Pendidikan Formal Sebagai Pabrik Kapitalis Untuk Mencetak Manusia yang Siap Kerja

Pendidikan Formal Sebagai Pabrik Kapitalis Untuk Mencetak Manusia yang Siap Kerja

Oleh : Hasrul

(Mahasiswa UNM Makassar)

HARIAN.NEWS – Tak bisa kita pungkiri bahwa pendidikan sangat berperan penting dalam perkembangan suatu negara, tidak terkecuali juga dengan Indonesia. Sebab pendidikan akan menjadi pendorong mutu Sumber Daya Manusia (SDM).

Menurut UU No. 20 tahun 2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Sedangkan menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia), Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.

Dari pengertian tersebut bisa kita lihat bahwa peran pendidikan dalam menuntun dan membentuk individu sangatlah besar, Selain sebagai upaya menjaga fitrah Manusia juga untuk mencapai kebahagiaan dan menjadi manusia yang paripurna. Namun, ketika kita melihat kondisi realitas hari ini, Pendidikan sering kali memaksa individu untuk tidak menjadi dirinya sendiri. Ia dipaksa untuk mengikuti kurikulum dan mata pelajaran yang diberikan oleh tenaga pendidik, dalam hal ini Guru/Dosen.

Pada kenyataannya, Sistem Pendidikan di Indonesia sering kali hanya berorientasi untuk mencetak manusia-manusia pekerja. Apalagi dengan kondisi sistem pendidikan hari ini, yang terbilang sangat dikomersialisasi, mencerminkan watak kapitalis. Sehingga Masyarakat menengah kebawah sangat sulit untuk menempuh jenjang pendidikan yang lebih tinggi, disisi lain biaya yang mahal tidak sebanding dengan ilmu yang didapatkan.

Masyarakat pada akhirnya berada dalam dilema struktur tatanan sosial, menjadikan Pendidikan Formal sebagai tolak ukur derajat. Padahal Ijazah tidak mempengaruhi martabat kemanusiaan, seperti yang dikatakan oleh Rocky Gerung bahwasanya Ijazah hanya tanda bahwa orang pernah sekolah Bukan tanda bahwa orang pernah berpikir.

Seseorang rela mengeluarkan biaya yang banyak hanya untuk mendapat selembar Ijazah, yang kemudian menjadi alat administrasi untuk bekerja disetiap Instansi, Perusahaan,industri dan lain-lain. maka wajar saja jika pendidikan formal hanya mencetak manusia yang siap kerja.

Oleh karena itu, sistem seperti ini harus dihapuskan serta digantikan menggunakan sistem pendidikan yang baru. Sebagai tindak lanjut atas kritik tajam tersebut, Paulo Freire (Tokoh Pendidikan asal Brazil) mengusulkan sistem pendidikan alternatif yang relevan bagi mereka yang kurang mampu dan tersisih.

Kritikan serta pendidikan alternatif yang ditawarkan Freire itu sangatlah membantu masyarakat menengah kebawah. Menurut Friere, Pendidikan harus berorientasi untuk penyadaran, manusia harus sadar dengan segala sistem yang ada. tentu juga harus sadar dengan fitrahnya dan tidak teralienasi dengan dirinya sendiri.

Kita harus keluar dalam lingkaran sistem pendidikan yang menindas dan menekan. Apalagi pendidikan formal yang dalam proses pembelajarannya bersifat dokrtin dan menggunakan gaya bank seperti yang dikatakan oleh Friere, yang hanya mencetak individu-individu sesuai kebutuhan pabrik-pabrik para oligarki kapitalis,dan tentu kita tidak ingin pemperpanjang baris perbudakan.

Pendidikan alternatif harus hadir untuk membebaskan diri dari keterkungkungan mitos dan doktrin nina bobo penguasa, kesadaran kritislah yang kemudian akan mengantarkan kita pada Fitrah Kemanusiaan.

Baca berita lainnya Harian.news di Google News