Riset MORA Fund-LPDP UIN Alauddin Uji Teknologi Precision Livestock Farming di Takalar

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Tim Riset MORA Air Fund dan LPDP UIN Alauddin Makassar melakukan uji lapangan teknologi Smart IoT Tracking & Utility for Ruminant Understanding (SITURU) di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Selasa (25/8/2026).
Pengujian tersebut dilakukan untuk memastikan kemampuan teknologi dalam memantau kesehatan dan reproduksi sapi lokal secara digital sekaligus meningkatkan akurasi pengambilan keputusan dalam pengelolaan ternak.
Uji lapangan ini merupakan bagian dari penelitian unggulan nasional bertajuk “Bioteknologi Reproduksi Sapi Berbasis Precision Livestock Farming untuk Ketahanan Pangan Menuju Indonesia Emas 2045”. Penelitian tersebut mendapat dukungan hibah pendanaan MORA Fund LPDP Tahun 2025.
Ketua Tim Riset, Prof. Dr. Ir. Muhammad Basir Paly, M.S., mengatakan SITURU dikembangkan untuk mendukung penerapan konsep Precision Livestock Farming, yakni sistem peternakan yang memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan ternak.
“Pemasangan perangkat SITURU bertujuan meningkatkan akurasi pemantauan reproduksi dan kesehatan sapi lokal melalui pemanfaatan teknologi digital. Dengan data yang diperoleh secara real-time, peternak dapat mengambil keputusan lebih cepat dan tepat, baik dalam mendeteksi masa birahi maupun mengidentifikasi gejala penyakit sejak dini,” ujar Prof. Basir.
SITURU mengintegrasikan sensor Internet of Things (IoT) dengan Artificial Intelligence (AI) untuk merekam berbagai parameter ternak. Data yang dipantau antara lain suhu tubuh, pola pergerakan, aktivitas harian, serta perubahan perilaku sapi.
Data tersebut kemudian dianalisis untuk membantu menentukan waktu optimal inseminasi buatan (IB) sekaligus mendeteksi potensi gangguan kesehatan sejak dini.
Dalam uji lapangan di Takalar, tim mengamati tiga kondisi fisiologis sapi lokal, yakni sapi dalam kondisi normal dan sehat, sapi yang sedang mengalami birahi atau oestrus, serta sapi dalam kondisi sakit.
Setiap ternak dipasangi perangkat SITURU yang terhubung dengan sistem pemantauan digital. Pengujian dilakukan untuk melihat respons sistem terhadap perbedaan kondisi fisiologis sapi.
Perwakilan Tim IT sekaligus anggota Tim Riset, Dr. Ir. A. Muhammad Syafar, A.Md., S.T., M.T., IPM., mengatakan pengujian langsung diperlukan untuk memastikan perangkat dan sistem yang dikembangkan mampu bekerja dalam kondisi peternakan sebenarnya.
“Uji kelayakan alat ini merupakan bagian penting dari kegiatan Tim MORA dalam merealisasikan program yang didanai oleh MORA Fund dan LPDP. Melalui pengujian langsung pada ternak sapi di Kabupaten Takalar, kami dapat memastikan bahwa perangkat keras, sistem sensor, dan transmisi data berbasis IoT yang dirancang dapat berjalan optimal dan andal di kondisi lapangan yang sebenarnya,” ungkapnya.
Menurut Prof. Basir, pemanfaatan teknologi digital dalam sektor peternakan menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan produktivitas sapi lokal. Teknologi tersebut juga diharapkan dapat berkontribusi terhadap penguatan ketahanan pangan nasional.
Penelitian ini melibatkan kolaborasi lintas bidang, mulai dari peternakan, teknik informatika hingga sistem informasi. Tim riset terdiri atas Prof. Dr. Ir. Muhammad Basir Paly, M.S. sebagai ketua tim, Dr. Ir. A. Muhammad Syafar, A.Md., S.T., M.T., IPM., Dr. Inna Novianty, M.Si. dari IPB University, Rasyidah Mappanganro, S.Pt., M.Si., Muhammad Arsan Jamili, S.Pt., M.Si., Ayu Lestari, S.Pt., M.Si., Rahman, S.Kom., M.T., serta Andi Muhammad Nur Hidayat, S.Kom., M.T.
Uji lapangan di Takalar menjadi salah satu tahapan penting dalam pengembangan SITURU. Teknologi tersebut diharapkan dapat memperkuat sistem pemantauan ternak berbasis data sehingga pengelolaan reproduksi dan kesehatan sapi lokal dapat dilakukan secara lebih presisi.
Pengembangan teknologi ini sekaligus diarahkan untuk mendukung peningkatan produktivitas peternakan dan ketahanan pangan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News