Ritual Maddoja Bine di Sengka Kini Terhubung Jaringan Indosat
HARIAN.NEWS, MAKASSAR – “Kalau tidak dibicarakan dengan baik, ke depan, kami akan selalu mengalami gagal panen. Itu masalahnya.”
Kalimat itu, tiba-tiba meluncur dari bibir Dg. Ngunjang, petani di Desa Sengka Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa.
Saat itu, ia sedang berdialog dengan kelompok mahasiswa dari Universitas Ciputra Makassar Jurusan Informatika yang ingin mempelajari soal pertanian.
Wajahnya serius, sambil memandang hamparan jagung di depannya yang sebentar lagi memasuki masa panen.
Menurut Dg. Ngunjang, persoalan utama yang saat ini dihadapi Desa Sengka, tidak bersamanya waktu tanam dan waktu panen.
Ketidakteraturan ini membuat hama, seperti tikus dan ulat, mudah berpindah dari lahan yang sudah dipanen ke lahan yang masih hijau. Akibatnya, kerugian pun terus berulang.
“Kalau ada yang panen duluan, hamanya lari ke kebun tetangganya. Begitu terus. Kami butuh solusi supaya waktu panen bisa diatur, biar hama tidak saling pindah,” jelasnya.
—
Desa Sengka, salah satu desa di Kabupten Gowa penghasil padi dan jagung. Desa ini dikenal sebagai desa yang masih memegang teguh ritus-ritus bertani. Salah satunya adalah Maddoja Bine. Ritual sakral yang dilakukan sebelum benih padi ditanam.
Maddoja Bine biasanya berlangsung pada malam hari, menjelang penyemaian benih. Kata maddoja berarti berjaga atau begadang, sedangkan bine berarti benih.

Kondisi pertanian di Desa Sengka, Kecamatan Bontonompo Selatan Kabupaten Gowa. (Foto: Gita/HN)
Sejak matahari terbenam hingga mendekati fajar, para petani bersama pemangku adat berkumpul di lumbung atau rumah adat untuk menjaga benih sambil melantunkan doa, zikir, dan bacaan-bacaan sakral.
“Ritual ini masih sering kami lakukan. Selain Maddoja Bine, ada juga ritual lain untuk mengusir hama sampai ritual sebelum memanen padi atau jagung,” tutur Dg. Ngunjang.
Namun, seiring berjalannya waktu, desa ini mengalami banyak masalah ekologi, seperti gangguan hama dan kondisi tanah yang kadang menghambat pertumbuhan tanaman.
Dg. Ngunjang, menjelaskan masalah yang paling peting untuk diatasi saat ini, pola komunikasi untuk melakukan penanaman serentak agar masalah hama dapat diselesaikan bersama.
Ia juga tidak menampik jika solusi dari masalah tersebut berkaitan dengan teknologi modern. Ia percaya jika ritual dan teknologi canggih bisa berjalanan beriringan dan membuat petani desa semakin berkembang.
“Kami tetap butuh teknologi, tapi jangan sampai adat hilang. Dua-duanya penting,” katanya.
Program Berkelanjutan Berbasis IoT dan Jaringan Indosat
Setelah melakukan dialog langsung dengan para petani di Desa Sangka, sekelompok mahasiswa langsung merumuskan sebuah program berkelanjutan berbasis teknologi yang diberi nama “Belajar Tani”.
Mahasiswa jurusan Informatika UC Makassar saat berkunjung ke Desa Sengka. (Foto: dok pribadi Andi Muhammad Rakha)
Program ini dikembangkan bersama Indosat melalui jaringan dan memanfaatkan aplikasi Internet of Things (IoT) untuk menjawab persoalan mendasar yang selama ini dihadapi para petani.
Andi Muhammad Rakha Zulkarnain, mahasiswa Jurusan Informatika yang memimpin pembuatan aplikasi tersebut, menjelaskan bahwa Belajar Tani dirancang untuk memperbaiki berbagai kendala komunikasi dan manajemen pertanian.
“Selama ini, dalam satu kelompok tani yang beranggotakan 8–9 orang, pola pikir dan jadwal aktivitas sering tidak selaras sehingga berdampak pada produktivitas,” jelasnya kepada harian.news, Rabu (10/12/2025).
Melalui fitur kalender digital yang terintegrasi, aplikasi Belajar Tani akan mengingatkan petani tentang waktu tanam ideal, jadwal tanam serentak, hingga pengaturan pola tanam berdasarkan kondisi tanah.
Selain itu, aplikasi ini juga memberikan alarm penjadwalan pemupukan dan penggunaan pestisida yang selama ini belum termodernisasi secara baik.
“Sebanyak 97 persen petani di sini sudah memiliki handphone. Itu sebabnya kami membuat sistem yang sederhana, menggunakan integrasi Google Calendar agar mudah digunakan,” beber Rakha.
“Saat ada tambahan kegiatan atau jadwal baru dari ketua gabungan kelompok tani, pemberitahuan langsung masuk ke ponsel mereka,” tambahnya.
Program ini dirancang sebagai program berkelanjutan. Saat ini masih tahap awal pembuatan dan pemantapan aplikasi.
Mockup aplikasi Belajar Tani. (Foto: dok Andi Muhammad Rakha Zulkarnain)
Selanjutnya, sistem akan diterapkan untuk melihat efektivitasnya dalam meningkatkan komunikasi dan keseragaman pola kerja para petani.
Dengan dukungan jaringan Indosat yang stabil di daerah tersebut, Belajar Tani diharapkan menjadi solusi digital bagi petani ke depannya.
“Misalnya membantu petani mengatur waktu tanam, menghindari kesalahan perencanaan saat musim hujan, serta meningkatkan kualitas dan hasil panen,” jelasnya.
Dengan demikian, aplikasi Belajar Tani dan jaringan Indosat bisa lebih memudahkan ritual Maddoja Bine dilakukan bersamaan, sehingga masa panen pun bisa serentak.
Kolaborasi Universitas Ciputra dan Indosat Menuju 1000 Desa Digital
Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Kalisumapa semakin gencar mewujudkan desa digital di Sulawesi Selatan. Kali ini Indosat menggandeng kampus ternama di Makassar, Universitas Ciputra.
Arnold Nasir, Koordinator Kerjasama Prodi Informatika Universitas Ciputra Makassar, yang menjadi jembatan penghubung program kolaborasi UC dan Indosat.
Ia menceritakan bagaimana program yang menyasar petani ini mulai digerakkan sejak Agustus lalu, menjadikan Sulsel sebagai salah satu wilayah yang mulai merasakan dampak gerakan seribu desa digital tersebut.
“Indosat awalnya meng-approach kami. Ternyata ada program yang cocok, khususnya pengembangan dan pemanfaatan teknologi IoT,” ujar Arnold.
Indosat hadir sebagai penyedia infrastruktur jaringan, sementara tim kampus mengembangkan aplikasi, hingga melakukan riset dan pengabdian kepada masyarakat.
Tim UC Makassar dan Indosat saat berkunjung ke Desa Sengka. (Foto: dok UC Makassar)
Program desa digital yang telah lebih dulu berjalan di Kalimantan kini mulai merambah Sulawesi Selatan, dengan Universitas Ciputra menjadi salah satu mitra utama.
Di desa Sengka, mahasiswa informatika untuk pertama kalinya turun langsung ke lapangan. Mereka memetakan persoalan pertanian yang selama ini lebih banyak mereka pahami sebatas teori di kelas.
“Selama ini mahasiswa hanya tahu teorinya. Begitu ketemu langsung masalah yang ada di lapangan, ternyata jauh berbeda. Ini tahap awal untuk mengenalkan mereka pada problem nyata,” jelas Arnold.
Salah satu fokus utama program ini adalah pengembangan aplikasi Belajar Tani yang memanfaatkan teknologi IoT.
Aplikasi tersebut membantu petani mengelola waktu tanam, memahami kondisi lahan, hingga melakukan penanaman serentak agar hasil lebih optimal.
Dengan 97 persen petani telah menggunakan ponsel, solusi digital ini dinilai sangat potensial untuk diadopsi secara luas.
Arnold menegaskan bahwa program desa digital bukan hanya untuk sektor pertanian, tetapi juga peluang lain yang dapat diliterasi secara digital sesuai kebutuhan masyarakat desa.
Namun untuk tahap awal, tim memilih fokus pada pertanian karena itu adalah kebutuhan paling mendesak di lapangan.
“Kami dari kampus siapkan pengembangan aplikasinya, Indosat dari sisi teknologi jaringannya. Kolaborasi ini bukan hanya soal solusi, tapi juga soal pembelajaran dan pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.
1.000 Desa Digital Dorong Kemandirian Ekonomi dan Pertanian
EVP Head of Circle Kalisumapa Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), menegaskan bahwa program 1.000 Desa Digital dirancang untuk menciptakan kemandirian masyarakat, khususnya dalam sektor ekonomi dan pertanian.
EVP Head of Circle Kalisumapa IOH, Swandi Tjia. (Foto: dok HN)
“Program 1.000 Desa Digital sejalan dengan inisiatif pemerintah untuk menjadikan koperasi sebagai soko guru ekonomi lokal,” ujarnya.
Melalui digitalisasi, desa diharapkan mampu mengelola usaha bersama, distribusi hasil tani, hingga pemasaran produk secara lebih mandiri dan efisien.
Salah satu pilar utama program ini adalah Sekolah Digital, yang fokus pada pemerataan akses internet di wilayah pedesaan.
Kehadiran internet tidak hanya meningkatkan kualitas pendidikan generasi muda, tetapi juga membuka peluang baru bagi petani untuk mengakses informasi cuaca, harga komoditas, teknik budidaya modern, hingga pasar digital.
Literasi digital yang meningkat diyakini dapat memperkuat daya saing dan produktivitas masyarakat desa, termasuk pengembangan sektor pertanian berbasis teknologi.
Swandi menekankan bahwa digitalisasi desa bukan sekadar pembangunan jaringan, tetapi penciptaan ekosistem yang mendukung kemajuan ekonomi dan pertanian secara bersamaan.
Dengan teknologi, petani dapat memaksimalkan waktu tanam, mengelola lahan lebih efisien, serta memasarkan hasil tani tanpa perantara.
“Harapannya, desa-desa Kalisumapa dapat menjadi komunitas mandiri yang memanfaatkan transformasi digital untuk meningkatkan kesejahteraan,” pungkasnya.
Ritual Tani dan Eksistensi Teknologi Digital
Perubahan cara bertani yang semakin modern tidak lagi dianggap sebagai ancaman bagi tradisi agraris. Justru, menurut para pemerhati budaya, perubahan ini membuat praktik pertanian menjadi lebih kompleks, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan petani masa kini.
Budayawan Sulawesi Selatan, Abdi Mahesa, menjelaskan bahwa dalam kebudayaan lokal, pertanian sejak dulu dipandang sebagai ruang hidup yang sarat nilai spiritual.
Masyarakat Bugis-Makassar mengenal sangiang seri, entitas yang diyakini menjaga padi, yang kemudian melahirkan tradisi dewi padi atau appalili.
Ada pula ritual Maddoja Bine, yang dilakukan untuk memohon keselamatan saat musim tanam dan sebagai ungkapan syukur ketika panen tiba.
Meski demikian, dunia pertanian kini bergerak cepat seiring hadirnya berbagai alat modern seperti traktor, pompa mesin, atau aplikasi Belajar Tani yang hadir atas kerjasama Universitas Ciputra dan Indosat.
Bagi Abdi, perubahan ini memunculkan apa yang ia sebut “eksistensifikasi pertanian,” yaitu pergeseran orientasi petani ke arah proses yang lebih teknis, efisien, dan berbasis hasil. Namun perubahan tersebut bukan berarti tradisi sepenuhnya hilang.
Abdi menilai modernisasi justru dapat menjadi jembatan yang membuat tradisi tetap hidup, meski dalam bentuk yang lebih kontekstual.
Ritual seperti appalili dan Maddoja Bine tetap dapat dilakukan sebagai wujud syukur dan penghormatan terhadap alam, sementara teknologi membantu petani mengejar ketepatan waktu, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi beban kerja.
“Petani sekarang dikejar target musim tanam. Mereka butuh alternatif yang membantu prosesnya,” ujar Abdi.
Ia menjelaskan bahwa kebutuhan pertanian masa kini menuntut efisiensi tinggi. Petani harus mampu memaksimalkan lahan, mempercepat proses tanam, serta mengurangi risiko gagal panen akibat perubahan cuaca.
Teknologi pun hadir sebagai solusi praktis yang membuat ritme kerja lebih terukur dan produktif, tanpa harus meniadakan ruang bagi kearifan lokal.
Abdi berharap bahwa keberadaan teknologi pertanian dapat memperkuat, bukan menggantikan, identitas budaya agraris.
Menurutnya, ketika ritual dan inovasi berjalan berdampingan, masyarakat tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga memastikan pertanian tetap relevan dan berkelanjutan di tengah tuntutan zaman.
“Yang penting adalah keseimbangan,” ujarnya, “karena budaya dan teknologi sama-sama punya ruang untuk hidup di ladang petani.”
Baca berita lainnya Harian.news di Google News