OCBC Tanam 21.000 Mangrove, Upaya Selamatkan Pesisir dari Abrasi

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Dalam upaya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir dan mengurangi dampak perubahan iklim, PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC) bersama OCBC Group meluncurkan program penanaman lebih dari 21.000 bibit pohon mangrove sepanjang 2024-2025.
Program ini menyasar berbagai lokasi strategis di Indonesia, mulai dari Bangka Belitung di Sumatera, pesisir Jawa seperti Tangerang dan Jawa Tengah, hingga Bali dan Sulawesi Selatan.
Sebagai langkah awal, OCBC telah menanam 1.000 bibit mangrove di Pantai KSS, Desa Sukawali, Kabupaten Tangerang, yang melibatkan relawan dari OCBC.
Selanjutnya, Aleta Hanafi, Brand and Communications Division Head, OCBC mengatakan akan dilakukan penanaman 10.000 bibit lainnya di pesisir Trimulyo, Kota Semarang.
“Pohon mangrove memiliki peran penting dalam mencegah abrasi dan menjaga ekosistem laut. Inisiatif ini merupakan kelanjutan dari program OCBC sebelumnya, SPARTA, yang telah menanam sekitar 5.000 bibit mangrove di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu,” ujarnya, dikutip Senin (10/02/2025).
Tak hanya menanam, OCBC juga berkomitmen untuk merawat dan memastikan keberlanjutan pertumbuhan mangrove dengan menggandeng Lindungi Hutan Foundation, masyarakat setempat, serta para petani.
Dengan adanya perawatan berkelanjutan, bibit mangrove yang ditanam dapat tumbuh dengan optimal dan memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat pesisir.
Diperkirakan, sebanyak 11.000 bibit mangrove akan tertanam pada tahun 2024 dengan kapasitas penyerapan karbon mencapai 1,2 ton CO2eq (Carbon Dioxide Equivalent) per tahun.
Pada akhir 2025, OCBC menargetkan total penanaman mencapai 21.000 bibit, sehingga mampu menyerap hingga 2,4 ton CO2eq per tahun.
Pemilihan lokasi penanaman pun didasarkan pada urgensi lingkungan. Di Desa Sukawali, misalnya, abrasi yang terus terjadi selama dua dekade terakhir telah menyebabkan penyusutan garis pantai hingga 100 meter.
Hal ini mengancam ekosistem pesisir serta kehidupan masyarakat yang bergantung pada lingkungan tersebut. Sementara di pesisir Trimulyo, Semarang, perubahan ekosistem mangrove menjadi area tambak menyebabkan banjir rob dan abrasi yang semakin parah.
Program ini tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki ekosistem, tetapi juga diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Hutan mangrove yang sehat dapat menjadi tempat berkembangnya biota laut, meningkatkan hasil perikanan, serta membuka peluang ekowisata berbasis lingkungan.
OCBC percaya bahwa upaya pelestarian lingkungan perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak.
Dengan semangat kolaborasi dan aksi nyata, OCBC optimis dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya mitigasi perubahan iklim serta menjaga pesisir Indonesia agar tetap lestari.
“Melalui program ini, kami berharap kawasan pesisir yang terdampak abrasi dapat pulih dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” tutup Aleta Hanafi.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News