PLN Dorong Modernisasi Pertanian, 4.438 Pelanggan Manfaatkan Listrik Produktif

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – PT PLN (Persero) UID Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) mendorong pemanfaatan listrik untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Hingga September 2026, program Electrifying Agriculture (EA) telah menjangkau 4.438 pelanggan dengan total daya tersambung mencapai 208.553,3 kVA.
Program yang mulai dijalankan pada 2021 ini ditujukan untuk mendukung kegiatan produktif di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan melalui pemanfaatan energi listrik.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Didik Wicaksono, mengatakan listrik dapat membantu petani meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung ketahanan pangan.
“Melalui Electrifying Agriculture, kami mendorong pemanfaatan listrik yang lebih produktif dan efisien guna membantu petani menekan biaya operasional, meningkatkan hasil pertanian, serta memperkuat ketahanan pangan,” ujar Didik dalam keterangannya, Minggu (11/10/2026).
Salah satu penerapan program tersebut terlihat di Desa Takkalasi, Kecamatan Maritengngae, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Di wilayah ini, listrik dimanfaatkan untuk mengoperasikan pompa air guna membantu memenuhi kebutuhan pengairan sawah, terutama saat musim kemarau.
Sekitar 395 hektare lahan pertanian di Desa Takkalasi dikelola oleh 13 kelompok tani. Sebelumnya, petani mengandalkan pasokan air dari Bendung Takkalasi yang dapat mengering ketika kemarau panjang.
Untuk mengatasi keterbatasan air, sebanyak 39 titik sumur bor telah tersedia sejak 2025. Keberadaan sumur bor tersebut, yang didukung pemanfaatan listrik untuk mengoperasikan pompa air, menjadi salah satu upaya menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Pada panen Agustus 2026, produktivitas padi di wilayah tersebut tercatat setara sekitar 10,4 ton per hektare, meningkat dibandingkan musim tanam sebelumnya yang berada di kisaran 7 ton per hektare.
Peningkatan hasil panen tersebut didukung sejumlah faktor, antara lain optimalisasi lahan, bantuan benih, penyediaan sumber air, dan pemanfaatan listrik untuk pengairan.
Penggunaan listrik untuk pompanisasi juga memberikan alternatif bagi petani agar tidak sepenuhnya bergantung pada bahan bakar minyak dalam mengoperasikan pompa air. Pemanfaatan ini berpotensi membantu efisiensi biaya operasional, bergantung pada tarif listrik, kapasitas peralatan, dan kebutuhan penggunaan di lapangan.
Selain untuk pengairan sawah, listrik dapat digunakan untuk menunjang berbagai kegiatan agrikultur, seperti sistem irigasi, pencahayaan, ventilasi, serta pengoperasian peralatan di sektor peternakan.
Didik mengatakan pengembangan program Electrifying Agriculture tidak hanya berfokus pada peningkatan jumlah pelanggan dan daya tersambung, tetapi juga pada manfaat yang dirasakan petani dan pelaku usaha.
“Pertanian memiliki peran penting dalam menopang perekonomian daerah dan ketahanan pangan nasional. Karena itu, PLN terus mendorong pemanfaatan listrik agar semakin produktif, mulai dari pengairan sawah, pengembangan usaha perkebunan, hingga modernisasi peternakan,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan program tersebut membutuhkan kerja sama antara PLN, pemerintah daerah, kelompok tani, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi diperlukan agar penyediaan infrastruktur kelistrikan sesuai dengan kebutuhan kegiatan pertanian di lapangan.
Pengembangan Electrifying Agriculture ini menjadi bagian dari upaya PLN UID Sulselrabar memperluas pemanfaatan listrik untuk kegiatan ekonomi produktif. Program tersebut juga diangkat menjelang Hari Listrik Nasional ke-81 yang diperingati pada 27 Oktober 2026.
PLN berharap pemanfaatan listrik di sektor agrikultur dapat membantu meningkatkan efisiensi usaha, menjaga produktivitas pertanian, dan membuka peluang pengembangan usaha masyarakat.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News