Tim Inti TP2CI Sub Lanskap 73 Cenrana Gelar Rembuk Ide: Perkuat Pengelolaan Lahan Berkelanjutan di Bone

HARIAN.NEWS, BONE – Tim Inti Tapak Percontohan Pertanian Cerdas Iklim (TP2CI) Sub Lanskap 73 kembali menggelar sesi ketiga rembuk ide di Kantor Desa Pallime, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Bone.
Kegiatan yang difasilitasi CIFOR–ICRAF ini mengangkat tema, “Mengelola Bentang Lahan Secara Berkelanjutan di Tingkat Lanskap melalui Tapak Percontohan Pertanian Cerdas Iklim.”
Pertemuan tersebut menjadi kelanjutan dari sesi pertama dan kedua yang berlangsung pekan sebelumnya.
Peserta berasal dari unsur petani pelopor, petani pelatih, serta tim pengelola TP2CI dari tiga desa, Ajallasse, Pusungge, dan Pallime. Mereka dihimpun untuk merumuskan strategi pengelolaan tapak, pengembangan kegiatan edukasi, hingga inovasi teknis lapangan yang nantinya diterapkan di wilayah masing-masing.
Kegiatan ini turut dihadiri perwakilan ICRAF Bogor Yuya Saputri, Koordinator ICRAF Sulsel Muh. Syahrir, serta unsur pemerintah daerah seperti Bappeda Bone dan Dinas Perikanan Kabupaten Bone, yang menegaskan komitmen lintas sektor dalam penguatan tata kelola lahan berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Muh. Syahrir menjelaskan bahwa kehadiran ICRAF di Sub Lanskap 73 menjadi bagian dari upaya nasional mengatasi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Ia menekankan bahwa Bone, khususnya wilayah pesisir tambak di Cenrana, termasuk daerah yang mulai merasakan peningkatan salinitas, cuaca ekstrem, hingga ketidakpastian musim.
“ICRAF ingin memastikan petani memahami dampak perubahan iklim dan mampu menerapkan praktik pertanian cerdas iklim. Di Cenrana terdapat tiga tapak percontohan yang menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat,” ujarnya.
Merujuk data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), wilayah Sulawesi Selatan mengalami kenaikan suhu rata-rata 0,8°C dalam dua dekade terakhir, serta tren anomali musim yang berdampak pada produktivitas pertanian dan perikanan.
Hal ini membuat pendekatan Pertanian Cerdas Iklim (Climate-Smart Agriculture/CSA) semakin relevan diterapkan.
Dalam sesi berikutnya, Yuya Saputri memaparkan perkembangan Portal TP2CI, platform digital yang dirancang untuk mempermudah pengelolaan informasi di seluruh tapak percontohan.
Menurut dia, kehadiran portal tersebut memungkinkan integrasi dokumentasi dan laporan berbasis data, mulai dari, perkembangan kegiatan petani, inovasi budidaya, pengelolaan lahan dan tambak, capaian edukasi, hingga hambatan teknis yang ditemukan tim lapangan.
“Portal TP2CI diharapkan menjadi pusat informasi yang mencakup data tapak, cerita keberhasilan petani, hingga tantangan yang dihadapi di lapangan. Platform ini penting untuk memudahkan proses pemantauan dan pembelajaran lintas desa maupun daerah,” jelas Yuya.
ICRAF juga mendorong penggunaan platform tersebut untuk memperkuat transparansi data dan memudahkan replikasi model TP2CI ke wilayah lain di Indonesia.
Penggunaan Model Canvas Permudah Penyusunan Konsep Pengelolaan Tapak
Dalam sesi diskusi kelompok, peserta dari tiga desa memaparkan ide-ide strategis, mulai dari perbaikan tata kelola air tambak, diversifikasi komoditas, pengendalian hama terpadu, pemanfaatan lahan tidur, hingga rencana penguatan kelompok pelopor.
Indra, anggota Tim Inti TP2CI Sub Lanskap 73, menyebut bahwa penggunaan canvas model memberi struktur yang jelas dalam mengidentifikasi peluang, tantangan, hingga rencana aksi.
“Canvas model sangat membantu kami menyusun konsep dan ide pengelolaan TP2CI, terutama dalam memperkuat edukasi kepada petani dan petambak, baik di Bone maupun daerah lainnya,” ujarnya.
Metode pengembangan ide tersebut dinilai efektif karena menempatkan petani sebagai subjek utama dalam penyusunan rencana kerja, bukan hanya sebagai penerima program.
Sinergi Pemerintah dan Petani untuk Lanskap Berkelanjutan
Perwakilan Bappeda Bone dalam kesempatan ini menegaskan bahwa penggunaan pendekatan lanskap sangat penting bagi Bone yang memiliki wilayah peralihan antara pertanian darat dan pesisir tambak.
Sementara perwakilan Dinas Perikanan Bone menekankan perlunya adaptasi teknologi budidaya menghadapi ancaman perubahan iklim seperti banjir rob, intrusi air laut, dan serangan penyakit pada komoditas tambak.
Rembuk ide ini menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi multipihak, termasuk pemerintah desa, kelompok tani, penyuluh, dan organisasi pendamping.
Harapan Pengembangan TP2CI ke Depan
Melalui pertemuan ini, TP2CI Sub Lanskap 73 diharapkan memiliki peta jalan pengelolaan tapak yang lebih terukur. Beberapa output penting yang akan ditindaklanjuti meliputi:
penyusunan rencana edukasi petani berbasis kebutuhan tapak, penguatan peran petani pelopor sebagai agen perubahan, pengembangan praktik budidaya yang adaptif terhadap perubahan iklim, serta penyusunan strategi monitoring tapak berbasis data dan portal TP2CI.
Kegiatan ditutup dengan penyepakatan rencana tindak lanjut yang akan dilaksanakan bersama pada awal tahun 2026.
Pertemuan rembuk ide ini menegaskan komitmen TP2CI, ICRAF, dan pemerintah daerah dalam mewujudkan pengelolaan bentang lahan yang berkelanjutan dan adaptif, sebagai respon nyata terhadap perubahan iklim yang semakin berdampak pada sektor pertanian dan perikanan lokal.
Baca berita lainnya Harian.news di Google News