Logo Harian.news

Tutup Usia, Bagaimana Nasib Kasus Lukas Enembe? Ini Jawaban KPK

Editor : Rasdianah Rabu, 27 Desember 2023 11:53
Mantan Gubernur Papua, Lukas Enembe. Foto: ist
Mantan Gubernur Papua, Lukas Enembe. Foto: ist

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Narapidana korupsi Mantan Gubernur Lukas Enembe diketahui tutup usia pada Selasa (26/12/2023) kemarin. Lantas bagaimana nasib kasusnya yang tengah berjalan saat ini?

Dikonfirmasi mengenal hal ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengatakan proses hukum terkait kasus suap dan gratifikasi serta Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dengan terdakwa Enembe tersebut berakhir. Akan tetapi, negara masih mempunyai hak untuk menuntut ganti rugi.

“Sepengetahuan saya, dengan meninggalnya tersangka, maka hak menuntut, baik dalam perkara tindak pidana korupsi maupun TPPU, berakhir demi hukum,” kata Wakil Ketua KPK Johanis Tanak dikutip dari detikcom, Rabu (27/12/2023).

Baca Juga : Gelar Rakor, KPK Bakal Perkuat Peran APIP di Sulsel

Tanak menyebutkan, namun dalam hal ini negara masih mempunyai hak menuntut ganti rugi keuangan negara melalui gugatan perdata, dengan cara KPK menyerahkan seluruh berkas Lukas ke jaksa pengacara negara (JPN) agar dapat mengajukan gugatan kerugian negara.

“Untuk melaksanakan hak menuntut kerugian keuangan negara melalui proses gugatan dalam hukum perdata, KPK harus menyerahkan seluruh berkas perkara almarhum Enembe kepada kejaksaan agar jaksa pengacara negara (JPN) dapat mengajukan gugatan ganti kerugian keuangan negara melalui pengadilan negeri,” imbuhnya.

Untuk diketahui, Enembe merupakan terdakwa kasus suap dan gratifikasi. Kabar terbaru, hukuman Lukas Enembe diperberat PT Jakarta dari 8 tahun penjara menjadi 10 tahun penjara. Enembe terbukti menerima suap dan gratifikasi puluhan miliar rupiah.

Baca Juga : Luncurkan Aplikasi APIP TA’, Danny Pomanto: Optimalisasi Pengawasan Internal dan Pencegahan Korupsi

“Menjatuhkan pidana kepada Terdakwa selama 10 tahun dengan denda Rp 1 miliar subsider 4 bulan kurungan,” demikian bunyi salinan putusan banding yang dilansir website PT Jakarta.

Duduk sebagai ketua majelis Herri Swantoro, yang juga Ketua PT Jakarta. Adapun anggota majelis adalah Pontas Efendi, Sumpeno, Anthon Saragih, dan Hotma Maya Marbun. Lukas Enembe divonis bersalah karena korupsi bersama-sama dan menerima gratifikasi.

“Membebankan uang pengganti Rp 47.833.485.350,00 dengan ketentuan, jika terpidana tidak membayar uang pengganti dalam waktu 1 bulan sejak putusan berkekuatan hukum tetap, maka harta bendanya disita dan dilelang jaksa. Dalam hal tidak mempunyai harta benda yang mencukupi dipidana 5 tahun,” ujar majelis.

Baca Juga : 2 Kaki Tangan SYL Divonis 4 Tahun Penjara

Majelis banding mengembalikan aset yang disita di Jalan S Condronegoro, Jayapura Utara, karena pemegang haknya adalah Rijanto Lakka.

“Oleh karena jumlah yang diterima Terdakwa, secara keseluruhan, baik suap maupun gratifikasi, lebih banyak yang dihitung oleh pengadilan tingkat pertama, maka sudah selayaknya akan mempengaruhi pidana yang harus dijatuhkan kepada Terdakwa dan menurut rasa keadilan sudah selayaknya jika Terdakwa dijatuhi pidana yang lebih berat,” ucap majelis.

Pengacara Enembe tidak terima dengan itu, dan berniat mengajukan kasasi.

Baca Juga : Ketuk Palu! SYL Divonis 10 Tahun Penjara: Wajib Bayar Rp 14 M Plus 30.000 USD

Baca berita lainnya Harian.news di Google News

Redaksi Harian.news menerima naskah laporan citizen (citizen report). Silahkan kirim ke email: redaksi@harian.news atau Whatsapp 081243114943

Follow Social Media Kami

KomentarAnda