Penyebaran Andes Virus Jadi Sorotan, BPOM RI Tingkatkan Kewaspadaan Nasional

HARIAN.NEWS, JAKARTA – Meningkatnya laporan kasus hantavirus di sejumlah negara menjadi perhatian serius dunia kesehatan internasional.
Beberapa kasus terkonfirmasi maupun dugaan infeksi dilaporkan berkaitan dengan perjalanan lintas negara dan klaster kapal pesiar internasional MV Hondius. Situasi ini mendorong berbagai negara memperkuat sistem kewaspadaan dini terhadap potensi penyebaran penyakit zoonosis tersebut.
Menanggapi perkembangan global itu, Kepala BPOM RI Prof. Dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., mengingatkan pentingnya kewaspadaan nasional tanpa menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Menurutnya, mobilitas manusia yang semakin tinggi pascapandemi membuat potensi penyebaran penyakit lintas negara harus diantisipasi secara serius dan terukur.
“Hantavirus memang bukan penyakit baru, tetapi dinamika penyebaran global saat ini harus menjadi alarm kewaspadaan bersama. Indonesia harus memperkuat deteksi dini, edukasi masyarakat, serta koordinasi lintas sektor agar potensi risiko dapat diminimalkan,” ujar Taruna Ikrar.
Taruna menjelaskan bahwa varian yang ditemukan dalam sejumlah laporan internasional tersebut adalah Andes virus, salah satu jenis hantavirus yang dikenal memiliki karakteristik khusus dalam pola penularannya. Taruna menyebut reservoir utama virus ini tetap berasal dari tikus liar, termasuk tikus got dan tikus rumah.
“Penularan terjadi melalui paparan urin, air liur, atau kotoran tikus yang mengering kemudian terhirup manusia. Karena itu kebersihan lingkungan menjadi sangat penting dalam upaya pencegahan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Taruna mengungkapkan bahwa Andes virus juga memiliki kemampuan penularan antar manusia secara terbatas, terutama melalui kontak erat dan berkepanjangan, misalnya pada anggota keluarga atau tenaga kesehatan yang melakukan perawatan intensif terhadap pasien.
Menurut Taruna, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menilai pola penyebaran yang terjadi pada kapal pesiar MV Hondius sesuai dengan karakteristik Andes virus tersebut.
Hal ini menjadi perhatian penting karena lingkungan tertutup dengan mobilitas manusia tinggi dapat meningkatkan risiko transmisi jika pengawasan kesehatan tidak dilakukan secara optimal.
Taruna Ikrar juga menjelaskan bahwa gejala awal infeksi hantavirus umumnya menyerupai influenza sehingga masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan apabila memiliki riwayat paparan lingkungan tidak higienis atau kontak dengan hewan pengerat.
“Gejala awal biasanya berupa demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, dan rasa lemas. Karena mirip flu biasa, banyak orang sering mengabaikannya,” katanya.
Namun dalam beberapa hari kondisi pasien dapat berkembang menjadi lebih berat dan membahayakan jiwa. Gejala lanjutan dapat berupa sesak napas, bibir membiru akibat kekurangan oksigen, edema paru (pulmonary edema), hingga gagal napas yang membutuhkan penanganan intensif di rumah sakit.
Taruna menegaskan bahwa diagnosis hantavirus tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis semata. Pemeriksaan PCR laboratorium diperlukan untuk memastikan infeksi secara akurat.
“Pemeriksaan PCR laboratorium sangat penting untuk memastikan diagnosis sehingga penanganan pasien dapat dilakukan secara cepat dan tepat,” ujarnya.
Taruna menambahkan bahwa penyakit ini pada tahap awal dapat menyerupai leptospirosis karena sama-sama berkaitan dengan paparan lingkungan tercemar hewan pengerat. Namun terdapat perbedaan mendasar pada organ yang dominan terdampak.
“Leptospirosis lebih dominan menyerang ginjal dan hati serta dapat menyebabkan mata kuning, sementara hantavirus lebih banyak menyerang sistem pernapasan dan paru-paru,” terang Taruna Ikrar.
Taruna menegaskan bahwa BPOM terus melakukan koordinasi bersama Kementerian Kesehatan, otoritas karantina, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya dalam memperkuat sistem kewaspadaan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, pendekatan kolaboratif menjadi bagian penting dari konsep ABG (Academic, Business, Government) yang selama ini terus didorong BPOM dalam menghadapi tantangan kesehatan global.
“Kewaspadaan nasional tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Dunia akademik harus aktif melakukan riset, pelaku usaha wajib menjaga standar higienitas dan keamanan produk, sementara masyarakat perlu disiplin menjaga kebersihan lingkungan,” tegasnya.
Taruna juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan pola hidup bersih dan sehat, terutama menjaga kebersihan rumah, gudang penyimpanan makanan, serta area yang berpotensi menjadi sarang tikus.
Taruna menilai edukasi publik menjadi kunci penting agar masyarakat mampu mengenali risiko tanpa terjebak informasi yang menyesatkan.
BPOM Sebagai lembaga pengawas obat dan makanan yang kini telah meraih pengakuan WHO Listed Authority (WLA), BPOM terus memperkuat kapasitas pengawasan berbasis sains dan sistem kewaspadaan global.
Taruna menekankan bahwa pengalaman dunia menghadapi pandemi sebelumnya harus menjadi pelajaran penting agar Indonesia selalu siap menghadapi ancaman kesehatan baru.
“Prinsipnya adalah lebih baik mencegah daripada terlambat mengendalikan. Negara yang kuat adalah negara yang memiliki kesiapsiagaan,” tutup Taruna Ikrar salah satu ilmuwan dunia ini.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News