Perempuan Pelosok Jadi Ujung Tombak Pegadaian MengEMASkan Indonesia
HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Kios kecil berukuran 2×1 meter di Jalan Pattallassang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan terlihat ramai. Suara kalkulator berpadu dengan riuh pelanggan yang antre. Jemari Rini Hadriana (33) terlihat lincah menekan tombol, sambil sesekali menyambut senyum pelanggan.
Rini bukan sekadar ibu rumah tangga. Ia simbol perempuan akar rumput yang mengubah hidupnya, sekaligus membantu lingkungannya bangkit, lewat peran sebagai agen Pegadaian.
Semua bermula pada 2018, ketika suaminya membutuhkan modal tambahan untuk bengkel mobil. Rini pun memberanikan diri mengajukan pinjaman dengan jaminan BPKB di Pegadaian. Saat itulah, petugas Pegadaian menawarinya menjadi agen.
“Lokasi saya strategis, jadi cocok untuk membuka layanan. Dari situlah awalnya saya tertarik,” kenang Rini kepada Harian.news, Rabu (24/09/2025).
Kini, kiosnya menjadi tempat masyarakat menggantungkan asa. Mulai melakukan pinjaman usaha, pembayaran tagihan, hingga tabung emas jadi pilihan investasi nasabah.
“Alhamdulillah, saya merasa bermanfaat untuk orang sekitar. Dulu saya cuma ibu rumah tangga, sekarang bisa membantu banyak orang,” ujarnya sambil tersenyum.
Perlahan, hasil kerja kerasnya pun nyata. Dari fee layanan, sharing keuntungan, hingga reward berupa motor dan perjalanan ke luar negeri, semua dinikmati bersama keluarga. Tapi yang paling mengejutkan, omzet Rini hingga September 2025 sudah menembus Rp20 miliar.
“Target saya tahun ini Rp30 miliar. InsyaAllah bisa tercapai dengan dukungan Pegadaian dan kepercayaan masyarakat,” katanya.
Pegadaian memang tak hanya memberi akses modal, tapi juga ruang pemberdayaan. Perempuan seperti Rini, yang dulu hanya mengurus rumah tangga, kini tampil sebagai penggerak ekonomi lokal.
Inilah wujud nyata perempuan akar rumput bersama Pegadaian mengEMASkan Indonesia. “Saya hadir menorehkan kepercayaan untuk masyarakat, membuka akses keuangan di pelosok, hingga membantu masyarakat memiliki tabungan emas,” pungkasnya.
Arisan Emas: Cara Ibu-Ibu Menabung Masa Depan

Deretan emas yang dijual di kios agen Pegadaian Rini Hadriana. (Foto: Gita/Harian.news)
Rini, agen Pegadaian pertama di Kabupaten Takalar, terus merajut inovasi dalam mengEMASkan Indonesia dari pelosok. Bersama dua karyawannya yang semua perempuan, ia menghadirkan program arisan emas di daerah Pattallassang.
Arisan emas yang ia bentuk sudah berjalan setahun terakhir dan mendapat sambutan hangat dari warga. Hingga kini, sudah ada tujuh kelompok arisan yang mayoritas anggotanya adalah ibu rumah tangga.
“Inovasi ini membuat ibu-ibu bisa lebih semangat menabung. Kalau biasanya uang cepat habis, dengan emas justru bisa disimpan dan nilainya terus naik,” ujar Rini.
Langkah Rini memperlihatkan bagaimana peran agen Pegadaian di pelosok tidak hanya sebatas layanan gadai, tetapi juga membuka akses literasi dan inklusi keuangan.
“Melalui arisan emas, perempuan di Takalar kini punya jalan baru untuk lebih mandiri, aman secara finansial, sekaligus berkontribusi dalam gerakan mengEMASkan Indonesia,” tutur Rini.
Pejuangan MengEMASkan Indonesia dari Pelosok
Ernawati, agen Pegadaian Makassar II. (Foto: Gita/Harian.news)
Berkunjung ke Limbung, Kabupaten Gowa, pemandangan sawah yang terbentang luas di kiri dan kanan jalan seakan menyambut setiap orang yang melintas. Suasana desa yang tenang membawa langkah menuju sebuah kios sederhana berukuran 3×2 meter. Dari tempat itulah Ernawati (33) menjalankan perannya sebagai Agen Pegadaian Makassar II.
Lokasinya sekitar 40 kilometer dari Makassar ke arah selatan–tenggara, melewati jalan poros Makassar–Gowa. Meski jauh dari pusat kota, kios milik Ernawati yang akrab disapa Wati menjadi titik penting bagi masyarakat sekitar untuk memenuhi berbagai kebutuhan keuangan mereka.
Saat ditemui harian.news, Wati terlihat sedang sibuk menyambut setiap pelanggan yang datang. Wati seorang perempuan ‘emas’ yang sukses membuka akses keuangan di kampungnya.
“Awalnya saya cuma ikut-ikutan jadi agen pembayaran,” kenang Wati. “Eh, akhirnya diberi kesempatan menjadi agen Pegadaian.” Wati memulai kiprahnya sejak tahun 2019.
Kehadirannya menjadi oase keuangan di Limbung, wilayah yang akses layanan formalnya terbatas. Di kios itu, warga bisa melakukan berbagai transaksi, mulai dari pembayaran tagihan, cicil emas, hingga gadai emas.
“Paling banyak itu cicilan logam mulia. Karena emas dianggap aman, gampang disimpan, dan bisa digadai lagi kalau butuh,” ujarnya.
Seiring waktu, kepercayaan masyarakat makin tumbuh. Omzet transaksinya pun terus meningkat setiap bulan. “Alhamdulillah, sekarang warga sudah percaya. Mereka merasa lebih nyaman menggadai di sini daripada ke tempat lain,” katanya.
Kios Ernawati tampak depan. (Foto: Gita/Harian.news)
Wati mengakui, perjalanan membangun kepercayaan tidak selalu mudah. Ia sempat menghadapi keraguan masyarakat yang takut prosesnya rumit atau uang mereka tidak aman. “Tapi setelah coba sekali, mereka balik lagi. Itu yang bikin saya semangat,” ungkapnya.
Melalui agen Pegadaian, Wati telah menjelma menjadi pilar finansial keluarga-keluarga kecil di Limbung. Ia membantu warga memenuhi kebutuhan mendesak tanpa harus terjerat pinjaman rentenir.
“Kalau butuh dana cepat, tinggal ke sini. Prosesnya jelas, barang aman, bunganya wajar,” ucapnya meyakinkan.
Bagi Wati, menjadi agen bukan hanya soal tambahan penghasilan, melainkan juga amanah besar dari masyarakat.
“Rezekinya memang tidak langsung besar, tapi cukup untuk kebutuhan dapur. Yang paling saya syukuri itu rasa percaya dari warga,” ujarnya lirih.
Wati telah dianggap sukses menjalankan tugasnya sebagai agen pegadaian. Ia bahkan sudah pernah diikutkan pelatihan khusus oleh Pegadaian Kanwil VI Makassar agar usahanya lebih menguntungkan. Dengan begitu, akhirnya Wati berhasil menghimpun banyak dana tiap bulan.
“Alhamdulillah karena telah ikut pelatihan dan mendapat kepercayaan warga, saya bisa mengumpulkan omzet hingga Rp4 milliar per bulan. Dari hasil fee yang saya dapatkan, saya juga bisa menyekolahkan anak saya hingga ke jenjang S2,” jelasnya.
3.700 Agen Perempuan di Pelosok
Kepala Bagian Jaringan Distribusi dan Layanan Pegadaian Kanwil VI Makassar, Andi Nurafiat Akib (kiri) bersama rekannya saat ditemui di Kantor Pegadaian Jalan Pelita Raya, Makassar. (Foto: Gita/Harian.news)
Di balik geliat ekonomi akar rumput, peran perempuan kembali menemukan ruangnya. Di Pegadaian Kanwil VI Makassar, perempuan menjadi garda terdepan dalam mendekatkan layanan keuangan kepada masyarakat, bahkan hingga ke pelosok.
Kepala Bagian Jaringan Distribusi dan Layanan Pegadaian Kanwil VI Makassar, Andi Nurafiat Akib, menyebutkan bahwa hingga September 2025 terdapat 4.353 agen Pegadaian yang tersebar di tujuh area, mulai dari Makassar, Palopo, Parepare, Bantaeng, Ambon hingga Kendari. Jumlah ini hampir menyamai total agen secara keseluruhan termasuk kota yang mendekati 7.000 agen.
“Karena tujuannya, kami bisa menjangkau brand spot kemudian jam layanannya juga lebih dari jam layanan outlet. Kalau outlet buka jam 8 pagi sampai jam 3 sore sudah tutup. Nah kalau agen, jam 6 pagi sampai jam 11 malam masih beroperasi. Jadi lebih fleksibel, lebih dekat, dan sesuai tagline Pegadaian Makin Dekat, Makin Mudah,” jelas Nurafiat.
Tujuan utama dari jaringan luas ini adalah “MengEMASkan Indonesia”, sebuah visi Pegadaian agar masyarakat lebih mudah memiliki emas sebagai instrumen investasi aman dan terjangkau. Agen di pelosok pun berperan menjual produk logam mulia sama seperti outlet resmi.
Yang menarik, mayoritas agen adalah perempuan. Dari total 4.353 agen di Kanwil VI Makassar, sekitar 85 persen perempuan. “Kebanyakan ibu rumah tangga, guru, hingga bidan. Dan justru mereka yang paling sukses menjadi agen terbaik karena mampu mencapai omzet melebihi target.”
Menurut Nurafiat, perempuan memiliki jejaring sosial yang kuat di arisan, pengajian, maupun perkumpulan kantor. Dari ruang-ruang sosial itu, literasi keuangan pun menyebar lebih cepat.
“Perempuan lebih jago memasarkan karena punya kedekatan emosional. Mereka bisa menyampaikan produk Pegadaian dengan bahasa sehari-hari yang lebih meyakinkan,” tambahnya.
Hasilnya terlihat nyata. Di semua area, agen-agen perempuan mendominasi penjualan emas. “Itu artinya agen perempuan kita benar-benar mampu mendongkrak pencapaian dari pelosok,” kata Nurafiat.
Maka dari itu, untuk menjaga kualitas, Pegadaian rutin memberikan edukasi dan pendampingan. Melalui program Pendampingan Agen Pegadaian (PAP), setiap agen baru didampingi selama satu bulan. Mereka ditargetkan mencapai omzet Rp500 juta sebelum naik ke level berikutnya.
Bagi agen yang berhasil menembus omzet Rp1 miliar, Pegadaian memberi kesempatan mengikuti sertifikasi ilmu menaksir emas.
“Kami tidak hanya berhenti di perekrutan, tapi juga memastikan agen terus berkembang,” ujar Nurafiat.
Perempuan Ujung Tombak Pegadaian
Deputy Bisnis PT Pegadaian Area Makassar II, Agus Riyadi. (Foto: Gita/Harian.news)
Pegadaian menegaskan pentingnya peran agen sebagai ujung tombak dalam mendukung program nasional bertajuk mengEMASkan Indonesia.
Deputy Bisnis PT Pegadaian Area Makassar II, Agus Riyadi mengungkapkan, agen kini berfungsi sebagai channeling yang mendekatkan layanan Pegadaian kepada masyarakat.
“Agen kami posisikan sebagai penjual ritel yang sangat penting. Di Area Makassar II, penjualan emas oleh agen sangat tinggi, terutama untuk kemasan di bawah 10 gram. Hampir setiap hari ada transaksi emas. Ini tanda masyarakat semakin sadar investasi,” jelasnya.
Selain gadai fisik, agen juga mendorong masyarakat untuk berinvestasi melalui produk non-gadai seperti cicil emas dan tabungan emas. Nasabah bisa mencicil sesuai kemampuan atau mengunci harga emas hari ini untuk jangka waktu tertentu.
“Pintu masuk yang paling mudah adalah investasi emas. Produk cicil emas, tabungan emas rencana, semuanya bisa diakses lewat agen. Dengan begitu, fungsi agen semakin besar dalam mendukung target literasi dan inklusi keuangan masyarakat,” jelasnya.
Pegadaian memastikan peran agen tidak hanya membantu meningkatkan penjualan, tetapi juga mendukung tujuan perusahaan menghadirkan layanan yang lebih dekat, mudah, dan relevan.
“Bagi kami, agen bukan sekadar perpanjangan tangan, tapi garda depan untuk mengedukasi sekaligus memfasilitasi masyarakat berinvestasi emas,” pungkasnya.
Agen Perempuan Dorong Inklusi Keuangan
Pengamat Ekonomi Universitas Bosowa Makassar, Dr. Lukman Setiawan. (Foto: dok pribadi)
Pengamat Ekonomi Universitas Bosowa Makassar, Dr. Lukman Setiawan, menilai keberadaan agen Pegadaian bukan hanya sekadar perpanjangan layanan, tetapi juga instrumen pemerataan ekonomi.
Menurut Lukman, agen Pegadaian telah membantu masyarakat menengah ke bawah dan pelaku UMKM memperoleh akses pembiayaan yang cepat dan mudah, baik untuk kebutuhan konsumtif maupun produktif.
“Dominasi perempuan sebagai agen Pegadaian membawa perspektif gender dalam layanan keuangan, sekaligus meningkatkan kesadaran dan partisipasi perempuan dalam mengelola keuangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, keterlibatan perempuan juga berdampak jangka panjang terhadap literasi dan kemandirian finansial masyarakat.
Dalam konteks “Mengemaskan Indonesia”, Lukman menyebut agen Pegadaian berperan sebagai ujung tombak dalam memperkuat struktur ekonomi mikro dan UMKM, khususnya di pedesaan.
“Penjualan emas kemasan kecil yang dilakukan agen setiap hari menandakan masyarakat mulai peduli terhadap investasi. Ini salah satu indikator keberhasilan literasi dan inklusi keuangan,” jelasnya.
Penulis: Gita Oktaviola
Baca berita lainnya Harian.news di Google News