Mengenal Sosok Imam Hanafi, Pengatur Lalu Lintas Pertigaan UIN Alauddin Makassar

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Bagi warga Kelurahan Samata Kecamatan Somba Opu dan Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar Kabupaten Gowa, yang kerap melewati jalan di pertigaan UIN Samata dan Bundaran Jalan H M Yasin Limpo, tentu sering melihat pengatur lalu lintas yang senyum ramah.
Siapa yang tak kenal bapak yang satu ini? Pasalnya, hampir setiap hari di pagi, sore dan malam Ia mengatur lalu lintas. Pria berkulit hitam itu bernama Imam Hanafi, warga asal Mojokerto Jawa Timur. Pertama kali menginjakkan kaki di tanah Sulawesi Selatan ini sekitar 13 tahun yang lalu tepatnya tahun 2010.
Tak ada keluarga, ia datang ke tanah daeng ini hanya seorang diri. Istri bersama tiga orang anaknya Ia tinggal di Mojokerto. Lelaki kelahiran 1970 ini datang ke Kabupaten Gowa untuk mengadu nasib.
“2010 saya mulai datang ke Makassar. Saya sendirian ke sini tanpa keluarga. Keluarga di Jawa semua, Mojokerto. Anak di Jawa 3,” ujarnya sambil mengingat kehidupan yang Ia lalui selama di Kota Daeng, kepada wartawan harian.news, Jumat (22/12/2023) kemarin.
Merasa prihatin karena banyak mahasiswi yang kesulitan menyeberang jalan, dan pengguna kendaraan sering kecelakaan pada pertigaan Kampus UIN Alauddin Makassar, membuat Ia tergerak mengambil peran di sana.
Atas dasar itulah, lelaki 43 tahun rela menjadi pengatur lalu lintas untuk membantu sesama agar bisa bermanfaat bagi banyak orang. Tidak ada gaji yang diterima, semua itu dia lakukan atas kesukarelaan.
Baginya, tidak ada yang lebih penting dari keselamatan dan membantu orang lain.
“Bagi saya itu tadi tidak terlalu memikirkan duitlah. Karena duit kalau mati gak dibawa. Bagi saya harta itu nomor dua, yang penting banyak saudara udah aman. Karena saya di sini tanpa keluarga, hanya seorang diri,” kata Imam mengisahkan.
Walaupun hanya kesukarelaan, namun tak jarang ada juga pengendara yang memberinya uang.
“Tapi sebagian ada yang ngasih. Tapi yang penting tujuannya aman, paling banyak yang tidak ngasih. Tapi paling banyak kalau ngasih yaa Rp 50 ribu hingga Rp 100 dan kadang tidak ada sama sekali, kosong,” ungkapnya.
Bermodal seragam polisi dan sempritan yang Ia peroleh dari Polres Gowa, Ia lantas menjalani hari-harinya sebagai pengatur lalu lintas. Imam Hanafi juga mengungkapkan bahwa hal tersebut ia lakukan karena hobi sekaligus menghibur diri.
“Saya ke sini cuma merantau sendiri, kalau begini kan bukan kerja, cuma hiburan aja, tidak ada gaji,” jelasnya.
Ayah 3 orang anak ini tidak akan meninggalkan jalan yang menghubungkan Jalan Macanda dan Jalan Tun Abdul Razak itu jika belum benar-benar sunyi. Ia bahkan sampai jam 7 malam untuk mengatur lalu lintas.
“Kalau pagi kadang mulai jam 7 atau jam 8 apalagi kalau hari Senin pasti padat dan kalau pulang kadang jam 5 sore atau jam 7. Tapi tergantung kapan sepinya,” katanya.
Namun ia mengaku pekerjaan pokoknya di tanah Gowa, sebagai pencari makanan burung yaitu sarang semut.
“Pekerjaan pokok cari makanan burung yang di atas pohon itu telur semut merah dan dijual ke Toddopuli pasar burung, di sana ada langganan,” ungkapnya sambil sesekali melap keringat yang memabasahi dahinya.
Walaupun dari hasil menjual sarang semut yang dijualnya Rp 250 ribu per kilo tak cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya, namun ia tetap berusaha menyisihkan sebagian hasil penjualannya untuk dikirim ke keluarga di Mojokerto.
“Awalnya datang ke sini saya kerja di tempat bikin kursi dari roda mobil tapi tidak cocok, gajinya kecil jadi saya tinggalkan mending bikin usaha sendiri. Tidak per bulan kirim uang, lama saya gak kirim, kalau tahun ini baru lebaran kemarin kirim uang,” pungkasnya sambil merapikan korek api di saku bajunya.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : NURSINTA