REWAKO Buka Jalan Busana Berbasis Wastra Lokal EIWA Dilirik Pasar Global
HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Malam sejuk menyelimuti Jimbaran, Bali. Puluhan pelaku UMKM binaan Rewako bersama media yang selama ini berkolaborasi dengan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan (BI Sulsel) berkumpul dalam suasana penuh keakraban. Di antara deretan meja dan hidangan seafood, sosok perempuan berhijab hitam tampak mencuri perhatian.
Ia dr. Alvira Ramdhani Mars, Creative Director sekaligus Owner EIWA, brand ready to wear deluxe yang mengolah wastra Sulawesi Selatan menjadi busana modern bernilai ekonomi.
Keikutsertaan Alvira di Bali merupakan bagian dari program capacity building Bank Indonesia bagi pelaku UMKM sektor wastra dan kriya. Program tersebut mempertemukan sekitar 30 pelaku usaha, mulai dari pengolah kain, desainer fashion hingga pengrajin kriya.
“Capacity building ini khusus untuk UMKM atau pelaku usaha yang bergerak di wastra dan kriya. Kami dari EIWA masuk di bagian fashion, mengolah wastra menjadi baju,” kata Alvira saat dikonfirmasi Harian.news, Jumat (28/08/2026).

Malam penutupan kegiatan Capacity Building Bank Indonesia Sulawesi Selatan (BI Sulsel) di Jimbaran, Bali. (Dok. Gita/HN)
Perjalanan EIWA dimulai pada 2015. Awalnya, usaha tersebut hanya berangkat dari hobi sang ibu yang memproduksi pakaian sederhana seperti kaus dan rok sekolah. Alvira yang memiliki latar belakang dokter kemudian melihat peluang untuk mengembangkan aktivitas tersebut menjadi bisnis.
“Awalnya memang dari hobi. Ibu bersama teman-temannya menyalurkan hobi. Kemudian saya dan saudara saya berpikir, kenapa tidak dijual?” ujarnya.
Seiring meningkatnya permintaan, EIWA mulai mengembangkan produk ke busana pesta dan formal. Wastra lokal menjadi identitas yang kemudian dipadukan dengan material modern seperti lace dan jacquard.
Strategi produk juga disesuaikan dengan karakter pasar. Untuk pasar lokal, EIWA mengembangkan baju bodo dan kebaya. Sementara pasar nasional diarahkan pada outer etnik dan dress. Adapun pasar global disasar melalui outer panjang, abaya dan gamis.
Pasar luar negeri menjadi salah satu capaian penting EIWA. Produk mereka telah diperkenalkan dalam Istanbul Fashion Connection (IFCO), salah satu ajang fashion besar yang mempertemukan pelaku industri dari berbagai negara.
“Kami sudah dua kali memamerkan produk di Istanbul Fashion Connection. Buyer kami ada dari Turki, Saudi Arabia, bahkan Palestina. Yang paling banyak membeli produk kami adalah dari Saudi Arabia,” kata Alvira.
Pertumbuhan itu tidak terlepas dari pendampingan Bank Indonesia. EIWA mulai bergabung setelah mengikuti exhibition, talkshow dan business matching pascapandemi Covid-19. Dari kegiatan tersebut, EIWA kemudian masuk dalam program binaan dan mengikuti REWAKO.
Menurut Alvira, pendampingan tersebut mengubah cara pandangnya dalam menjalankan usaha. Jika sebelumnya bisnis berjalan tanpa target yang terukur, kini EIWA mulai memiliki milestone, sistem operasional, SOP, pembagian SDM hingga indikator kinerja.
“Mindset kami sangat berbeda. Dulu hanya let it flow tanpa target. Setelah menjadi binaan, kami belajar bahwa harus ada milestone dan target setiap tahun,” tuturnya.
Program REWAKO juga membuka akses EIWA terhadap berbagai exhibition dan business matching, termasuk REWAKO Fashion dan REWAKO Ekspor. Kesempatan tersebut mempertemukan produk UMKM dengan calon konsumen dan buyer dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Dampaknya terasa pada kapasitas dan penjualan. Jika sebelumnya produksi EIWA belum mencapai 100 pieces per bulan, kini kapasitasnya mencapai sekitar 300–400 pieces per bulan, menyesuaikan permintaan.
Strategi Bisnis Lewat QRIS hingga Marketplace
Pengunjung sedang memilih berbagai busana wastra EIWA di Jalan Deposito No. 8, Makassar. (Dok. Gita/HN)
Berkunjung ke outlet EIWA di Jalan Deposito No. 8, Makassar, Selasa (1/9/2026), digitalisasi terlihat menjadi bagian penting dalam pertumbuhan bisnis tersebut. EIWA kini mengutamakan transaksi melalui QRIS, transfer, maupun pembayaran menggunakan kartu melalui EDC.
Di sisi pemasaran, EIWA memanfaatkan Instagram, website, WhatsApp, Shopee, dan Tokopedia untuk memperluas jangkauan pasar.
Bagi Alvira, penguatan UMKM bukan hanya soal menambah produksi, tetapi membangun kapasitas pelaku usaha agar mampu naik kelas.
“Kami sangat terbantu. Ketika mindset dan manajemen sudah rapi, kapasitas produksi meningkat dan otomatis berpengaruh terhadap omzet,” katanya.
EIWA kini tumbuh menjadi usaha fashion yang membawa identitas wastra Sulawesi Selatan menuju pasar nasional dan global.
Pendampingan, digitalisasi, jejaring usaha dan akses pasar menjadi modal penting bagi UMKM untuk tidak hanya bertahan, tetapi berkembang dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
REWAKO Buka Peluang UMKM Tembus Pasar Global
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda saat menyampaikan materi Pelatihan Wartawan Sulawesi Selatan (Media Engagement) tahun 2026 di Bali. (Dok. Gita/HN)
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda mengatakan penguatan UMKM menjadi strategi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Melalui program Inklusi Ekonomi dan Keuangan Berkelanjutan (IEKB), Bank Indonesia membangun pendampingan UMKM dari hulu hingga hilir. Salah satunya melalui REWAKO (Resilient, World Class, Agile, Knowledgeable), yang memberikan penguatan manajemen, pemasaran, keuangan, digitalisasi hingga ekspor.
“Penguatan UMKM tidak hanya dari sisi kapasitas, tetapi juga bagaimana membuka akses pembiayaan dan pasar,” kata Rizki.
Bank Indonesia juga mendorong access to finance melalui workshop pembiayaan dan business matching, serta database UMKM potensial dibiayai melalui BISAID.
“Hasilnya mulai terlihat. Nilai business matching ekspor dalam Anging Mammiri Business Fair meningkat dari Rp5,72 miliar pada 2022 menjadi Rp228,12 miliar pada 2025,” jelas Rizki.
Kisah EIWA menjadi salah satu contoh. Brand fashion berbasis wastra Sulsel itu kini mampu memproduksi sekitar 300–400 pieces per bulan dan memperluas pasar hingga Turki serta Arab Saudi.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa penguatan kapasitas, digitalisasi, pembiayaan dan akses pasar dapat menjadi jalan bagi UMKM Sulsel untuk naik kelas dan berdaya saing global.
Penulis: Gita Oktaviola
Baca berita lainnya Harian.news di Google News