Narsisme Pemimpin

Oleh: Ridha Rasyid
(Pemerhati Masalah Sosial dan Politik )
HARIAN.NEWS – Syahdan, suatu kisah yang sangat menarik perhatian ketika seorang penguasa sedang berorasi dengan penuh semangat. Tapi dia tidak sedang mengampanyekan keberhasilan yang telah dia capai. Malah dengan tegas dia berujar bahwa rakyatnya belum secara nyata berubah kehidupannya.
Masih banyak hal yang perlu diperbaiki, dibenahi dan dibangun baru agar terbentuk peradaban yang lebih manusiawi. Secara jelad ia menyampaikan pedan yang menyentuh ortadaan rakyatnya.
Idi Amin, penguasa Uganda yang dikenal kejam dan sadis di satu sisi, namun di mata rakyatnya dia adalah sosok yang dapat menerawang pikiran rakyatnya. Meskipun dia sangat keras, kejam dan kanibal, sebagian besar rakyat Uganda memberikan penghormatan dan berdecak kagum. Mungkin ini salah satu pengecualian. Mengapa tidak? Idi Amin bukanlah orator yang hebat. Bukan pula pembicara yang baik.
Tetapi dia tanpa banyak permainan kata mampu meresapi apa yang ada dalam benak rakyatnya. Dia, sangat jarang berpidato. Dia lebih suka menonjolkan pakaian kebesarannya sebagai pemimpin, berwibawa dan sedikit pemalu.
Kutipan kisah di atas adalah gambaran frame kepemimpinan dan penguasa yang di satu sisi menjadi bagian dari pengertian narsisme, disisi lainnya kerendahan hati dibalik penampilan fisik yang sangar.
Narsisme adalah sikap ingin dipuji, dihormati berlebihan, diakui, dianggap penting. Bahkan seringkali jika tidak ada orang yang memujinya , dia menilai dirinya sendiri seakan tidak ada yang menandinginya.
Contoh sederhana sikap narsis itu, ketika dengan segala macam gaya tampilan yang ditonjolkan padahal tidak memiliki prestasi apa apa. Merasa paling pintar dan paling bener. Narsis itu hampir hampir mempunyai sifat sombong yang berlebihan.
Seperti kisah di atas, narsis itu bisa pula dimaknakan dagelan untuk memoles cerita untuk kepentingannya. Makanya, narsis itu hanya memilih orang atau teman yang mau memuji dirinya, yang memberi aplaus tepuk tangan meski dia salah atau keliru. Yang pasti orang narsis punya kebahagiaan tersendiri manakala orang orang disekitarnya memberi apresiasi berupa penghormatan dan berkhidmat kepadanya.
Jadi orang narsis senantiasa berada pada situasi yang membutuhkan pujian, pengakuan dan kesetiaan semu. Jadi bukan loyalitas karena dia punya kecerdasan, kemampuan dalam memimpin.
Narsisme sejatinya keterbatasan dalam banyak hal di mana ia memaksakan diri untuk seolah olah dia anggap dirinya hebat, selalu ingin tampil ‘perlente’ (bukan hanya busana) dan mengagumi dirinya sendiri.
Pada dasarnya semua orang punya kecenderungan narsis. Hanya saja ada yang tanpa menyadarinya telah terlampau jauh menyimpang dari sisi kemanusiaan yang manusiawi. Ini yang disebut Gangguan Kepribadian Narsistik (Narcissistic Personality Disorder) Ini level klinis.
Cirinya antara lain rasa grandiositas, merasa paling hebat. Seakan orang lain diluar dirinya dan kelompoknya biasa biasa saja. Tidak memiliki kompetensi cukup untuk menyamai dirinya. Butuh pujian berlebihan terus-menerus.
Sehingga ketika sepi dari pujian dia mulai muncul sikap ambigu dalam dirinya. Kurang empati terhadap orang lain. Sulit menaruh simpati kepada orang lain.
Baginya, hanya dirinya yang mampu menumbuhkan sikap empati juga kelompoknya. Merasa berhak istimewa (entitlement). Bahwa hanya dirinya yang istimewa. Lainnya orang biasa yang tidak perlu diperlakukan khusus. Memanfaatkan orang lain untuk tujuan pribadi. Ketika dia tidak membutuhkannya lagi l, dia mengeluarkan dari lingkungan kelompoknya.
Ciri khas lain orang narsis adalah iri atau merasa orang lain iri padanya. Dan kulminasi orang narsis yaitu perilaku arogan. Bahkan tanpa pikir panjang dia mengusir orang yang dia tidak senangi.
Itu kenapa dikatakan orang narsis itu mengidap kelainan kepribadian secara klinis.
Bahwa sikap narsis dapat dihindari sekiranya pemimpin memiliki keterbukaan hati untuk memahami bahwa sebagai pemimpin ada tanggung jawab besar terhadap rakyat.
Bukan lagi mengurus dirinya semata dan menyenangkan kelompoknya yang bersedia menjadi cecunguk tanpa menggunakan otak. Kekerdilan berfikir pemimpin senantiasa menyertai orang orang narsis. Orang narsis itu mencerminkan kebodohan diri yang dipertontonkan.
Bahkan ia menikmati tertawaan orang atas perilakunya. Jika tidak terima dengan respon orang lain, dia berkilah bahwa itu adalah plintiran orang. Padahal nyata nyata dia sendiri yang mengatakan, ada bukti rekam digital.
Apakah sikap narsis itu dapat diubah. Jawabannya, banyak tergantung pada orang itu sendiri.
Orang narsis tidak mau menerima masukan. Menolak setiap tanggapan yang menyerang dirinya. Tidak pernah legowo untuk mengapresiasi masukan yang boleh jadi positif. Paling tidak, ada dua aspek yang perlu diperhatikan bagi orang doyan narsis bila ingin berubah.
Pertama, mau mengevaluasi diri dan menyadari bahwa setiap orang punya sisi kelemahan di balik kesempurnaan yang tidak mungkin utuh pada setiap diri. Menyadari kekurangannya, sehingga dia memanfaatkan waktu yang tersisa untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Kedua, memohon petunjuk dan kekuatan dari Allah agar diberi bekal kebijaksanaan dengan mengikuti secara sungguh sungguh apa yang dituntunkanNya. Solusi yang sederhana.
Terpulang kepada sang pemimpin maukah dia berubah sebelum rakyat dipimpinnya merasa jenuh dan muak melihat tabiat pemimpinnya.
Wallahu’alam bisshawab.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News