Moh Syarief: Ada Kendala Teknis Soal Pengumuman Kelulusan Komisioner Baznas Makassar Terpilih

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar menggelar seleksi kompetensi calon pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Makassar untuk periode 2026–2031. Namun proses itu ada kendala teknis perihal pengumuman kelulusan calon komisioner Baznas yang terpilih.
Hal itu dibenarkan Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Makassar, Moh Syarief saat dikonfirmasi via telepon, Kamis (7/5/2026).
“Soal kelulusan harus lewat aplikasi. Nantinya diupload satu persatu calon komisioner baznas. Dan itu harus dipenuhi oleh Kemenag. Dan kita upayakan besok sudah ada pengumuman,”ujar Syarief.
“Jadi memang ada kendala teknis kenapa sampai ada keterlambatan karena harus diumumkan satu persatu oleh akun masing-masing yang bersangkutan (calon komisioner terpilih),”sambung Syarief yang juga bagian dari Sekretariat Pansel rekrutmen calon komisioner Baznas Makassar.
Menurut Dr. Andi Bachtiar, Pemerhati Kebijakan Publik yang turut menanggapi lewat tulisan opini yang dikutip koran Makassar, bahwa sebagai lembaga yang mengelola dana umat dengan legitimasi negara, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) semestinya berdiri di atas prinsip Amanah, Transparansi, dan Akuntabilitas.
Namun, ketika sistem rekrutmen pimpinan justru diselimuti ketertutupan, publik berhak mempertanyakan: apakah proses ini benar-benar mencari yang terbaik, atau sekadar mengukuhkan kepentingan tertentu?.
Persoalan paling mendasar terletak pada ketidaktransparanan hasil seleksi berbasis CAT (Computer Assisted Test). Dalam praktik rekrutmen modern, CAT identik dengan objektivitas karena hasilnya terukur, real-time, dan dapat diaudit.
Tetapi ketika nilai masing-masing peserta tidak dipublikasikan, maka keunggulan sistem ini menjadi kehilangan makna. Tanpa keterbukaan skor, publik tidak memiliki dasar untuk menilai apakah peserta yang lolos benar-benar unggul secara kompetensi atau sekadar “lolos karena faktor lain”.
Di titik ini, CAT berubah dari instrumen meritokrasi menjadi sekadar formalitas administratif.
“Masalah berikutnya muncul pada tahapan wawancara, yang secara inheren bersifat subjektif. Wawancara memang penting untuk menggali integritas dan visi, tetapi tanpa indikator penilaian yang jelas dan terbuka, proses ini rentan terhadap bias—bahkan intervensi,”kata Dr. Andi Bachtiar.
Untuk diketahui, sebanyak 64 peserta bersaing ketat dalam proses seleksi berlapis yang kini memasuki tahap wawancara. Seleksi berlangsung di ruang rapat Sekretaris Daerah (Sekda) Balai Kota Makassar, Kamis (23/4/2026) lalu.
Dimana sebelumnya, para peserta telah melewati tahapan Computer Assisted Test (CAT) dan penulisan makalah sebagai bagian dari penyaringan awal. Sekretaris Daerah Makassar, Andi Zulkifly, menegaskan proses seleksi dilakukan secara terbuka dan objektif untuk menjaring figur yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki integritas tinggi.
“Seleksi ini untuk memastikan calon pimpinan Baznas memiliki kapasitas, integritas, serta komitmen dalam mengelola zakat secara transparan dan akuntabel,” ujarnya.
Menurutnya, Baznas memiliki peran strategis dalam mendukung program pemerintah daerah, terutama dalam pengentasan kemiskinan melalui pengelolaan zakat, infak, dan sedekah secara optimal.
“Pimpinan yang terpilih nantinya diharapkan mampu menghadirkan inovasi serta memperkuat kepercayaan publik terhadap Baznas,” tambahnya.
Dalam seleksi kali ini menjaring 64 peserta ke tahap wawancara yang dilaksanakan pada akhir April 2026 untuk posisi Ketua dan Wakil Ketua, dengan fokus pada integritas, profesionalisme, dan visi pengelolaan zakat yang inovatif.
Tahapan Seleksi BAZNAS Makassar 2026–2031:
Pendaftaran: 31 Maret – 10 April 2026.
Seleksi Administrasi: 15–21 April 2026.
Ujian Tertulis (CAT) & Makalah: 22 April 2026.
Wawancara: 23–24 April 2026.
Pengumuman Hasil: Dijadwalkan pada 23–25 April 2026.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News