Pertumbuhan Ekonomi Sulsel dan Makassar Menurut Analisis Lukman Setiawan

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Pengamat ekonomi dari Universitas Bosowa, Dr Lukman Setiawan, menuturkan bahwa pertumbuhan ekonomi Sulawesi mengalami kenaikan secara signifikan.
Disebutkan bahwa merujuk pada analisis terbaru ekonomi Sulsel & Makassar per hari ini, data BPS 2026 dimana bukan fluktuasi tapi tren naik yang semakin kencang.
Gambaran besarnya untuk Sulawesi Selatan kata Lukman Setiawan, bahwa kalau kita lihat 3 tahun terakhir, grafiknya naik terus, bukan naik-turun.
“Untuk 2024 yakni 5,31%, 2025: 5,43% (tertinggi sejak pandemi). Triwulan I 2024:4,82%. Triwulan I 2025:*5,79%, Triwulan I 2026:6,88%. Dan Triwulan II 2026:5,59% masih di atas nasional 5,29%,”ucap Lukman Setiawan kepada Harian.News, Rabu (7/10/2026).
“Artinya alam 2,5 tahun, pertumbuhan Sulsel akselerasi hampir 2%. Dan masuk 6 besar nasional. Ini sinyal transformasi struktural, bukan cuma musiman,”sambungnya.
Lebih jauh dikatakan bahwa mesin pertumbuhan ekonomi Sulsel memiliki empat hak yang dianggap kunci keberhasilan.
Dimana sektor pertanian nasih jadi tulang punggung 23,71% PDRB. Tapi bukan pertanian tradisional lagi. Sekarang sudah hilirisasi: rumput laut jadi karagenan, kakao jadi bubuk, udang vaname ekspor. Penyerapan tenaga kerja 34% atau 1,62 juta orang.
Kedua, industri Pengolahan Nikel
Ini mesin baru. Sorowako – Malili – Bantaeng sekarang efeknya terasa sampai ke Sulsel. Walaupun smelter besarnya di Morowali, rantai pasok dan jasa logistiknya lewat Makassar. Makanya Luwu Timur, Luwu, Gowa tumbuh 7-9%.
Ketiga yakni perdagangan dan Makassar sebagai hub. Makassar itu bukan cuma kota, tapi hub Kawasan Timur. Siang hari penduduknya 2 juta karena orang dari Gowa, Maros, Takalar kerja ke Makassar. Konsumsi rumah tangga Sulsel naik 4,69% di 2025.
Dan keempat yaitu konstruksi dan proyek Multi Years Rp3,7 Triliun. Dimana Pemprov Sulsel genjot jalan provinsi, irigasi, RS. Ini mendorong sektor konstruksi.
Sementara itu, untuk pertumbuhan ekonomi Makassar lebih kencang lagi menurut Lukman Setiawan.
“2024:5,1-5,2%, 2025:5,34% versi BPS / 5,39% versi Pemkot. Triwulan II 2026:7,04%- Masuk 4 besar kota dengan pertumbuhan tertinggi se-Indonesia setelah Pekanbaru, Batam, Surabaya,”jelasnya.
“Realisasi investasi 2025 tembus Rp5,29 Triliun (naik 38% dari 2024), didominasi PMDN. Artinya pengusaha lokal percaya,”tambahnya.
Apakah Makassar fluktuatif? Lukman Setiawan menyebut justru stabil naik. Kalau fluktuatif itu seperti harga cabai dimana bulan ini 5%, bulan depan 2%.Sulsel tidak. Sulsel itu resilien.
Kenapa tidak fluktuatif? Basisnya diversifikasi kalau nikel turun, masih ada pertanian. Kalau pertanian paceklik, masih ada perdagangan. Konsumsi domestik kuat: 9 juta penduduk Sulsel belanja tiap hari.
Dan Inflasi terkendali 2,6-2,7% – daya beli terjaga.
Tapi Makassar memiliki PRnyang harus dilakukan yakni ketimpangan: Gini ratio masih 0,35. Sidrap tumbuh 7,71% jadi juara 1 Sulsel 2025, tapi Bantaeng cuma 2,56%. Jadi pertumbuhan tidak merata.
– Kualitas kerja: Pekerja penuh waktu baru 62%. Masih banyak setengah menganggur.
Menurut analisis secara kesimpulannya bahwa eonomi Sulsel dan Makassar saat ini berada di fase “Take Off”. Bukan lagi pemulihan pasca-covid, tapi sudah masuk ekspansi.
Kalau 2026-2027 ini hilirisasi nikel di Sulsel jadi (bukan cuma di Sulteng), plus Pelabuhan Makassar New Port beroperasi penuh, saya prediksi Sulsel bisa tembus 7% konsisten.
“Kalau dianalogikan bahwa dulu Sulsel itu mobil Avanza, sekarang sudah jadi Innova, lagi ancang-ancang mau jadi Fortuner,”pungkas Lukman Setiawan.
Sebelumnya, dikatakan akademisi Lukman Setiawan, menilai pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan (Sulsel) sebesar 6,88 persen pada triwulan I 2026 tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga menunjukkan kualitas yang semakin baik.
Menurutnya, pertumbuhan tersebut ditopang oleh sektor-sektor produktif yang memiliki nilai tambah dan menyerap banyak tenaga kerja. Seperti industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan konstruksi.
Meski demikian, Lukman mengingatkan pentingnya menjaga momentum agar pertumbuhan bisa menembus di atas 7 persen pada triwulan berikutnya.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News