Peristiwa Isra Mikraj: Dari Tahun Kesedihan Menuju Kemenangan Dakwah Islam

Isra Mikraj: Penguatan Ilahi dalam Masa Terberat Nabi Muhammad SAW
HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu momen paling agung dalam sejarah Islam yang terjadi pada masa paling sulit dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Di tengah tekanan emosional dan sosial yang berat, Allah SWT memberikan kekuatan melalui perjalanan malam yang luar biasa— Isra Mikraj.
Isra Mikraj tidak hanya menjadi simbol perjalanan spiritual, tetapi juga merupakan wujud nyata dari bantuan Ilahi bagi Rasulullah yang tengah menghadapi ujian hidup yang tak terhingga. Perjalanan ini berlangsung setelah masa yang penuh dengan kesedihan dan ujian, yang dikenal dalam sejarah Islam sebagai Amul Huzn, atau Tahun Kesedihan.
Tahun Kesedihan: Sebuah Latar Belakang Penuh Ujian
Tahun Kesedihan menjadi titik balik dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Pada tahun ini, dua sosok penting dalam kehidupan beliau, yakni Khadijah binti Khuwailid, istri tercinta, dan Abu Thalib, paman sekaligus pelindung beliau, wafat. Kehilangan kedua sosok ini sangat mempengaruhi perasaan dan posisi sosial Nabi di tengah kerasnya penolakan kaum Quraisy terhadap ajaran Islam.
Namun, ujian itu tak berhenti begitu saja. Setelah kehilangan ini, Nabi Muhammad SAW harus menghadapi penolakan keras dari kaum Quraisy, intimidasi, hingga perlakuan tidak manusiawi. Bahkan, upaya beliau untuk mencari perlindungan dan dukungan di Thaif berakhir dengan kekerasan dan penolakan.
Isra Mikraj: Penguatan Ilahi dan Simbol Harapan
Di tengah kesulitan yang memuncak, datanglah pertolongan dari Allah SWT. Isra Mikraj, perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, lalu dilanjutkan dengan mikraj ke langit untuk bertemu langsung dengan Allah, menjadi simbol penguatan Ilahi.
Dasar utama peristiwa Isra Mikraj disebutkan secara jelas dalam Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Isra ayat 1:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya:
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
Ayat ini menegaskan bahwa Isra Mikraj bukanlah sebuah kisah fiksi, melainkan peristiwa yang memiliki dasar wahyu Ilahi. Perjalanan ini menjadi penghiburan bagi Nabi Muhammad SAW yang telah melewati masa penuh ujian, sekaligus penguat legitimasi kenabian beliau.
Perubahan Arah Perjuangan Islam Setelah Isra Mikraj
Peristiwa Isra Mikraj bukan hanya simbol spiritual, tetapi juga tanda awal perubahan besar dalam perjuangan Islam. Setelah perjalanan ini, dakwah Nabi Muhammad SAW semakin menunjukkan arah yang lebih jelas, yang pada akhirnya mengarah pada hijrah ke Madinah dan terbentuknya komunitas Muslim yang lebih kuat.
Hikmah dan Pembelajaran dari Isra Mikraj
Isra Mikraj mengajarkan kita tentang keteguhan, kesabaran, dan keyakinan bahwa di balik setiap kesulitan, ada pertolongan dari Allah yang akan datang pada saat yang tepat.
Perjalanan ini menjadi pengingat bahwa meski ujian datang bertubi-tubi, Allah selalu menyiapkan jalan keluar yang penuh berkah.***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News