“Saya Hanya Ingin Menulis Pengalaman Membuka WARUNG 2000”

Oleh: Nasran Mone

HARIAN.NEWS – Pada akhir bulan Oktober 2022, saya berinisiatif membuka Warung 2000. Warung yang menjual makanan seharga Rp.2000,-.

Bagi sebagian orang, kegiatan ini mungkin dianggap sebagai kegiatan yang biasa-biasa saja. Atau pun mungkin dapat menimbulkan berbagai macam interpretasi.

Tetapi kegiatan yang kami namakan WARUNG 2000 adalah kegiatan yang kami pandang perlu, karena ternyata tanpa disadari ide sederhana ini sudah berjalan sembilan (9) minggu.

Warung 2000 sendiri adalah warung makan yang kami hadirkan pada setiap hari JUM’AT, dengan menu lengkap dan dijual seharga Rp. 2000,-.

Mengapa tidak dibagikan gratis saja? Sebab filosofi yang kami anut, kedermawanan sekalipun harus mengandung unsur usaha dan pendidikan. Sehingga masyarakat yang membutuhkan juga tidak kehilangan harga diri karena mereka memperoleh makanan dengan membeli.

Harganya saja yang miring, sekali lagi hanya Rp. 2000,-. Harga di sini adalah tanda bahwa orang tidak sekedar datang menengadahkan tangan untuk menerima sedekah yang kadang menciptakan ketergantungan.

Sejujurnya, saya tidak peduli dengan berbagai tenggapan dan interpretasi apapun dari kegiatan ini. Saya hanya ingin menulis sedikit pengalaman selama membuka WARUNG 2000, kendatipun sesungguhnya saya tidak ahli menulis.

Saya hanya merasa perlu membagikan rasa keterharuan dan pengalaman baru ini, maka penting kiranya saya menulis sekalipun tulisan saya ini sangat tidak sistematis dan menarik untuk dibaca. Tetapi saya berharap bacalah hingga selesai.

Ceritanya begini.

Pada minggu ke lima WARUNG 2000 berjualan nasi doz Rp.2000 yang rata-rata habis terjual sekitar 500 hingga 650 doz, saya tiba-tiba melihat dari kejauhan seorang pemulung mampir melihat-lihat antrian para pembeli yang cukup banyak. Saya perhatikan, sesekali pemulung itu bertanya-tanya pada orang-orang disekitar antrian. Entah apa yang dia pertanyakan.

Tetapi kemudian saya lihat dia menepi ke pinggir jalan dan meletakkan karung tempat barang pungutannya diletakkan ke tanah. Seketika itu dia ikut pada barisan antrian untuk ikut membeli nasi. Kira-kira berselang 30 menit si pemulung antri tibalah gilirannya.

Dia menyodorkan uang pecahan Rp. 2000,- sebanyak 2 lembar. Artinya dia mau membeli dua doz. Duit yang disodorkan sangat kusut dan sedikit basah. Setelah saya serahkan dua doz nasinya, tiba tiba saya lihat air matanya menetes sambil berucap, “mudah mudahan berjualan terus jaki setiap hari Jumat.”

Saya kemudian balik bertanya, “kenapa kalau jualan terus nasi 2000?”

“SUPAYA SAYA JUGA BISA BELI NASI YANG ENAK, karna kalau nasi ini harganya 5000, maka saya pasti tidak bisa membeli,” jawabnya.

Lalu melanjutkan, “hanya Indomie setiap hari yang saya makan, tapi sekarang dengan adanya nasi 2000 berarti setiap hari Jumat saya istirahat makan Indomie.”

Ya Allah, mendengar ungkapan pemulung itu membuat saya semakin bersemangat melayani para pembeli yang dengan sabar antri berhimpitan pada barisan ratusan orang.

Masuk minggu keenam si pemulung itu datang lagi mengantri. Saya lihat wajahnya sangat bersemangat dan bahagia. Akhirnya sampai minggu kesembilan si pemulung itu tetap datang antri untuk membeli nasi. Dan setiap tiba gilirannya selalu saja ada komentarnya, “SEHAT KI PA HAJI, MURAH REZKITA.”

Itulah sedikit catatan pengalaman saya di akhir tahun 2022 ini. Dalam pikiran, rasa dan doa saya semoga WARUNG 2000 dapat berlanjut di tahun 2023 dan tentunya saya ingin mengajak TEMAN TEMAN, SAHABAT DAN KERABAT, mari kita jadikan WARUNG 2000 sebagai wadah, ruang untuk peduli sesama hingga kita bisa bermanafaat bagi orang lain.

Wassalam
Nasran Dg Mone

Jumat (30/12/2022)

Baca berita lainnya Harian.news di Google News