Merawat Semangat: Karena Kita Semua Adalah Buruh

Oleh : Ade Enaz Mappajanci
(Pemuda Sulawesi Selatan)
Pesan Solidaritas Hari Buruh untuk Makassar dan Sulawesi Selatan
HARIAN.NEWS – Di Kota Makassar, kota majemuk yang senantiasa diselimuti hembusan Angin Mammiri di jazirah Sulawesi Selatan, jutaan tetes keringat jatuh setiap hari.
Tetes-tetes itu bukan sekadar air, melainkan saksi bisu dari roda ekonomi yang terus bergerak—dari titik-titik reklamasi pesisir Pantai Losari hingga kapal-kapal yang berlayar dari Makassar New Port, Pelabuhan Soekarno-Hatta, membawa harapan bagi banyak kehidupan.
Pada momentum Hari Buruh Internasional ini, sudah sepatutnya kita berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan memberikan penghormatan kepada setiap insan yang mengerahkan tenaga, pikiran, dan waktunya demi menghidupi keluarga sekaligus membangun daerah yang kita cintai.
Sebagai pemuda yang lahir dan tumbuh di tengah dinamika zaman, saya menyadari satu hal penting yang kerap luput dari kesadaran bersama: pada hakikatnya, kita semua adalah buruh.
Sering kali kita terjebak dalam sekat profesi dan simbol-simbol seragam. Buruh kerap dipersempit maknanya hanya pada mereka yang bekerja di pabrik, pelabuhan, atau turun ke jalan membawa tuntutan.
Padahal, makna buruh jauh lebih luas. Buruh adalah pekerja kantoran yang setiap pagi menembus padatnya Jalan A.P. Pettarani. Buruh adalah barista di warung kopi Makassar yang tak pernah benar-benar tidur.
Buruh adalah pekerja kreatif, freelancer, pengemudi ojek online, hingga para pemuda yang sedang berjuang menembus kerasnya persaingan dunia kerja modern.
Kita semua menukar waktu, tenaga, pikiran, bahkan kesehatan untuk bertahan hidup.
Kita semua berada di bawah tekanan target, sistem, dan kebutuhan ekonomi. Maka jika kita berdiri di atas tanah perjuangan yang sama, merasakan lelah yang serupa, mengapa kita tidak saling menguatkan?
Sebagai generasi muda Sulawesi Selatan, kita mewarisi falsafah luhur: “Reso temmangingngi namalomo naletei pammase dewata”—kerja keras yang dilakukan tanpa mengenal lelah akan selalu mendapat berkah dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun kerja keras semata tidak cukup; ia juga harus dihargai secara adil dan manusiawi.
Perjuangan para pekerja untuk memperoleh upah layak, jam kerja manusiawi, perlindungan sosial, dan masa depan yang lebih baik sejatinya bukan hanya milik mereka.
Itu adalah perjuangan kolektif kita semua. Apa yang diperjuangkan pekerja hari ini adalah pondasi perlindungan bagi generasi muda yang esok akan memasuki dunia kerja yang sama.
Hari Buruh bukanlah milik satu kelompok profesi tertentu. Hari Buruh adalah perayaan martabat setiap manusia yang bekerja.
Sudah waktunya kita menghapus stigma, meruntuhkan arogansi sosial, dan menyadari bahwa tanpa kelas pekerja, Makassar dan Sulawesi Selatan akan kehilangan denyut kehidupannya.
Karena itu, teruslah bersemangat. Teruslah memperjuangkan keadilan dengan cara yang bermartabat. Dari hati seorang pemuda Sulawesi Selatan yang memandang seluruh pekerja sebagai saudara seperjuangan:
Selamat Hari Buruh Internasional.
Panjang umur perjuangan kelas pekerja. Panjang umur solidaritas.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News