Telat Input Data, 145 Siswa SMA Negeri 17 Makassar Terancang Tidak Ikut SNBP

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Kepala sekolah SMA Negeri 17 Abu Hanafi mengakui pihaknya terlambat menginput data siswa ke Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS).
Dampak, 145 siswa SMA Negeri 17 Makassar terpancang tidak mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Abu Hanafi menjelaskan, pihaknya terlambat mengunggah nilai siswa ke PDSS sebelum batas waktu yang ditentukan, yaitu 31 Januari. Akibatnya, akses ke sistem tertutup, dan para siswa yang memenuhi syarat tidak terdata untuk SNBP.
“Dari pihak kami yang terlambat, untuk sementara kami berupaya dan mudah-mudahan masih bisa. Kami upayakan jalurnya seperti itu dulu,” ujar Abu kepada wartawan.
Saat ini, pihak sekolah masih menunggu kepastian dari panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) terkait kemungkinan akses ulang ke PDSS agar data siswa dapat segera diunggah.
Akibat kesalahan ini, sebanyak 145 siswa dari total 360 siswa kelas 12 yang memenuhi syarat untuk SNBP kini berada dalam ketidakpastian.
“Jalur ini sangat penting bagi kami. Harapan besar sudah kami gantungkan pada SNBP, dan sekarang semuanya tidak jelas. Kami hanya ingin kepastian dan keadilan,” ungkap salah satu siswa.
Pihak sekolah berharap ada kebijakan perpanjangan waktu dari panitia SNPMB agar mereka dapat mengunggah nilai siswa dan memastikan mereka tetap bisa mengikuti SNBP.
Sebelumnya, Puluhan siswa SMA Negeri 17 Makassar bersama orang tua mereka menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan (Sulsel).
Berdasarkan video yang berdurasi 57 detik tersebut, sejumlah siswa dan siswi yang masih mengunakan seragam sekolah nampak memenuhi ruang kantor Disdik Makassar.
Mereka memprotes keterlambatan pihak sekolah dalam menginput data ke Pangkalan Data Sekolah dan Siswa (PDSS), yang mengancam hak mereka untuk mengikuti Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP).
Dalam aksi tersebut, perwakilan siswa sempat menemui pejabat Dinas Pendidikan Sulsel untuk menyampaikan keresahan mereka. Mereka merasa dirugikan karena kesalahan administratif sekolah yang bisa berdampak pada masa depan mereka.
“Kami sudah belajar keras selama ini dan berharap bisa masuk perguruan tinggi melalui jalur SNBP. Tapi sekarang harapan itu terancam hilang hanya karena kelalaian pihak sekolah,” ujar salah satu siswi sambil menangis saat menyampaikan protes mereka.
Tak hanya itu, perwakilan siswa pun mengaku sangat kecewa karena merasa impian yang selama ini sudah mereka bentuk terasa pupus, karena situasi yang tengah dihadapi.
“Bapak ini bukan cuma untuk saya tapi coba bapak bayangkan impian kami yang sebentar lagi mau terwujud harus pupus karena tidak bisa ikut di jalur SNBP,” ujarnya dengan terisak-isak.
Penulis: Nursinta
Baca berita lainnya Harian.news di Google News