Taruna Ikrar, Kepala BPOM, Ajak Ilmuwan ASEAN Bangun Ekosistem Mikrobioma di Sunway University Selangor Malaysia

Taruna Ikrar, Kepala BPOM, Ajak Ilmuwan ASEAN Bangun Ekosistem Mikrobioma di Sunway University Selangor Malaysia

HARIAN.NEWS, MALAYSIA – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Taruna Ikrar mendorong Indonesia dan Malaysia memperkuat kerja sama di bidang ilmu mikrobioma (microbiome science) dan ilmu regulasi (regulatory science).

Kolaborasi dinilai semakin penting seiring berkembangnya pemanfaatan mikrobioma untuk mendukung inovasi diagnostik, terapi, produk bioterapeutik, hingga intervensi nutrisi.

Hal tersebut disampaikan Taruna Ikrar saat memberikan opening remarks pada Inaugural Malaysia Microbiome Meeting (MMM) 2026, Sabtu, 3 Oktober 2026, di Sunway University, Selangor, Malaysia. Pertemuan perdana ini sekaligus menjadi momentum soft launch Sunway Microbiome Centre (SUMC).

“Indonesia dan Malaysia memiliki kedekatan sejarah, budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Ini membuka peluang besar untuk memperdalam kerja sama dalam microbiome science dan regulatory science, khususnya dalam konteks ASEAN dan Asia-Pasifik,” kata Taruna Ikrar.

Menurut Taruna, mikrobioma menjadi salah satu bidang yang menjanjikan dalam perkembangan ilmu hayati modern. Kajian mikrobioma mengubah cara pandang terhadap kesehatan manusia, dari pendekatan yang berfokus pada sel dan organ menuju pemahaman mengenai interaksi kompleks antara tubuh manusia dengan triliunan mikroorganisme yang hidup berdampingan dengannya.

Perkembangan riset mikrobioma membuka peluang dalam penanganan penyakit infeksi, gangguan metabolik dan gastrointestinal, penyakit yang dimediasi sistem imun, hingga onkologi. Riset tersebut juga mendukung pengembangan diagnostik, terapi, produk bioterapeutik, serta intervensi nutrisi baru.

Taruna mengutip proyeksi Grand View Research yang menyebut pasar global terapi berbasis mikrobioma diperkirakan mencapai US$255,1 juta pada 2026 dan berpotensi melampaui US$1,06 miliar pada 2030. Pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya investasi, kolaborasi riset dan pengembangan, serta pengembangan produk terapi berbasis mikrobioma.

Namun, Taruna menegaskan bahwa perkembangan inovasi harus berjalan beriringan dengan penguatan ilmu regulasi. Produk berbasis mikrobioma harus ditopang bukti ilmiah yang kuat mengenai identitas, kemurnian, potensi, stabilitas, konsistensi, pengendalian proses produksi, mekanisme kerja, keamanan, dan efektivitas klinis.

“Regulatory science harus berkembang sejalan dengan inovasi ilmiah. Regulator memiliki peran penting untuk melindungi masyarakat, memastikan mutu produk, serta menjaga integritas klaim kesehatan, sekaligus menciptakan lingkungan regulasi yang mendukung inovasi secara bertanggung jawab dan berbasis bukti,” ujar Taruna.

Lawatan Sunway University Bagian dari Konsep ABG

Lawatan Taruna Ikrar ke Sunway University juga menjadi bagian dari penguatan konsep ABG—Academic, Business, and Government yang terus didorong BPOM. Konsep tersebut mempertemukan kekuatan perguruan tinggi dan peneliti sebagai penghasil ilmu pengetahuan, dunia usaha sebagai motor inovasi dan hilirisasi, serta pemerintah sebagai regulator dan fasilitator untuk memastikan inovasi berkembang dengan tetap mengutamakan keamanan dan kepentingan masyarakat.

Menurut Taruna, perkembangan mikrobioma merupakan contoh bidang yang membutuhkan kolaborasi ABG secara nyata. Temuan dari laboratorium dan perguruan tinggi perlu memiliki jalur menuju inovasi dan industri, sementara regulator harus hadir sejak dini untuk memastikan proses pengembangan produk memenuhi standar mutu, keamanan, khasiat, serta bukti ilmiah yang memadai.

“Inovasi tidak boleh berhenti di laboratorium. Melalui konsep ABG, ilmu pengetahuan harus bertemu dengan industri dan regulasi agar hasil riset dapat dihilirisasi menjadi produk yang aman, bermutu, berdaya saing, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Taruna.

Dalam konteks itu, kerja sama Indonesia dan Malaysia dapat diwujudkan melalui riset bersama, pertukaran ilmiah, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan standar dan metodologi, kolaborasi regulatory science, serta dialog mengenai pendekatan regulasi terhadap produk berbasis mikrobioma.

Taruna juga mendorong keterlibatan ilmuwan muda, mahasiswa, inovator, regulator, dan pelaku industri. Generasi berikutnya, menurut dia, akan memegang peranan penting dalam menentukan arah perkembangan ilmu mikrobioma dan penerapannya dalam pelayanan kesehatan.

“Atas nama BPOM RI, kami mendukung inisiatif penting ini dan siap menjajaki kerja sama berkelanjutan dalam pertukaran ilmiah, peningkatan kapasitas, regulatory science, dan inovasi,” kata Taruna.

Taruna menyambut berdirinya Sunway Microbiome Centre yang dipimpin Prof. Low Teck Yew. Kehadiran pusat tersebut dinilai menjadi salah satu tonggak penting dalam penguatan ekosistem ilmu pengetahuan dan inovasi mikrobioma, bukan hanya bagi Malaysia, tetapi juga kawasan ASEAN.

Dalam agenda di Sunway University, Selangor, Malaysia, Taruna Ikrar didampingi Tri Asti Isnariani, Direktur Registrasi Obat BPOM RI; Ardiansyah, Kepala Bagian Rumah Tangga BPOM RI; serta Wachyudi Muchsin, Staf Khusus Kepala BPOM RI. Turut hadir Elfi Ikrar, Ketua Dharma Wanita Persatuan BPOM RI.

Taruna berharap Malaysia Microbiome Meeting berkembang menjadi platform kolaborasi berkelanjutan yang menghubungkan Malaysia, Indonesia, negara-negara ASEAN, dan komunitas mikrobioma internasional.

“Tidak ada satu institusi, disiplin ilmu, ataupun negara yang dapat membangun ekosistem mikrobioma secara efektif sendirian. Kolaborasi harus menjadi fondasi agar kemajuan ilmu pengetahuan dan inovasi pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi kesehatan masyarakat,” ujar Taruna.

(ADS)

Baca berita lainnya Harian.news di Google News