Pesta Laut Pagatan, Tradisi Mappanretasi Nelayan Bugis yang Terus Beradaptasi

Pesta Laut Pagatan, Tradisi Mappanretasi Nelayan Bugis yang Terus Beradaptasi

Pesta Laut Mappanretasi, Tradisi Syukur Nelayan Bugis yang Beradaptasi dengan Zaman

JAKARTA, HARIAN.NEWS – Masyarakat Bugis di Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, setiap tahunnya menggelar tradisi yang telah menjadi bagian dari identitas budaya mereka, yakni pesta laut di Pantai Pagatan.

Dikenal dengan sebutan Mappanretasi, tradisi ini merupakan wujud syukur para nelayan atas hasil laut yang melimpah, sumber utama penghidupan mereka.

Secara etimologi, istilah Mappanretasi berasal dari bahasa Bugis, di mana Ma’ppanre berarti memberi makan, dan Tasi berarti laut. Ritual ini menjadi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam, meskipun kini istilah tersebut telah mengalami perubahan.

Pada 2022 lalu, Bupati Tanah Bumbu Zairullah Azhar mengganti nama kegiatan ini menjadi Mappanre Ri Tasie’e atau makan bersama di laut. Langkah tersebut dilakukan untuk menyesuaikan makna kegiatan dengan visi religius “Serambi Madinah” yang diusung pemerintah daerah.

Menurut catatan masyarakat setempat, tradisi ini konon bermula pada sekitar tahun 1850 oleh seorang nelayan bernama Muhammad Saleh. Ia dipercaya bertemu seorang asing bersorban putih yang kemudian menjadi awal dari berkah melimpah dalam kehidupannya.

Dari sana, tradisi memberi sajian kepada laut meluas hingga melibatkan para nelayan lain dan Kerajaan Bugis Pagatan.

Di masa awal pelaksanaannya, sajian yang diberikan berupa rusa, tetapi karena keterbatasan, kini diganti dengan hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau, atau ayam. Sajian tersebut dilepaskan ke laut sebagai simbol penghormatan dan rasa syukur.

Tradisi yang dilaksanakan setiap minggu ketiga bulan April ini tidak hanya berfungsi sebagai acara ritual, tetapi juga menjadi ajang kebersamaan masyarakat, meriah dengan kegiatan budaya, seni, dan pesta kuliner khas daerah.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, tersimpan pesan mendalam tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan laut. Tradisi ini mengingatkan bahwa manusia yang tinggal di daratan memiliki tanggung jawab besar terhadap ekosistem laut, mengajak semua pihak untuk bersikap bijak terhadap alam.

Dengan tetap melestarikan tradisi ini, masyarakat Bugis Pagatan menunjukkan kemampuan mereka dalam menjaga warisan budaya leluhur sekaligus menyesuaikan nilai-nilai tradisional dengan tuntutan zaman.

Untuk menyaksikan prosesi adat ini, Anda dapat menuju ke Batulicin, ibukota Kabupaten Tanbu yang berjarak sekitar 23 kilometer dari Banjarmasin. Perjalanan ke Batulicin dari Banjarmasin memerlukan waktu 5 jam. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News