Memperbaharui Cara Berpikir Kuno

Memperbaharui Cara Berpikir Kuno

HARIANEWS, MAKASSAR – Pemerintah kerap melabeli generasi muda sebagai generasi emas. Tapi emas tidak lahir dari generasi yang hanya bisa tunduk, diam, dan patuh. Emas ditempa dari keberanian bersuara dan melawan ketidakadilan. Bila suara-suara kritis dibungkam dan perbedaan pendapat dianggap ancaman, maka demokrasi telah berubah rupa menjadi otoritarianisme berkedok kebebasan.

Ada satu masalah mendasar yang kerap disembunyikan di balik jargon pembangunan: ketimpangan yang menganga dan sistem bernegara yang makin kehilangan arah. Kita percaya masih banyak orang baik dalam kekuasaan namun kita juga tau maling juga banyak.

Penerapan hukum berbeda —digunakan sesuka hati oleh para penguasa untuk melindungi diri dan mengaburkan yang bersuara lantang. Mahasiswa dan aktivis adalah generasi muda yang turun ke jalan bukan karena mereka ingin berkuasa namun karena perut kosong dan keadilan tidak berpihak.

Respon negara? Alih-alih mendengar, aparat memilih menekan. Demonstrasi diberi label “makar”, “antek asing”, atau bahkan “terorisme”. Rakyat minta dimanusiakan dan apakah itu terlalu sulit untuk negara yang mengklaim diri sebagai demokrasi terbesar ketiga di dunia?

Demokrasi hanya bisa mencapai nilai substantifnya ketika kritik dan perdebatan menjadi cara bernegara sehari-hari. Gerakan harus difasilitasi bukan dimatikan.

Harga beras melambung, PHK di mana-mana, akses pendidikan dan kesehatan makin menjauh dari kesehatan mental dan jasmani. Sementara, wakil rakyat di Senayan berjoget, memamerkan kekayaan.

Bukan rahasia mereka mewakili tetapi mengakali. Baru-baru dana reses yang salah transfer seharusnya Rp 702 juta namun ditransfer sebesar Rp 756 juta, perdebatan ini buang waktu mereka punya tesis tersendiri kita juga memiliki antitesis sendiri.

Ledakan demonstrasi yang terjadi Agustus lalu bukan sekadar demonstrasi, melainkan rakyat frustrasi karena dikhianati oleh mereka yang dipilih untuk memperjuangkan, ternyata lupa diri.

Beberapa dari mereka mungkin dinonaktifkan, tapi jika pola pikir masih beku dan respons terhadap kritik masih kuno dan primitif, maka yang tumbuh bukan solusi—melainkan generasi pengganti yang sama kosongnya: tidak cakap, tidak jujur, dan tidak peduli.

Standar ganda negara begitu nyata. Aktivis dan mahasiswa diperlakukan seperti ancaman, sementara pelanggaran dari dalam dilegalkan dengan bungkus kebijakan. Di negeri ini, yang berbeda dianggap berbahaya, dan yang berani dianggap pemberontak. Bahkan mengibarkan bendera Onepiece sebagai simbol perlawanan pun dituduh makar.

Sudah saatnya meninggalkan cara berpikir usang yang hanya melanggengkan kekuasaan. Negara perlu membuka diri, bersedia mendengar, dan mau berpihak pada rakyat kecil bukan oligarki saja. Dibutuhkan cara berpikir yang reflektif, adaptif, dan progresif—bukan paranoid terhadap kritik.

Anak muda hari ini bukan musuh negara, mereka hanya ingin negara berpihak dan mengayomi, tidak memeras dengan bayar pajak.
Perubahan tidak datang dari diam. Dan emas tidak lahir dari manusia yang hanya manggut-manggut. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Penulis : IGA KUMARIMURTI DIWIA (PEMRED HARIAN.NEWS)