Mengenal Child Grooming Lewat Riset dan Kisah Aurelie Moeremans dalam Broken Strings

Mengenal Child Grooming Lewat Riset dan Kisah Aurelie Moeremans dalam Broken Strings

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Isu child grooming semakin mendapat perhatian karena dampaknya yang serius terhadap tumbuh kembang anak dan remaja. Buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans semakin membuka ruang refleksi publik.

Dalam Broken Strings, Aurelie menggambarkan bagaimana relasi yang awalnya terasa aman dan penuh perhatian perlahan berubah menjadi hubungan yang mengekang. Narasi ini sejalan dengan temuan banyak penelitian yang menyebut grooming sebagai proses bertahap yang sering tidak disadari oleh korban.

Secara akademik, child grooming didefinisikan sebagai strategi manipulatif yang digunakan pelaku untuk membangun kepercayaan dan ketergantungan emosional anak sebelum terjadi eksploitasi. Penelitian Craven, Brown, dan Gilchrist (2006) menyebut grooming sebagai proses sistematis yang melibatkan pemilihan korban, pembangunan kepercayaan, isolasi, dan normalisasi perilaku menyimpang.

Penelitian lain yang dipublikasikan dalam Journal of Sexual Aggression menunjukkan bahwa sebagian besar korban grooming tidak langsung menyadari dirinya sedang dimanipulasi. Hubungan tersebut sering dipersepsikan sebagai bentuk perhatian, bimbingan, atau kasih sayang, terutama ketika pelaku hadir sebagai figur yang dianggap peduli.

Buku Broken Strings mencerminkan fase-fase tersebut. Aurelie tidak menekankan pada peristiwa tunggal, melainkan pada proses emosional yang berlangsung lama, di mana batasan pribadi perlahan terkikis dan ketergantungan terbentuk secara halus.

Riset dari UNICEF dan ECPAT International juga menyoroti bahwa grooming kerap terjadi tanpa kekerasan fisik di tahap awal. Manipulasi psikologis menjadi inti, seperti membuat korban merasa istimewa, merasa bersalah, atau takut kehilangan relasi yang dianggap penting.

Dalam konteks digital, penelitian dari Child Abuse & Neglect Journal menyebut bahwa perkembangan media sosial memperluas ruang terjadinya grooming. Komunikasi privat, anonimitas, dan intensitas interaksi daring membuat proses pendekatan semakin sulit dideteksi.

Meski demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa grooming tidak hanya terjadi secara online. Banyak kasus terjadi di lingkungan terdekat anak, termasuk komunitas, sekolah, atau relasi yang telah memiliki kepercayaan sosial.

Dalam Broken Strings, refleksi Aurelie tentang dampak emosional di masa dewasa selaras dengan temuan tersebut. Buku ini menunjukkan bahwa pemulihan bukan proses instan, melainkan perjalanan panjang untuk memahami pengalaman masa lalu.

Melalui perpaduan antara pengalaman personal dalam Broken Strings dan temuan ilmiah tentang child grooming, publik diajak melihat isu ini secara lebih utuh. Bukan sekadar kisah individu, melainkan persoalan struktural yang membutuhkan kesadaran, pendidikan, dan keberpihakan pada keselamatan anak.

 

Baca berita lainnya Harian.news di Google News