Semangat 17 Agustus: Menjaga Kemerdekaan, Melanjutkan Perjuangan

Semangat 17 Agustus: Menjaga Kemerdekaan, Melanjutkan Perjuangan

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Setiap Agustus, kita kembali dihadapkan pada satu kata yang begitu akrab, tetapi mungkin belum selalu kita renungkan maknanya “merdeka”.

Di tengah euforia perayaan 17 Agustus, ada yang bertanya, “Benarkah Indonesia sudah merdeka?” Sebagian bahkan menganggap hal itu tidak perlu dirayakan karena masih terlalu banyak problema yang belum terselesaikan, kemiskinan, kesenjangan, korupsi, ketidakadilan, hingga pendidikan yang belum sepenuhnya merata.

Pertanyaan-pertanyaan itu sah. Kritik terhadap keadaan negeri justru merupakan bagian dari dinamika kehidupan dalam negara yang demokratis. Namun, ada hal yang perlu dibedakan, bersikap kritis tidak sama dengan menjadi apatis.

Terlepas dari belenggu penjajah bukan berarti terbebas dari seluruh persoalan. Ia adalah hak untuk menentukan arah kehidupan sendiri sekaligus kesempatan untuk terus memperbaikinya. Para pendahulu tidak mewariskan Indonesia yang sudah selesai. Mereka mewariskan sebuah negeri yang memperoleh kesempatan untuk menentukan nasibnya sendiri.

Kesempatan itu dibayar dengan harga mahal.

Ada yang bergerilya dalam keterbatasan, meninggalkan keluarga, kehilangan harta, bahkan gugur dalam perjuangan. Mereka mungkin tidak pernah tahu seperti apa Indonesia puluhan tahun kemudian. Apakah negeri ini kelak menjadi negara maju, sejahtera, atau masih bergulat dengan berbagai persoalan. Yang mereka yakini hanyalah satu, generasi setelah mereka berhak hidup di negeri yang merdeka.

Kini, generasi setelah mereka adalah kita.

Bentuk tantangannya memang berbeda. Perjuangan hari ini tidak selalu berlangsung di medan perang. Ia hadir melalui pendidikan, ilmu pengetahuan, integritas, karya, inovasi, keberanian menyuarakan kebenaran, serta kepedulian terhadap persoalan di sekitar.

Zaman berubah dan bentuk perjuangan pun berganti, tetapi tanggung jawab untuk menjaga serta mengisi kemerdekaan tidak pernah selesai.

Bagi Milenial dan Gen Z, merdeka mungkin berarti memiliki kebebasan untuk menentukan jalan hidup, menyampaikan pendapat, memilih pekerjaan, membangun karier, atau mencari pengalaman di belahan dunia lain. Semua itu merupakan bagian dari kemerdekaan.

Namun, kebebasan tidak semestinya dimaknai sebagai hidup tanpa batas dan tanggung jawab.

Kita bebas menentukan pilihan, tetapi juga harus bertanggung jawab atasnya. Kita bebas mengkritik, tetapi perlu bersedia ikut mencari solusi. Kita bebas mengejar kehidupan yang lebih baik, tetapi jangan sampai kehilangan rasa memiliki terhadap tempat kita berasal.

Setiap anak bangsa memiliki ruang untuk berkontribusi. Tidak harus selalu melalui sesuatu yang besar. Seorang guru yang mendidik dengan tulus, tenaga kesehatan yang melayani dengan integritas, pengusaha yang membuka lapangan kerja, peneliti yang menghasilkan pengetahuan, pekerja yang menjalankan tugas dengan jujur, maupun anak muda yang berani memperjuangkan kebenaran, semuanya mengambil bagian dalam membangun Indonesia.

Sebab, negeri yang ideal tidak lahir dengan sendirinya. Ia dibangun melalui kontribusi bersama.

Bersediakah kita mengambil bagian?

Kita boleh kecewa, mengkritik, dan menuntut perubahan. Ketika menemukan ketidakadilan, kita bahkan perlu berani bersuara. Namun, jangan sampai kritik berubah menjadi sinisme dan kebebasan menjadi apatisme.

Merayakan 17 Agustus juga tidak harus dimaknai sebagai tanda bahwa Indonesia telah sempurna. Justru sebaliknya, peringatan kemerdekaan adalah kesempatan untuk mengingat bahwa kebebasan yang kita nikmati lahir dari pengorbanan mereka yang hidup sebelum kita.

Pembelajaran dari para pejuang dulu, adalah mentalitas mereka, pantang menyerah, berani melawan ketidakadilan, rela berkorban, dan mengutamakan kepentingan bangsa.

Nilai-nilai itulah yang perlu kita ejawantahkan untuk menjawab tantangan zaman.

Harus disyukuri dan amanah yang harus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya. ***

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Halaman

Penulis : IGA KUMARIMURTI DWIA ( PEMRED HARIAN.NEWS)