Taruna Ikrar ‘Penakluk Tiga Benua’ Kobarkan Mimpi 1000 Santri di Mataram: Bermimpilah Setinggi Langit, Jika pun Jatuh, Akan ada Diantara Bintang-bintang

Taruna Ikrar, Penakluk Tiga Benua, Kobarkan Mimpi 1.000 Santri di Mataram: “Bermimpilah setinggi langit. Jika pun jatuh, akan ada di antara bintang-bintang.”
Safari Pesantren Nurul Haramain menjadi momentum Kepala BPOM RI menanamkan semangat pendidikan, kepemimpinan, dan kepedulian lingkungan melalui gerakan sejuta pohon.
MATARAM, LOMBOK — Dari panggung ilmu pengetahuan internasional hingga ruang-ruang sederhana pendidikan pesantren, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., Ph.D., membawa pesan yang sama: masa depan besar selalu dimulai dari keberanian untuk bermimpi.
Pesan itulah yang mengemuka ketika Taruna Ikrar menggelar Safari Pesantren di Pondok Pesantren Nurul Haramain, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Kehadirannya disambut antusias sekitar 1.000 santri yang berkumpul untuk mendengarkan kisah inspiratif, perjalanan pendidikan, dan motivasi dari ilmuwan Indonesia yang telah berkiprah di berbagai belahan dunia.
Di hadapan para santri, Taruna mengutip sebuah ungkapan yang sarat makna tentang keberanian membangun cita-cita.
“Bermimpilah setinggi langit. Jika pun jatuh, akan jatuh di antara bintang-bintang.”
Ungkapan tersebut menjadi pesan utama Safari Pesantren, sekaligus ajakan kepada generasi muda untuk tidak membatasi masa depan hanya karena berasal dari daerah, lingkungan sederhana, atau memiliki keterbatasan kesempatan.
Dari Lombok, Mimpi Menembus Tiga Benua
Perjalanan akademik dan profesional Taruna Ikrar yang melintasi berbagai negara dan benua menjadi inspirasi tersendiri bagi para santri.
Sosok yang dikenal sebagai ilmuwan di bidang biomedis dan neurosains itu memiliki pengalaman panjang dalam dunia pendidikan, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan internasional sebelum dipercaya memimpin BPOM RI.
Kiprah lintas benua tersebut menjadi latar munculnya julukan inspiratif “Penakluk Tiga Benua”, yang menggambarkan keberanian seorang anak bangsa untuk melangkah melampaui batas geografis dan berkontribusi di panggung dunia.
Namun, di hadapan para santri Nurul Haramain, pesan yang dibawa bukan sekadar tentang pencapaian internasional, melainkan tentang proses panjang yang harus dilalui untuk meraih cita-cita.
Kesuksesan tidak lahir dalam satu malam. Ada disiplin, kerja keras, kegagalan, ketekunan, dan keberanian untuk terus belajar di balik setiap pencapaian.
Semangat itulah yang ingin ditanamkan kepada generasi muda pesantren.
Para santri diharapkan mampu melihat dunia sebagai ruang pengabdian yang terbuka luas. Mereka dapat menjadi dokter, ilmuwan, peneliti, akademisi, pengusaha, bahkan pemimpin dunia, tanpa harus meninggalkan nilai-nilai agama dan akhlak yang diperoleh selama menempuh pendidikan di pesantren.
Pesantren Bukan Batas, Melainkan Gerbang Menuju Dunia
Safari Pesantren tersebut sekaligus menegaskan pentingnya peran lembaga pendidikan Islam dalam menyiapkan generasi Indonesia yang unggul secara intelektual, kuat secara spiritual, dan tangguh menghadapi tantangan zaman.
Di tengah kemajuan kecerdasan buatan, bioteknologi, kedokteran presisi, dan transformasi digital, pesantren memiliki peluang besar untuk melahirkan sumber daya manusia yang mampu memadukan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai moral.
Santri masa kini tidak cukup hanya menjadi penonton perubahan dunia. Mereka perlu dipersiapkan untuk mengambil peran sebagai pencipta inovasi, penggerak perubahan, dan pemimpin masa depan.
Dalam konteks tersebut, pendidikan pesantren memiliki modal penting berupa kedisiplinan, kemandirian, ketekunan, serta pembentukan karakter yang menjadi fondasi kepemimpinan.
Kehadiran Taruna Ikrar di Nurul Haramain juga menjadi simbol bahwa jarak antara dunia pesantren dan pusat-pusat ilmu pengetahuan internasional sesungguhnya dapat dijembatani melalui pendidikan dan kesempatan yang lebih luas.
Dari pesantren di Lombok, mimpi menuju universitas-universitas terbaik dunia bukanlah sesuatu yang mustahil.
Menanam Pohon, Menanam Masa Depan
Selain memberikan motivasi kepada sekitar 1.000 santri, Taruna Ikrar turut melakukan penanaman pohon sebagai bagian dari program gerakan menanam sejuta pohon.
Kegiatan tersebut dilaksanakan bersama Ketua Yayasan Pondok Pesantren Nurul Haramain, Deputi Bidang Pengawasan Pangan Olahan BPOM RI Mohamad Kashuri, Staf Khusus Kepala BPOM RI dr. Wachyudi Muchsin, serta sejumlah pejabat eselon II dan III di lingkungan BPOM.
Penanaman pohon menjadi salah satu bagian penting dari Safari Pesantren, sekaligus menyampaikan pesan bahwa pembangunan sumber daya manusia harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Pohon yang ditanam hari ini mungkin belum memberikan keteduhan dalam waktu dekat. Namun, melalui perawatan dan kesabaran, pohon tersebut kelak dapat memberikan manfaat bagi banyak orang.
Filosofi yang sama berlaku dalam dunia pendidikan. Ilmu pengetahuan, karakter, dan cita-cita yang ditanamkan kepada para santri hari ini diharapkan tumbuh menjadi kekuatan besar bagi Indonesia pada masa mendatang.
Gerakan menanam sejuta pohon juga menjadi sarana pendidikan lingkungan yang relevan dengan tantangan perubahan iklim, kesehatan masyarakat, dan keberlanjutan kehidupan.
Lingkungan yang sehat merupakan salah satu fondasi penting bagi terwujudnya masyarakat yang sehat dan produktif.
Ketika Ilmu Pengetahuan Bertemu Nilai-Nilai Pesantren
Safari Pesantren Nurul Haramain menghadirkan pertemuan dua kekuatan penting dalam pembangunan bangsa, yakni ilmu pengetahuan dan pendidikan karakter.
Di satu sisi, pengalaman Taruna Ikrar dalam dunia sains internasional menunjukkan pentingnya penguasaan pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
Di sisi lain, tradisi pesantren memberikan fondasi spiritual dan moral agar kemajuan ilmu pengetahuan tetap berpihak pada kemanusiaan.
Perpaduan keduanya menjadi semakin relevan ketika Indonesia tengah mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
Generasi muda tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik yang tinggi, tetapi juga integritas, kepedulian sosial, kecintaan terhadap bangsa, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan global.
Karena itu, motivasi yang diberikan kepada para santri tidak berhenti pada dorongan untuk meraih kesuksesan pribadi. Lebih jauh, pendidikan diharapkan melahirkan generasi yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan dunia.
Seribu Santri, Sejuta Harapan
Antusiasme sekitar 1.000 santri Nurul Haramain menjadi gambaran besarnya harapan generasi muda untuk memperoleh inspirasi dan kesempatan membangun masa depan.
Di tengah suasana penuh semangat, Safari Pesantren tersebut menyatukan tiga pesan penting: keberanian bermimpi, ketekunan menuntut ilmu, dan tanggung jawab menjaga lingkungan.
Kunjungan Taruna Ikrar pun memiliki makna lebih luas daripada sekadar agenda silaturahmi seorang pejabat negara dengan komunitas pesantren.
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman global dan harapan lokal, antara perjalanan seorang ilmuwan Indonesia di panggung internasional dan cita-cita ribuan santri yang sedang mempersiapkan masa depannya.
Di Pondok Pesantren Nurul Haramain, pohon ditanam sebagai simbol kehidupan. Sementara itu, di benak para santri, semangat untuk meraih masa depan ditumbuhkan melalui pesan sederhana tentang keberanian bermimpi.
Sebab, dari pesantren di Lombok, bukan tidak mungkin kelak lahir ilmuwan kelas dunia, pemimpin bangsa, dan tokoh-tokoh besar yang membawa nama Indonesia melintasi tiga benua, bahkan lebih jauh lagi.
Dan semuanya dapat bermula dari satu keberanian: bermimpi setinggi langit.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News