolak dikotomi sempit antara kampus sebagai ruang akademik murni dan kampus sebagai penyedia tenaga kerja; keduanya harus saling terintegrasi dengan tetap menjunjung nilai keilmuan.
Pada akhirnya, kiprah Dr. Muhammad Aras Prabowo mengingatkan bahwa kualitas pendidikan tinggi bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya. Ia adalah hasil perjuangan intelektual, advokasi kebijakan, budaya akademik yang sehat, dan komitmen untuk terus berbenah.
Selama perguruan tinggi di Indonesia tetap memiliki sosok-sosok akademisi yang berani berpikir, bekerja, dan mengawal perubahan seperti dirinya, harapan untuk melihat pendidikan tinggi Indonesia menjadi lebih bermutu bukanlah utopia. Itu adalah tujuan besar yang membutuhkan keseriusan semua pihak, mulai dari pengelola kampus hingga para civitas akademika tanpa terkecuali.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News