Musala Mahabbah MP: Oase Spiritual di Tengah Hiruk-pikuk Pusat Perbelanjaan

HARIAN NEWS, MAKASSAR – Jika memasuki pusat perbelanjaan Mall Panakkukang (MP) Makassar, hampir bisa dibilang mall ini adalah salah satu mall yang paling sibuk di Kota Makassar. Padatnya parkiran bahkan beberapa kali diperluas oleh pihak mall, menjadi tanda bahwa mall ini ramai dengan pengunjung.

Namun di tengah aktivitas sibuk seperti berbelanja, makan di restoran, nonton film, bermain di arena permainan anak, nongkrong di kafe, dan kegiatan yang ditawarkan mall, terdapat sebuah musala yang megah dan penuh estetika Musala Mahabbah. Kehadiran musala ini seperti menjadi oase spiritual di tengah hiruk-pikuk Mall Panakkukang Makassar.

Rasanya menjadi tidak berlebihan jika kata mewakili kehadiran musala ini adalah oase spritual, Sebab bangunannya tak selayaknya musala pada umumnya. Bahkan jika ada menginjakkan kaki di Musala Mahabbah ini, bangunannya lebih mirip masjid, sebab dibangun megah dan luas.

Ditelusuri oleh harian.news, Musala Muhabbah ini adalah karya arsitektur yang menggabungkan kemewahan dan kenyamanan, yang dibangun dengan konsep arsitektur Islam Byzantium (kekaisaran Romawi Timur) atau kota Konstantinopel yang sekarang jadi Istanbul di Turki. Musala Mahabbah menawarkan pengalaman beribadah yang lebih dari sekadar ritual, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual yang indah.

Perjalanan Menuju Musala Megah

Mushola Mahabbah resmi dibangun tahun lalu, tetapi konsepnya telah direncanakan jauh sebelumnya. Hardy Marannu (Ardi), pengurus musala sekaligus arsitek yang terlibat dalam pembangunannya, menjelaskan bahwa musala ini lahir dari perjalanan panjang sang pemilik ke berbagai negara Islam, Beni Lukman.

“Owner kita itu sudah lama merencanakan pembangunan musala ini. Beliau melakukan perjalanan ke berbagai negara, mulai dari Cina, Spanyol, Turki, Dubai, hingga Konstansinopel. Dari sana, beliau mempelajari bagaimana arsitektur Islam berkembang di puncak kejayaannya dan ingin membawa nuansa itu ke sini,” ujar Ardi, Selasa (18/3/2025).

Tampung 2.800 Jemaah

Inspirasi dari perjalanan itu jelas tergambar dalam desain Musala Mahabbah. Dengan luas total 1.950 meter persegi, mushola ini mampu menampung 2.800 jemaah, dengan 1.500 meter persegi untuk ruang pria bisa menampung 2.200 jemaah, dan 450 meter persegi untuk wanita dengan kapasitas 500 hingga 600 jemaah.

Mengapa Musala, Bukan Masjid?

Meski berukuran besar dan memiliki fasilitas lengkap, Musala Mahabbah tetap disebut musala, bukan masjid. Hal ini terkait dengan lokasinya yang berada di dalam mall dan hanya beroperasi sesuai jam buka pusat perbelanjaan.

“Kalau masjid itu harus ada salat lima waktu, sementara kita di sini hanya bisa mengakomodasi mulai dari Dzuhur, Ashar, Magrib, dan Isya. Jadi, konsepnya lebih ke tempat ibadah yang nyaman bagi pengunjung mall,” jelas Ardi.

Kemewahan dalam Setiap Sudut

Interior yang indah di dalam Musala Mahabbah. Foto: HN/Sinta

Saat melangkah ke dalam Musala Mahabbah, pengunjung langsung disambut oleh pintu kayu berukir dengan motif Islami yang mewah. Bingkainya dihiasi warna biru dan emas, sementara dinding di sekitarnya dipenuhi ubin geometris dan ornamen klasik yang memperkuat nuansa sakral.

Lorong menuju ruang salat pun tak kalah megah. Dinding marmer dengan ukiran emas, ubin berpola geometris, serta langit-langit dengan kaca berwarna menciptakan pencahayaan yang dramatis.

“Kami ingin setiap orang yang masuk ke musala ini merasa berada di tempat yang istimewa, bukan sekadar ruangan biasa untuk salat,” kata Ardi.

Setiap detail dalam musala ini dikerjakan dengan teliti. Ukiran kayunya berasal dari Jepara, plafon diimpor dari Malaysia, sementara karpet tebal nan lembut dibawa langsung dari Turki. Seluruhnya dirancang untuk memberikan pengalaman ibadah yang nyaman dan berkelas.

Ruang Salat yang Elegan

Ruang salat di Musala Mahabbah. Foto: HN/Sinta

Di dalam musala, ruang salat pria tampak megah dengan karpet merah bermotif Islami yang membentang di seluruh lantai. Pilar-pilar kokoh berwarna krem dengan aksen emas memberikan kesan mewah, sementara lampu dinding menciptakan pencahayaan lembut yang menenangkan.

“Di sini juga ada rak-rak kitab suci di sepanjang pilar, jadi jemaah bisa membaca Alqur’an dengan nyaman. Jendela kaca berpola geometris menambah suasana spiritual yang damai, jadi tidak ada yang membedakan, semua sama, hanya ukuran ruangan yang beda.” ujar Ardi.

Sementara itu, ruang salat wanita memiliki desain yang serupa, tetapi dengan penyesuaian demi menjaga privasi jemaah perempuan.

“Yang membedakan hanya mihrabnya. Kalau di ruang pria ada mihrab untuk imam, di area wanita tidak ada. Tapi nanti kami akan pasang televisi agar jemaah perempuan tetap bisa melihat imam,” tambahnya.

Area Wudhu dengan Konsep Serupa Lampu Aladin

Area wudhu di musala Mahabbah Mall Panakkukang. Foto: HN/Sinta

Salah satu daya tarik utama Musala Mahabbah adalah area wudhu yang artistik dengan konsep mirip lampu aladin.

Di sini, deretan keran berbentuk ceret tradisional serupa lampu aladin berwarna emas menjadi ikon tersendiri.

Biasanya tempat wudhu musala terlihat sederhana, tapi di Mahabbah dibuat lebih berkelas. Dindingnya dihiasi ornamen emas dan ubin bermotif biru yang khas. Di bawah keran, ada wadah air mengalir dengan kursi marmer yang nyaman untuk jamaah.

Langit-langit di area wudhu juga tak kalah menarik. Motif geometris berwarna-warni menghiasi bagian atas, menciptakan nuansa Islami yang elegan dan eksklusif.

Nama “Mahabbah” dan Filosofinya

Musala ini diberi nama Mahabbah, yang dalam Islam berarti cinta kasih. Nama ini diberikan oleh seorang tokoh Muslim terkenal, Prof. Shakir, yang pertama kali memviralkan musala ini di media sosial.

“Prof Syakir melihat musala ini dan langsung terkesan. Beliau memberi nama Mahabbha karena ingin tempat ini menjadi simbol kebersamaan dan kasih sayang antarumat manusia,” jelas Ardi.

Uniknya, Musala Mahabbah justru dibangun oleh seorang non-Muslim, Beni Lukman. Sosok di balik hadirnya musala Mahabbah ini.

“Ini membuktikan bahwa keindahan Islam bisa dihargai oleh siapa saja, tanpa melihat latar belakang agama. Ini adalah tempat ibadah yang dibangun dengan niat baik dan tulus,” tambahnya.

Pembangunan Capai 80%

Meskipun sudah digunakan, pembangunan musala ini sebenarnya baru mencapai 80%. Masih ada beberapa ornamen dan fasilitas yang akan ditambahkan.

“Kita masih ada beberapa bagian yang harus disempurnakan, termasuk pemasangan televisi di ruang wanita agar bisa melihat imam saat berjemaah. Tapi sejauh ini, musala ini sudah menjadi favorit banyak orang,” ungkap Ardi.

Dengan kemegahan arsitektur, kenyamanan tingkat tinggi, dan nilai spiritual yang mendalam, Musala Mahabbah telah menjadi destinasi ibadah yang unik di pusat perbelanjaan. Tidak sekadar tempat salat, tetapi sebuah simbol kejayaan Islam yang tetap hidup di era modern.

PENULIS: NURSINTA

Baca berita lainnya Harian.news di Google News