Waspada El Nino, Gowa Gandeng 8 Daerah Jaga Ketahanan Pangan

HARIAN.NEWS, MAKASSAR – Menghadapi ancaman fenomena El Nino pada Musim Tanam II tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Gowa tidak mau mengambil risiko. Sebagai salah satu lumbung pangan utama di Sulawesi Selatan, Gowa mengambil langkah proaktif dengan menggandeng delapan daerah tetangganya untuk membangun sinergi ketahanan pangan lintas wilayah.
Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa, Andy Azis Peter, menegaskan bahwa cuaca ekstrem bukan sekadar masalah lokal. Ketergantungan antar-wilayah terhadap sumber daya air memaksa semua pihak untuk merumuskan strategi bersama.
“Gowa dikelilingi delapan daerah. Tantangan cuaca ekstrem seperti El Nino tidak bisa kita hadapi sendiri. Kami butuh persepsi dan langkah bersama dengan Makassar, Maros, Takalar, dan daerah lainnya agar pasokan pangan aman,” ujar Andy dalam sosialisasi alokasi air irigasi di Makassar, Kamis (7/5/2026).
Di balik rencana besar tersebut, Pemkab Gowa menghadapi PR berat di lapangan. Andy membeberkan dua ancaman nyata yang bisa menggagalkan upaya ketahanan pangan.
Pertama, laju alih fungsi lahan sawah yang mengkhawatirkan. Setiap tahunnya, Gowa kehilangan lahan produktif seluas 100 hingga 150 hektare. Kedua, buruknya infrastruktur irigasi. Sistem jaringan di Daerah Irigasi (DI) strategis seperti DI Kampili, DI Bissua, dan DI Bili-Bili masih mengalami kebocoran hingga 20 hingga 30 persen.
“Pola cuaca tak menentu menuntut kita mengelola setiap tetes air. Kita harus tekan angka kebocoran ini sekecil mungkin agar air benar-benar sampai ke sawah petani,” tegas Andy.
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Pemkab Gowa bersama Komisi Irigasi menetapkan tiga pilar utama menjelang Musim Tanam II 2026. Yakni, menyelaraskan data prakiraan curah hujan, menetapkan alokasi air irigasi secara ketat, serta menyusun rencana tata tanam yang realistis.
Ketua Komisi Irigasi Kabupaten Gowa, Sujjadan, menekankan bahwa penguatan koordinasi lintas sektor adalah kunci suksesnya strategi ini.
“Forum ini momentum menyatukan langkah. Kebijakan pengelolaan air dan pola tanam harus benar-benar berpihak kepada petani. Kami harap sosialisasi ini menjadi pedoman teknis bersama agar produksi pangan Gowa tetap berdaya saing meski dilanda El Nino,” pungkas Sujjadan.
Dengan manajemen air yang tepat dan batasan tegas terhadap alih fungsi lahan, Gowa berupaya membuktikan bahwa ancaman iklim bisa dikendalikan melalui koordinasi yang terukur dan berbasis data. ***
Baca berita lainnya Harian.news di Google News
Penulis : YUSRIZAL KAMARUDDIN